Monday, 15 March 2010

INTELLIGENTIA

People say, love is so objective.
Althought when we talk about the feeling it self, we used to be so subjective, self oriented, selfish, and irrational.
It’s no matter if u’re so mature, well, or -intelligent.
When it comes to love, who really cares about the right or wrong, the logical, the rules?
All we know is just loving and loving, although sometimes it hurts so much.
But we’d rather stand to live in pain than stand to live with no air rite?
The love, is the air.
How about you?


Cherry
Malam mengizinkan gelap mendisfungsikan lensa mata. Tapi aku tidak peduli. Bukan birunya langit yang ingin kulihat, bukan pula mencari sesuatu benda yang hilang. Bukan karena hal-hal tersebut aku membuka mata. Aku membuka mata hanya karena aku kehilangan kemampuan untuk memblokade fungsi saraf motorik dan sensorik agar dapat tertidur.
Aku lelah dengan semua ini. Hal ini berlangsung kurang lebih 168 jam. Bukan berarti aku tidak tidur sama sekali selama itu. Aku tidur, hanya saja tidak nyenyak dan tidak lama. Aku terlalu berpikir untuk mampu beristirahat. Semua ini dikarenakan karena dia. Manusia yang selama ini terlalu banyak menggangguku. Dia tidak menggangguku dengan memainkan jepretan karet, atau menyetel musik keras-keras saat aku sedang mencoba berkonsentrasi terhadap sebuah buku konsep yuridisme. Kalau boleh memilih, aku memilih ia menggangguku dengan cara seperti itu. Tapi sayangnya, ia menggangguku dengan cara yang sangat tidak general. Ia menggangguku dengan diam.
Aku tidak pernah memilih untuk mengenalnya. Permainan ruang dan waktu yang sanggup mempertemukan dua garis cakrawala, tentunya juga mampu mempertemukan aku dan dia, meskipun aku dan dia sangat berbeda. Ketika dua buah konsep yang abstrak disatukan, tentunya sulit ditemukan korelasinya. Itu mengapa aku dan dia susah sekali untuk bersama. Jangankan bersama, nampaknya untuk membicarakan suatu obrolan sambil makan siang pun, kita nggak akan pernah bisa. Kalau kita kutub, kita adalah kutub yang sama, jadi saling tolak-menolak.
Aku mencoba memejamkan mata, namun masih belum bisa mengistirahatkan otakku. Akhirnya aku mencoba pura-pura tertidur. Meskipun aku tidak tahu berpura-pura pada siapa, karena aku sedang sendiri. Aku mungkin berpura-pura pada diri sendiri, seperti yang selama ini selalu kulakukan. Karena selama ini, aku memang selalu berpura-pura, menjadi Chery Amelia, siswa kelas 2 SD.
Aku bukan manusia pada taraf perkembangan early adolesence yang mencoba untuk gokil dengan pura-pura menjadi anak kecil. Aku juga bukan detektif cilik yang diberi ramuan khusus hingga tubuhnya mengecil seperti komik yang biasa dibaca teman sebayaku. Aku benar-benar kelas 2 SD, berusia 7 tahun. Aku bertubuh seperti anak sesusiaku, menyukai es krim dan permen. Satu-satunya yang membedakanku dari anak lain adalah dengan adanya seorang doktor psikolog yang menyatakan IQ ku bernilai 180.
Suatu angka itu adalah mutlak. Kata ibuku, angka itu adalah berkah dari tuhan, suatu anugrah yang harus disyukuri. Kata Ibu, banyak sekali anak seumuranku yang menginginkan diberi karunia otak secerdas aku. Kata Ibu, tidak semua anak seumuranku mampu membaca novel Dan Brown berbahasa Inggris dalam waktu sehari dan mampu menceritakannya kembali dengan lancar seperti aku. Tidak semua anak seumuran aku mampu dengan lancar memainkan denting piano debussy hanya dengan tiga kali mendengarkan CD rekamannya. Sebaliknya, menurutku itu adalah hal biasa, aku tidak menemukan keanehan dalam kemampuan-kemampuan itu. Hal-hal tersebut juga tidak bepengaruh banyak dalam struktur kehidupanku. Justru masalah yang kualami adalah masalah afeksi yang berkembang jauh lebih cepat dibanding fase perkembanganku yang seharusnya, dan siapakah subjek perasaan afeksi itu. Subjek perasaan afeksi itu adalah laki-laki berusia 21 tahun, bernama Mikael Hasya Algero.
Awal aku mengenal Mikael? Gampang, ia adalah mahasiswa kedokteran yang berniat mengambil speasialis psikiatri. Mendengar kasusku, ia sangat tertarik untuk membuat sebuah studi kasus penelitian mengenai aku. Hormon serotonin menguasai otakku, semenjak pertama melihat Mikael tersenyum. Hal itu terjadi begitu saja. Spontanitas, tanpa aba-aba. Saat itulah pertama kali aku percaya akan kepastian sesuatu yang kasatmata selain ilmu pasti. Dalam perasaan ini tidak ada jaminan kemutlakan, karena tidak ada rumus berangka untuk memecahkan problemnya. Namun entah mengapa, aku begitu yakin, perasaan ini benar-benar ada.
Jika ditanya, apakah yang istimewa dari seorang Mikael? Aku tidak bisa menjawabnya, karena menurutku, Mikael adalah simbol kesempurnaan. Ia adalah kesempurnaan itu sendiri, sehingga aku tidak bisa menyebutkan partikel-partikel kecil yang membentuk kesatuan kesempurnaan itu. Kalau kisah hidupku ini adalah sebuah dongeng, maka dari awal sebelum cerita ini dimulai aku memutuskan bahwa Mikael adalah pemeran sang pangeran. Heroik, memiliki fisik yang tak bercacat sama sekali, berkuasa dan cerdas. Namun, ketika aku disuruh memilih pemeran tuan putri, sayangnya tidak akan kuperankan sendiri. Sudah ada Putri untuk sang Pangeran, namanya Aurea Frigida.
Menurutku, Aurea ini juga merupakan simbolik kesempurnaan kaum hawa. Dia cantik luar biasa, percaya diri, lugas dan juga cerdas. Satu-satunya yang kurang sempurna darinya adalah nama belakangnya. Frigida, jelas-jelas bukan nama marga. Dan belakangan aku tahu dari sebuah buku, bahwa frigid (yang kuyakini sebagai kata dasar asal-usul kata frigida) berarti disfungsi seksual . Aku akan bersyukur kalau Frigida benar-benar frigid, karena itu berarti ia takkan mampu memenuhi kebutuhan biologis Mikael (jika mereka menikah nanti).
Aurea Frigida sama sekali bukan wanita yang kamu harapkan untuk menjadi rival dalam masalah pria (apalagi, jika bahkan kamu belum bisa disebut wanita seperti aku). Wajahnya begitu sempurna, dengan alis yang melengkung cantik sempurna, kelopak mata yang dalam, bulu mata yang lentik dan panjang, hidung yang mancung, bibir yang penuh dan menggoda, rahang yang kuat dan tubuh yang tinggi langsing dengan lekukan sempurna. Ia mahasiswi psikologi yang membantu Mikael dalam penelitiannya tentang sebuah keunikan mekanisme alam: aku.
Entah, apakah aku ini di mata Mikael. Mungkin adik, mungkin teman, atau mungkin juga subjek penelitian yang direkam dalam memori sekedar sebagai huruf S stands for ’subject’ (bahkan tidak dianggap sebagai manusia dengan nama).
”Chery, Chery, Are u still ’here and now’?”
Aku tersadar dari lamunanku. Ah, lagi-lagi. Imajinasiku yang berlebih selalu membuatku merasa malu. Aku sering mengalami concentration disorder, kesulitan untuk fokus ke dalam current situation karena daya khayalku yang begitu kompleks bagaikan jutaan jalinan syaraf yang bercabang ke mana-mana. Rasa malu ini menjadi-jadi, karena yang bertanya adalah Mikael, dengan sebuah tangannya menyentuh dahiku dengan lembut. Sentuhannya membuat jantungku berdegup semakin kencang dan sulit bernafas, walau aku tahu sentuhannya bukanlah percobaan stimulus untuk sebuah respon akan rangsang.
”Mmm, i’m here.” jawabku, singkat, tidak berani mengangkat wajahku untuk memandang Mikael
“Kamu coba deh, pecahkan soal ini.” Mikael memberikan secarik kertas ke hadapan mukaku. Mikael biasa melakukan hal ini. Dia memberiku soal-soal bodoh yang sangat mudah kukerjakan, tapi entah mengapa meskipun ia tahu bagiku itu hal yang sangat mudah, dia selalu tampak puas dan senang tiap kali aku menyelesaikan satu soal. Hanya itu yang ia peduli. Ia tidak peduli kepada hal-hal semacam kakiku yang kugerak-gerakkan karena bosan atau karena aku pura-pura menguap berkali-kali.
Aku mulai bosan, menjadi sebuah subjek praktikum yang eksistensi manusiawinya diabaikan. Kalau biasanya, aku mengerjakan soal-soal dengan santai dan pura-pura sedikit berpikir, sekarang aku hanya melihatnya sekilas dan menjawab, “3,04.”
“Apa?”tanya Mikael, bingung. Mengerutkan dahi.
“Jawabannya 3,04.”
“Tapi kamu belum menghitungnya.”
“Aku sudah menghitungnya di dalam hati. Aku tidak perlu terlalu banyak mencoret-coret seperti Frigid.”
Aku berkata begini, karena setiap kali Frigid mencocokkan hasil hitunganku, ia membutuhkan kalkulator, buku rumus dan hitung-hitungan lengkap. Mungkin eksakta memang bukan bidangnya.
Mikael mengambil kertas di tanganku, berpikir sebentar dan tersenyum, “Brilian.”
“Coba kamu pilih kata yang lain.”
Mikael mengerutkan kening, “Maksudnya?”
Kadang aku merasa, meskipun Mikael selalu tampak serba canggih dan pintar, aku lebih pintar daripada dia.
“Kata lain selain brilian. Kamu selalu berkata hal yang sama padaku.”
Mikael tertawa, kemudian mengacak-acak rambutku,” Karena kamu memang brilian.”
Aku tidak suka Mikael mengacak-acak rambutku. Itu berarti, ia masih memperlakukan aku seperti anak-anak. Ia tidak pernah berani mengacak-acak rambut Frigid yang selalu berbau hairspray. Aku tahu, itu berarti karena Mikael lebih memilih untuk melakukan stimulus lain yang lebih ‘dewasa’ terhadap Frigid, seperti..
“Honey, sorry I’m late.” bisik Frigid mesra di telinga Mikael, sejurus kemudian Mikael merangkul pinggang rampingnya, kemudian Frigid mencium pipinya.
Aku mendengar Frigid berbisik, “Seharusnya kita nggak begini di depan anak kecil.”
Aku benci Frigid. Setidaknya meskipun Mikael juga memperlakukan aku seperti anak kecil, ia tidak pernah menyebut kata ‘anak kecil’ yang langsung tertangkap telingaku.
Demi Tuhan, aku berharap ia benar-benar frigid.
Frigid tersenyum ke arahku, berjalan mendekatiku. Mukaku sangat pahit dan malas. Aku berharap memiliki summon tertentu yang mampu menyebabkan ia terlempar jauh-jauh dariku. Aku benci bau parfum Angel Thierry Mugler nya, meskipun sebelum mengenalnya aku menyukai bau itu. Aku tidak suka berada dekat dengannya, hal itu menganggu keseimbangan mentalku. Ini tidak boleh terjadi, karena aku mendengar, bahwa keberhasilan penelitian didukung penuh oleh kenyamanan subjek. Akhirnya, Frigid berhenti tepat di depanku. Wajahnya tersenyum bagai malaikat, dan ia mengelus pipiku dengan kukunya yang panjang-panjang dan berwarna pink lotus, “Kamu pasti capai dan lapar. Mau es krim?”
Aku menggeleng. Aku tidak mau es krim. Aku ingin pacarmu.
“Trus maunya apa, cutie?” tanya Frigid.
Aku menjawab dengan menggeleng lagi. Aku malas berbicara dengan dia. Aku malas diganggu olehnya dan aku malas harus berinteraksi dengannya.
“Anything, honey. Nggak usah malu-malu, sebut aja,” Frigid terus membujukku. Menurutku kepekaan intrapersonalnya bernilai minus. Aku tidak malu-malu sama sekali. Aku benar-benar tidak ingin apa-apa. Aku takut karena ia mengira aku malu-malu, Mikael juga akan berpikir aku malu-malu. Aku benci dikira malu-malu, karena hal itu sangat tidak keren. Akhirnya aku putuskan sengaja untuk mengerjainya.
“Aku mau Green Tea Crème Brule.” jawabku, akhirnya. Lugas.
“Haduh, kalau itu susah , cutie. Di deket sini nggak ada yang jual.” Frigid menggelengkan kepalanya, memasang ekspresi wajah kecewa.
“Tadi katanya, I can ask for anything.” protesku.
“Tapi itu nggak ada di sini, sayang. Kamu tetap boleh meminta apa saja, tapi yang memungkinkan. Kalau yang kamu minta sayang, nggak di semua tempat ada. Apalagi di kampus.” Frigid terus beragumen, tidak mau kalah.
“Crème Brule bukan sesuatu yang tidak mungkin seperti spaghetti tikus kan? Itupun, aku rasa spaghetti tikus masih mungkin.” kubalas lagi.
Frigid hendak membuka mulut, ketika Mikael berdiplomasi,“Kalau kamu memang pengen itu, ayo, kita ke Takigawa Resto aja. Crème Brule nya enak.”
Frigid menghela nafas panjang, “Okay. I understand. Arthur Schopenhauer once said, a genius is a person in whom intellect predominates over "will" much more than within the average person.”
Aku benci Frigid. Ia berkata begitu seakan aku tidak bisa berbahasa Inggris dan hanya Mikael yang mengerti arti kalimatnya. Padahal, aku yakin, bahasa Inggrisku lebih baik daripada dia.
. Salah satu kesulitan terbesar dalam hidupku adalah struktur pikiranku yang bersebrangan dengan fisikku membuatku tidak tepat berada di kalangan manapun. Baik kalangan yang lebih dewasa, ataupun kalangan seumuranku. Aku masih ingat jelas sebuah peristiwa waktu aku TK, saat itu aku bersekolah di TK Internasional yang mengkolaborasikan berbagai budaya untuk berampingan dalam suatu sesi perkembangan manusia.
Aku dan teman-teman diminta Guru untuk menceritakan tentang pengalaman liburan masing-masing.
Giliran pertama bercerita, adalah seorang anak yang paling dominan dan bossy satu kelas, bernama Paramitha. Ia adalah gadis kecil keturunan India, matanya besar, bulu matanya lentik, kulitnya kecoklatan, dan warna rambutnya hitam alami. Wajahnya sangat dewasa dibandingkan usianya. Ia adalah idola kelas TK waktu itu, yang didominasi oleh pipi-pipi kemerahan dan muka bodoh. Saat Paramitha bercerita, semua anak memperhatikan dengan ekspresi kagum.
“Liburan kemarin, kami sekeluarga ke India. Di sana tempat nenekku berada. Kami sekeluarga mengikuti acara Deepavali di tempat nenek. Kami memakai busana sari, berbagi permen warna-warni dan memainkan kembang api. Kembang apinya sangat bagus, dan semua orang kagum melihatnya.”
Setiap kalimat yang diucapkan Paramitha, mengundang reaksi decak kagum dari para siswa lain. Nampaknya, ada orang yang terlahir dengan charisma tinggi, sehingga apapun yang keluar dari bibirnya tampak istimewa di mata orang lain. Orang-orang seperti ini biasanya, berpotensi menjasi pemimpin. Karena ia memiliki sesuatu yang mampu membuat orang tertarik, senang dan percaya.
Cerita kedua, seorang anak putih berpipi bulat bernama Rina. Ia adalah anak yang lugu dan sangat hobi makan. Ketika ia sedih, ia akan makan. Ketika ia menangis, ia akan makan. Ketika ia senang, ia akan makan dua kali lipat. Ia sangat dimanja oleh papa-mamanya. Setiap ia ke TK, ia akan selalu ditemani baby-sitter yang membawakannya berbagi bekal dan senantiasa setia mengusap belepotan makanan di bibirnya.
“Liburan kemarin kami sekeluarga ke Yogyakarta. Kami mencoba gudeg yang sangat manis. Ketika kami ke Candi Borobudur, kami mencoba soto yang enak sekali. Aku juga mencoba sate kerang. Kata mama, tidak boleh terlalu banyak makan kerang karena bisa beracun.”
Anak-anak tampak mulai gelisah mendengar begitu banyak nama makanan disebutkan, karena memang jarum jam sudah mendekati jam 10, yakni waktu istirahat yang biasanya ada pembagian snack. Bahkan kemudian satu anak yang bodoh yang selalu meneteskan air liur bernama Haga langsung menangis , “Hua…..laperrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr!!!!!!”
Kemudian tiba giliranku bercerita.
“Cherry Amelia.” beberapa anak terlihat bosan. Wajar, aku bukanlah salah satu siswi TK favorit seperti Paramitha. Dalam suatu komunitas. aku biasa menjadi individu yang paling diam, yang paling tidak menarik. Hanya diraba eksistensinya melalui jumlah anggota komunitas yang bertambah satu. Anak TK sangat ekspresif, jadi apapun yang tersirat dalam otak mereka, mampu terbaca dengan sangat gamblang. Aku melangkahkan kakiku dengan berat, aku bukan orang yang suka tampil. Aku benci harus berekspektasi mengenai respon dari khalayak yang biasanya buruk, apalagi menghadapinya.
Ketika aku berdiri di tengah-tengah lingkaran, aku merasa semua mata menatapku, bersiap untuk menerkamku dan menginginkan posisiku cepat digantikan orang lain.
“Cherry, ceritakan pengalamanmu waktu liburan,” pinta Kak Syella, sang guru TK, dengan wajah bersalah yang seakan berpikir , ‘kasian sekali anak ini, tentunya ia tidak memiliki apapun di otaknya untuk diceritakan. Aku menyesal memaksanya maju.’Sebenarnya ia benar, liburan kemarin aku tidak ke mana-mana, karena ayah yang seorang researcher untuk perusahaan luar negri memang sedang tidak di Indonesia, sedangkan Ibu yang seorang pengacara sedang sibuk menangani kasus.
Aku masih diam seribu bahasa. Bukan karena aku tidak sanggup menciptakan satupun kalimat, namun karena aku takut mereka tidak mengerti apa yang akan aku ucapkan. Lalu lintas pikiranku seperti terowongan gelap yang sulit diraba, apalagi dimasuki. Aku paham sekali akan itu.
“ Ceritakan apa saja yang kamu lihat liburan kemarin.” bisik Kak Syella, mencoba membantu.
“Aku melihat kehidupan.”
Kak Syella menatapku bingung, “Eh?”
Beberapa anak mulai tertarik, kemudian memperhatikanku. Sebelumnya beberapa dari mereka mungkin membahas berapa dot susu yang mereka habiskan sehari.
“Aku mulai meraba kehidupan, aku mulai menemukan nafasnya.” tambahku lagi, dengan suara yang pelan, sampai Haga si tukang meneteskan air liur pun berprotes sambil akan menangis lagi,“Ihhhhh, Haga nggak bisa dengelllllll….”
“Emangnya tadinya kamu nggak bernafas?” tanya Chacha, anak dengan gaun berumbai bermotif polkadot yang menurutku menambah transparasi kelemahan otaknya.
Hanya Kak Syella, yang menatapku dengan pandangan seperti melihat hantu. Nampaknya ia mulai menyadari keganjilan ciptaan tuhan yang mutlak di depannya.
“Saat liburan, aku mengenal seorang anak, yang berumur sama dengan kita. Namanya Tifa.” aku memulai cerita dengan nada yang seperti mendongeng.Beberapa anak jelas-jelas memusatkan titik konsentrasinya kepadaku, anak TK yang penuh rasa ingin tahu mudah tertarik pada cerita Mungkin mereka berharap Tifa ini adalah itik buruk rupa, yang akan menciptakan rangkaian kalimat yang menyentuh hati, namun happy ending pada cerita. Sebagian lagi mungkin berharap Tifa ini adalah nama beken dari Cinderella, sehingga mereka akan mendapati hilangnya sepatu kaca atau pangeran yang tinggal di istana.
“Tifa adalah anak berusia 4 tahun, sama seperti kita. Ia suka bermain boneka. Ia selalu membawa boneka kelinci kesayangannya, ; yang diberi nama Ruru; kemana-mana. Ketika ia mandi, ketika ia menyanyi, atau ketika ia sedang tidur. Sayang sekali, berbeda dari kita, ia tidak pernah tahu boneka seperti apa yang ia pegang. Warna apa boneka yang sudah lusuh itu. Tidak hanya boneka itu, ia tidak mengerti wajah mamanya seperti apa. Ia tidak mengerti baju seperti apa yang dipakaikan di tubuhnya seperti apa. Karena itu, ia menjadi anak yang baik. Lebih baik daripada kita semua. Ia tidak pernah protes ketika dipakaikan baju yang tidak ia sukai. Ia tidak pernah membenci apapun, karena melihatnya saja tidak bisa.
Suatu ketika, orang tuanya pulang membawakan dua maninan. Yang satu berwarna biru, satu berwarna kuning.Kemudian adik Tifa, bertanya padanya, ‘Kakak, kakak mau warna biru atau kuning?’Tifa tidak menjawab, ia tidak paham maksud adiknya.
Ia tidak mengerti apa itu biru dan apa itu kuning. Baginya, warna itu tidak ada.
Ia buta. Ia buta semenjak umur 2 tahun, karena sebuah penyakit yang tidak diketahui, karena orang tuanya tidak punya uang untuk periksa ke dokter.
Orang tuanya menyesal, mengapa mereka belum pernah mengenalkan warna biru dan kuning kepada Tifa sebelum matanya mengalami kebutaan. Karena kini Tifa tidak mengenal satupun warna, padahal kita, dengan usia sebayanya, sudah mengenal hampir semua jenis warna. Bahkan adik Tifa yang berusia 3 tahun, sudah mengenal cukup banyak warna. 2 tahun yang telah terlewati, tidak membuat orangtua Tifa mengenalkannya satu warna pun, karena orang tuanya berpikir, bahwa masih ada hari esok.
Tapi ternyata tidak ada. Waktu tidak bisa kita dapatkan kembali dengan membujuk ayah dan ibu seperti ketika kita menginginkan mainan. Waktu itu terus bergerak maju, tidak akan bisa mundur.Semenjak itu aku meraba nafas kehidupan. Nafas kehidupan adalah waktu.”Aku berhenti bercerita, kemudian kembali duduk mengisi lingkaran.
Aku memandang sekeliling, belum satupun dari teman-temanku berhenti menahan nafas mereka, mata mereka terbelalak ke arahku, tapi aku tahu pikiran mereka tidak ada padaku. Pikiran mereka ada di Tifa, si gadis buta.Aku melirik kepada Kak Syella, ia menganga , menatap tidak percaya ke arahku. Aku tidak mengerti apakah itu suatuketakjuban atau kebingungan.Yang jelas, seperti yang kukira, tidak ada anak yang bertepuk tangan seru seperti ketika Paramitha atau Rina usai berceloteh. Makanya, aku sudah bilang. Aku benci ekspektasiku yang selalu benar. Bahwa tidak akan pernah ada tepuk tangan untukku.
Keheningan terpecah oleh suara tangisan Haga, “Huaaaaaaaaaaaaa critanya cedihhhhhhhhhh Haga mau mamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…...!!!!!!”
Kemudian Kak Syella bergegas menghampiri Haga untuk menenangkannya, tapi tatapan kak Syella masih tertuju kepadaku. Aku tidak paham arti tatapan itu.
Bukan tepuk tangan, bahkan ceritaku mengundang tangisan. Aku tersadar akan sesuatu, Paramitha menatap terus ke arahku, kemudian ketika pandangan kami bertemu, ia berkata, “Cherry, kamu oke banget.”
Saat itulah seisi kelas langsung riuh bertepuk tangan. Jauh lebih riuh ketika setelah Paramitha bercerita. Namun semenjak kejadian itu, aku mulai menjalani berangkai-rangkai sesi penelitian. Aku bertransisi dari manusia yang tidak terdeteksi, menjadi subjek penelitian; pusat perhatian semua orang yang tidak dihargai eksistensi manusiawinya; sampai sekarang ini.
Kata orang, candu itu merupakan zat adiktif yang berbahaya. Kenikmatannya begitu riil, namun sifatnya sementara. Setelahnya, timbul siksaan-siksaan yang tak memiliki ampun. Meluluh lantakkan sistem syaraf otak dan menciptakan ilusi-delusi yang tidak masuk akal.
Menurutku, candu masih kalah bahaya jika dibandingkan dengan Mikael Hasya Algero. Bahkan, Amyotrophic lateral sclerosis , penyakit yang menyebabakan degenerasi saraf motorik bagian atas dan bawah, masih kalah bahaya dibandingkan dengan zat adiktif yang ada di dalam Mikael yang terus menyerang tanpa memberikan satu detikpun waktu untuk beristirahat dari bayangnya. Kinerja zat adiktif Mikael mampu menimbulkan rasa sakit yang luar biasa mengoyak-oyak.
Seperti kondisi sekarang ini, menurutku adalah kondisi siksaan terparah yang bisa dirasakan oleh manusia.


Saat ini si gadis dengan disfungsi seksual sedang membawa sumpit dengan sebuah sushi dragon roll nya menuju bibir Mikael, tentunya Mikael membuka mulutnya dengan senang hati.
“Frigid.” panggilku.
Aurea menoleh, sehingga suapannya untuk Mikael terhenti.
“Panggil aku Aurea sayang.” pintanya untuk ke sekian belas kali, dan sperti biasa aku tidak akan pernah sudi menggubrisnya.
“Aku mau dragon roll nya. Aaaaaaaa…” aku membuka mulut. Aku sengaja melakukan ini, karena aku tidak akan membiarkan interaksi diantara dua mahluk dewasa itu berjalan lebih intim lagi .
Frigid terpaksa mengulurkan sumpitnya itu menjauhi bibir Mikael, dan mengarahkannya ke bibir subjek eksperimennya. Tentunya ia melakukan itu dengan senyum, karena ia selalu ingin terlihat sebagai tokoh protagonis dalam cerita.
“Enak sayang?”tanya Frigid. Aku merespon dengan anggukan. Bukan Dragon Roll nya yang enak, tapi perasaan puas karena telah membuat kesal Frigid lah yang terasa enak.
“Cherry, habis ini aku antar kamu pulang , atau kamu dijemput supir?” tanya Mikael, sambil memindahkan beberapa dragon roll ke piringku , rupanya ia kira aku benar-benar menyukainya.
“Supirku lagi mengantar mama.”
“Oke, aku anterin kamu ya.”
Aku menjawab dengan menaikkan kedua alis.
“Kalau kamu, Rea?”tanya Mikael kepada Frigid, sama lembutnya seperti nada bicaranya kepadaku.
“Oh, aku habis ini diundang untuk datang ke pembagian goodie bag di lt. bawah. Tinggal aja, nanti aku pulang bareng Ladya. Dia juga ikutan.”
Aku tersenyum, dengan senyuman yang sangat tipis, hampir-hampir tidak terlihat. Tapi jika seseorang mampu melihat hatiku, hatiku sedang tersenyum lebar.

Dia adalah esensi nyata dari keindahan. Segala nikmat surga dunia ada pada senyumnya. Matanya tajam sarat akan kecerdasan. Wajahnya tegas, dengan stuktur kulit yang halus dan putih.
Setiap melihatnya, aku merasa seluruh kata lenyap dari otakku. Lidahku kelu. Kutundukkan kepalaku dan berharap menjadi invisible. Semua tulangku terasa lemas, tak sanggup untuk bergerak. Aku merasa kehilangan kendali akan sleuruh badanku. Otakku tidak dapat bersinkronisasi dengan seluruh sendi tulangku.
Aku cinta Mikael. Aku cinta Mikael. Aku cinta dia.Aku tahu, aku terlalu berlebihan. Tapi bukannya rasa cinta itu wujudnya memang seperti ini?
Aku biasanya menyaksikan cinta dalam bentuk partitur, kumpulan lirik dan melodi yang sangat transparan dalam menelanjangi isi hati. Atau, kadang, aku melihat cerminisasi luapan cinta, dalam jalinan kata-kata yang membentuk narasi. Seperti novel novel romansa Daniel Steel, misalnya. Tapi kali ini berbeda, aku merasakan wujud kegilaan itu dalam diriku sendiri.
“Kamu mau dengar musik yang seperti apa?”tanya Mikael, memilah-milah CD dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya sibuk berkutat dengan setir sedan Lexus nya.
“Pertanyaanmu ini sudah aku dengar puluhan kali.” jawabku, dengan nada yang sangat tidak ingin aku ucapkan. Inilah yang aku benci dari diriku dalam menghadapi Mikael.
Rasa sukaku terhadapnya yang terlalu tereksploitasi di dalam, sangat bertolak belakang dengan caraku mengeksekusikannya di luar.Aku tampak sangat kaku, murung dan malas, sementara isi hatiku menjerit-jerit minta diperhatikan.Mikael tidak tampak terganggu dengan nada bicaraku yang menyebalkan, ia justru tertawa.
“Oh iya, aku sudah menanyakan music kesukaaanmu di beberapa sesi wawancara dan pengisian kuisioner, ya. MM, kalau nggak salah salah satu penyanyi kesukaanmu Duffy.
“Hm-m.” jawabku singkat.
Mikael langsung mengeluarkan CD. Aku kesal, karena Mikael tampak tidak pernah memainkan emosinya ketika menghadapku. Itu merupakan suatu pertanda bahwa ia menganggapku anak kecil. Caranya menghadapiku benar-benar cara seseorang menghadapi manusia dengan fase perkembangan yang jauh beberapa tingkat di bawahnya, yakni tanpa keterlibatan luapan emosi. Seperti hubungan guru dan muridnya .
Aku membayangkan, ketika Frigid yang berada di posisiku. Andaikan ia menggunakan nada kaku yang sama, aku yakin Mikael akan merasa terganggu, ia akan menanyakan mengapa Frigid terlihat badmood . Ada kemungkinan juga Mikael justru marah, karena melihat Frigid badmood ketika bersamanya akan menjadi luka dalam super-ego nya.
Mikael mematikan perasaannya saat berhadapan denganku. Itu berarti aku sama sekali tidak terklasifikasikan sebagai target potensial untuk melakukan hubungan romantis. Caranya bersikap kepadaku seperti cara seseorang heteroseksual berhadapan dengan mahluk sesama jenis, yakni sikap natural tanpa keinginan untuk menarik perhatian.
Kalau ada yang ingin kulakukan, aku ingin sekali menciumnya. Aku ingin berkata padanya bahwa aku ini riil, aku ada dan aku hidup. Aku juga merupakan pelaku seksual dan aku mampu merasa menginginkan dan diinginkan. Ia pun perlu tahu, siapa yang aku inginkan untuk menginginkanku.Dia.
“Sudah sampai.” ujar Mikael, dengan senyum pemikatnya seperti biasa.
Mikael melihat mobil BMW 3.20 mama di depan, “Kayaknya mama kamu juga udah pulang.”
“Kayaknya.” jawabku.
Sebenarnya mama memang tidak pernah pergi. Supirku juga tidak.
Tadi aku berbohong padanya. Cuma apakah egois jika aku membutuhkan ekstra waktu bertukar nafas di ruangan yang sempit sebentar saja dengan Mikael? Aku tahu ia sibuk menghabiskan sebagian besar waktunya yang lain dengan Frigid, tanpa perlu Frigid berbohong atau mencari-cari alasan.

Aku memasuki kamarku, dengan pikiran yang masih mengawang di suatu tempat jauh yang berkabut.
Aku tahu Mikael bukanlah sesuatu yang nyata.Bagaikan cerita karangan, ia adalah fiktif.
Aku kini ibarat sebuah kayak kehilangan dayungnya. Aku tidak bisa membedakan ufuk timur dan ufuk barat, dan aku memang tidak peduli.Aku hanya mau mendayung dengan sukses selamat sampai di dermaga, tanpa perlu repot-repot memikirkan tata caranya
. Aku menginginkannya dengan segenap rasaku tanpa memperdulikan masalah kekekalan. Bukankah jika kita mau bermimpi, kita dilarang keras berpikir soal batas waktu agar tetap optimis?
Aku memutuskan akan melanjutkan membaca novel The Joy Luck Club dari Amy Tan sebelum tidur, namun ternyata daya akomodasi mata dan pikiranku sudah tak sanggup lagi dipekerjakan.
Malam ini, aku rasa, aku bisa tertidur.

“Anak kita ini berbeda. Ia ibarat kupu-kupu Atopoera Luxti . Langka. Aku tidak setuju membiarkannya masuk dalam komunitas yang serba biasa.”
Pramanto Hanggoro berargumen sembari menghadap kaca. Ini kali ketiga papa memastikan dasi ermenegildo zegna yang ia kenakan terlihat rapi sempurna. Papa terbiasa mengecek segala sesuatu lebih dari tiga kali, lagaknya merupakan salah satu ciri obsesif kompulsif. Penampilannya konservatif , namun elegan. Benar-benar melukiskan seorang eksekutif muda yang cerdas. Laki-laki seperti inilah yang akan aku cari untuk masa depanku.
“Tapi darling, kalau kamu bawa dia ke London, dia akan kehilangan masa kecil yang normal.”
“Di sana ada sekolah untuk murid dengan special traits seperti dia. She belongs to be there. Lagipula, tinggal di London bukan berarti dia tidak normal.”
“Tapi dia akan jauh dari saya, mamanya. Apa kamu jamin kamu bisa mengawasinya di kala kesibukan kamu bekerja?”
“Apakah kalau dia di sini menjamin dia mendapatkan perhatian yang seharusnya? Mamanya juga sangat sibuk kan?”
“Kalimatmu sarkatis.”
“Dan aku kurang suka dengan tingkat intensitas anak temanmu membawanya untuk penelitian.”
“Maksudmu penelitian Mikael? Penelitian itu adalah simbiosis mutualisme. Berguna pula untuk kita mengetahui hal-hal yang tadinya tidak kita ketahui tentang anak kita sendiri.”
“Jadi kamu memilih untuk lebih mengenal tentang anakmu dari jurnal hasil penelitian?”
“Jangan mengambil konklusi seenakmu. Jangan digeneralisasi antara mengenal sebagai orang tua dan ‘mengenal’ secara psikoanalisis atau klinis. Latar belakang pendidikan kamu tehnik, aku hukum. Kita nggak bisa melakukan riset mendalam tentang Cherry. Dia manusia, bukan mesin atau undang-undang.” Nadiana Hanggoro alias mamaku menaikkan nada bicaranya.
“ Kalau memang mau begitu, kenapa tidak menyewa jasa dokter profesional saja. Bukan mahasiswa yang baru mengambil spesialis psikiatri seperti Mikael.”
“Mikael adalah dokter yang dirujuk oleh Prof. Dr. Hendro Brawoto. Dia asistennya.”
Aku malas mendengar konfrontasi yang sudah jadi rutinitas ini. Mereka bersikap seakan mereka benar-benar peduli kepadaku, sampai-sampai rela terus berdebat mengenai kepentinganku. Kalau mereka benar-benar peduli kepadaku, mereka akan membiarkan aku tenang dan beristirahat. Akan lebih menyenangkan lagi, ketika mereka menanyakan pendapatku. Setinggi apapun penerapan olah linguistik mereka, aku dapat memahaminya dengan mudah. Jadi menurutku tidak ada alasan untuk aku tidak dilibatkan dalam proses perdebatan.
“Pa, Ma. Aku nyaman kok menjadi subjek penelitian, dengan itu aku bisa banyak belajar .Karena benar juga kata papa, di sekolah yang sangat biasa aku tidak dapat apapun yang merupakan hal baru bagiku.” aku berujar tiba-tiba, dengan tujuan untuk menetralisir perdebatan, sekaligus menandai keberadaanku yang sedari tadi berdiri di ambang pintu kamar mereka.
“Ah, sayangku.. Kamu sudah bangun?”tanya Mama yang tersontak kaget karena sedari tadi tidak menyadari keberadaanku.
“Aku sudah siap berangkat ke sekolah.” aku merespon singkat. Kemudian aku berlalu pergi menjauhi ambang pintu kamar itu, sambil menggunakan ransel benetton merah favoritku.

Ketika perjalanan di mobil bersama supir, pikiranku melayang ke mana-mana.
Kali ini bukan tentang Mikael, tapi tentang sebuah ‘spesies’ dengan penampilan fisik yang berbeda denganku namun memiliki kemiripan sturtur otak denganku: manusia dewasa.
Ada beberapa sifat manusia dewasa yang tidak dapat aku mengerti dan membuat bingung. Perbedaan-perbedaan itu sedikit berguna untukku agar aku tetap bisa mengklasifikasikan diriku sebagai anak kecil.Kebingungan nomor satuku adalah mengapa orang dewasa memiliki beribu alasan untuk tetap tinggal bersama, meskipun ketika mereka bertemu mereka selalu menunjukkan simptom penolakkan.
Seperti mama dan papa. Mereka seperti dua mahluk asing yang berbagi tempat tidur. Mereka selalu berdebat, dan tidak pernah mencapai kesepakatan apapun yang mereka bicarakan. Mm,aku membayangkan aku disuruh menghabiskan sisa hidupku dengan Frigid. Kurasa aku memilih mati saja.
Kebingungan nomor duaku adalah mengapa orang dewasa suka memiliki ketertarikan pada hal-hal yang tidak berguna. Seperti misalnya Frigid, ia memiliki ketertarikan luar biasa besar terhadap kuku-kuku. Ia akan menjerit keras apabila sesikit saja cat kukunya terkelupas. Kemudian setelah itu , ia akan kehilangan mood sepanjang hari sampai menemukan salon yang menyediakan jasa manikur. Itupun, ia memiliki preferensi khusus terhadap cat kuku. Ia hanya mau cat kuku yang glossy dan tidak boleh terlalu kental. Padahal menurutku, kukumu tidak akan kenapa-napa, kecuali kuku itu tercabut dari jarimu.
Frigid juga menjadi orang yang paling ribut jika ia melihat kuku Mikael tidak rapi. Ia akan heboh mengeluarkan seluruh isi tasnya yang mayoritas isinya hanyalah make-up demi mencari gunting kuku dan nail buffer untuk merapikan kuku Mikael. Meskipun Mikael tampak risih, ia terlihat pasrah melihat hak milik kuku-nya seperti berpindah kepada Frigid.
Kalau aku disuruh memilih sebuah ketertarikan khusus, aku memilih untuk tertarik terhadap sesuatu hal yang lebih besar: Aku memilih tergila-gila pada Mikael, bukan hanya kukunya.

Aku memasuki gerbang sekolah.
“Cherry!” panggil sebuah suara. Aku menoleh, ternyata Paramitha.
“Hay, Mitha!” aku menyapa balik, kemudian ia menjejeri langkahku dan kita berjalan menyusuri lorong sekolah bersama-sama. Ya, ia telah menjadi teman dekatku semenjak peristiwa waktu TK itu. Teman dekat yang berarti, kami biasa pergi ke kamar kecil bersama atau jajan di kantin bersama. Namun tidak lebih dari itu untuk bisa disebut sahabat.
Kadang aku menceritakan beberapa masalah sederhana, seperti misalnya ketika si Popo, kelinciku mengidap Pneumonia alias radang paru menyerang alat pernapasan yang disebabkan oleh si kuman nakal Pasteurella Multocida. atau ketika aku beradu mulut dengan pengasuhku yang genit, Maria.
Namun aku tidak pernah bercerita tentang letupan hormon serotoninku yang disebabkan oleh Mikael. Aku tidak menceritakannya bukan karena malu dan takut ditertawakan. Aku juga tidak menceritakannya bukan karena aku menganggap ini rahasia besar. Masalahnya adalah, aku tahu Paramitha pasti tidak merasakan perasaan seperti ini. Jadi menurutku, merupakan sangat percuma kalau aku harus menjelaskan perasaanku, yang tertunya akan menghabiskan berjam-jam narasi sampai mulut berbuih. Bukan berarti aku meremehkan Paramitha dengan mengira ia tidak memahami perasaan cinta. Tapi aku yakin, ia tidak cukup bodoh untuk memajukan salah satu tugas fase perkembangan early adolescence nya di usia SD.
“Ada PR apa pagi ini?” sapaku, sembari tersenyum ramah.
Oh ya, aku rasa aku lupa menceritakan, aku tidak menjadi diriku sendiri ketika aku berhadapan dengan teman-teman sebaya, bahkan di depan Mitha. Aku menyederhanakan kalimatku sesederhana mungkin, dan bersikap sewajar mungkin. Aku malas menyaksikan pandangan kagum dan tidak sengaja mendengar bisik-bisik beberapa anak di balik punggungku.
Paramitha menggeleng, “Nggak ada, kemarin kita dikasih tugas membuat karangan bebas, tapi dikumpulkannya masih minggu depan.”
“Karangan bebas?” tanyaku. Aku tidak pernah benar-benar memperhatikan omongan guru di kelas, karena seperti yang pernah kujelaskan, aku mengidap concentration disorder. I can't seem to hold my concentration for more that 15 minutes at a time. Aku tidak pernah benar-benar meyadari apa yang sesungguhnya dijelaskan oleh guru dan aku selalu jadi orang terakhir yang mengetahui kejadian menarik di kelas. Hal itu dikarenakan oleh aku terlalu sibuk berkhayal menjadi ratu Hatshepshut, seorang firaun perempuan dari Dinasti ke-18 di Mesir kuno (yang merupakan obsesi gilaku) , atau sekedar sibuk membuat sebuah kaligrafi ambigram.
“Iya, karangan bebas. Bebas tentang apapun. Katanya kita diminta mengembangkan imajinasi.” jawab Paramitha.
Aku tersenyum kecil. Mengembangkan imajinasi? Imajinasiku sudah terlalu berlebih, sampai-sampai aku merasa harus mengendalikannya. Sekolah benar-benar tempat yang tidak menarik bagiku. Segala yang baru akan diajarkan di sekolah, justru semua hal yang sudah tercerna matang di otakku.
***

Aku hendak masuk ke dalam rumah, ketika aku tanpa sengaja mengintip siapa yang ada di sana dari celah pintu. Orang tuaku dan Mikael. Mereka duduk di dofa ruang tamu. Papa bersebelahan dengan mama, sementara Mikael duduk sendiri di sofa sebrangnya. Tampak papa membawa sebuah map yang berisi kumpulan kertas-kertas, sementara mama ikut memandangi kertas-kertas itu dengan cemas.
“Jadi dia memiliki kecenderungan introvert?”tanya Papa, menatap Mikael dengan pandangan serius.
“Iya, Om. Di mana rata-rata anak genius memiliki kecenderungan ekstorvert. Entah apa yang membuat ia susah menyuarakan pendapatnya, masih belum terdeteksi. Itulah yang membuat dia lebih banyak menyendiri jika dibandingkan dengan anak-anak sebayanya.”
“Sebenarnya saya juga sudah merasa begitu. Ia jarang sekali mau berbagi pendapat. Bahkan ia jarang bicara kalau tidak disuruh. Apalai akhir-akhir ini. Saya sering mengamati perilaku tidurnya yang juga sangat tidak teratur, Entah apa yang ia pikirkan.”respon Papa, sambil membolak-balik halaman kertas.
“Dia nggak autis kan?” tanya mama, masih dengan raut wajah khawatir.
Jantungku berdegup kencang sekali. Entah apa yang bakal kurasakan kalau sampai Mikael mendiganosaku sebagai anak pengidap autisme.
Mikael tersenyum, “Sekarang sih tidak, tante.”
Jawaban Mikael cukup menenangkanku, tapi tidak memuaskanku. Kalimatnya seakan-akan menunjukkan bahwa aku akan mengidap autis suatu hari nanti.
“Ada saran?”tanya Papa.
“Mungkin ia membutuhkan liburan, om. Liburan yang menghibur, dan kalau bisa memberikan tantangan baginya. Tetapi bukan liburan yang mendidik seperti outbond camp, atau study tour, karena saya rasa ilmu pengetahuan yang ia punya saja, sudah membuatnya terlalu kenyang.”
Papa dan mama saling berpandangan. Aku tahu apa yang ada di dalam benak mereka. Pekerjaan mereka yang terlalu sibuk tidak mengizinkan mereka untuk merencanakan sebuah liburan besar untukku. Aku pun tidak terlalu tertarik untuk menghabiskan waktuku bersama mereka karena aku yakin hal itu malah membuatku makin tidak rileks. Bersiap-siap berangkat kerja berdua saja bisa menimbulkan perdebatan bagi mereka, apalagi liburan bersama?
“Kamu bisa arrange liburan yang menarik untuknya?” tanya Papa.
“Saya , om?”tanya Mikael, tampak sedikit kaget.


Insomnia lagi. Aku membenci mendengar bunyi garukan cakar tikus di langit-langit untuk ke sekian kali seperti ini.
Insomniaku diperparah karena mendengar percakapan Mikael dan Papa tadi. Ide Mikael adalah membawaku berlibur ke Jepang, karena ia tahu aku tertarik sekali dengan budaya Jepang (dari hasil tes tentunya, bukan dari obrolan akrab). Sangat tidak bisa dipercaya.
Jarum detik itu sangatlah bodoh. Ia sangat tergesa-gesa mendahului seluruh isi dunia, seakan ingin menjerit pada seluruh umat manusia untuk selalu bergegas.
Namun detak detik itu tidak berarti apa-apa untukku. Tidak ada signifikansi pada apa yang aku rasakan. Semua tetap sama. Aku tetap terjaga, tanpa rasa kantuk dan susah memejamkan mata.
Pertama kali aku mengalami insomnia, aku menyangka ini akan menjadi gangguan kontemporer.
Malam itu aku bermimpi. Aku bermimpi seluruh organ tubuhku berkembang pesat seperti halnya fikiranku.Aku bermimpi menjadi orang dewasa. Aku bermimpi aku menjadi wanita yang pantas menjadi partner seksual yang pantas bagi Mikael.
\ Aku bermimpi memiliki betis yang jenjang , payudara yang penuh dan rahang yang tegas. Aku memiliki siluet tubuh yang indah, dan suara yang serak. Tidak suara ala tokoh kartun seperti sekarang.Dalam mimpiku itu, aku berada di sebuah gazebo kerajaan bernuansa eropa. Mungkin suatu sudut di Buckingham palace, atau Rosailles. Aku merasakan Mikael merengkuh pinggangku, rasanya begitu nyata.Kemudian, aku berbisik ke telinga Mikael.

Mikael

“Mikael..” suara bisikan si gadis dalam mimpi itu sontak membangunkan reaksi panca indraku. Aku tersentak dan terbangun, kemudian menatap ke sekelilingku. Aku masih dalam kamar yang sama, kamar seluas 6x4 meter dengan aksen tirai gorden putih yang menjulang mewah namun tetap maskulin. Bukannya berbaring dengan perempuan cantik dalam mimpiku. Mimpi yang sangat alamiah bagi kaum lelaki, mimpi akumulasi dari birahi yang belum terlampiaskan seharian.Aku memegang keningku, yang sangat pening.
Aku sudah mencoba menelan 2 butir xanax, namun tidurku masih tidak tenang. Sebenarnya yang aku alami bukan insomnia. Aku selalu bisa tidur, namun tidurku tidak pernah nyenyak. Aku meraih gelas bening berisi air putih di meja sebelah tempat tidurku.
Minum segetuk. Rasa pahit di mulutku mulai ternetralisir.Minum dua teguk. Aku sadar seratus persen.Ketika aku meletakkan gelas, tanpa sadar tanganku menyenggol sebuah pigura. Klotak! Aku menyipitkan pandanganku yang masih buram berusaha merekognasi pigura apa yang barusan kujatuhkan, kupungut pigura itu.Fotoku dengan Aurea. Gadis yang selalu disebut-sebut teman-temanku sebagai simbolik nyata dari Aprodhite, dewi kecantikkan. Aurea yang jadi bahan omongan wajib nongkrong sore di coffeeshop sambil menghisap mild seven.
Di foto itu, aku dan Aurea sedang tertawa bersama sambil berebut payung putih. Foto itu foto candid hasil jepretan Aldi, si calon dokter yang menghabiskan sebagian waktu luangnya untuk bekerjasama menangkap cahaya dengan lensa. Foto itu diambil waktu aku dan teman-teman sedang berlibur ke puncak. Kata Aldi, senyuman Aurea senyuman malaikat. Tubuhnya apalagi, bentuknya serupa dengan gitar spanyol. Laki-laki yang tidak tergoda melihatnya sudah pasti orientasi seksualnya tidak lurus.
Entah mimpi apa aku dulu sebelumnya, kini Aurea jadi pacarku. Kadang aku masih tidak bisa percaya, Aurea benar-benar milikku. Perasaan puas memilikinya sama dengan kepuasan seorang eksekutif muda dalam pencapaiannya berhadil memiliki Lamborghini Murcielago LP640.
Namun kadang ada sebuah bilik aneh di salah sudut hatiku, yang terus menyuarakan argumennya, bahwa aku dan Aurea not meant to be. Bilik itu terus-terusan menciptakan berbagai kalimat introgatif yang bersifat menjatuhkan, dan menggagalkan hubunganku dengan Aurea. Dalam kesadaran penuh, aku tersadar, bilik itu adalah akumulasi pikiranku sendiri.
Bilik itu menolak untuk diisi dengan segala keindahan tentang Aurea. Di bilik itu, masih tersimpan hati nurani di samping ego berorientasi terhadap kepuasan khas laki-laki, yang memenuhi tempat kosong lain di hatiku. Hati nuraniku tidak bersedia meluangkan waktunya untuk meraba segala hal mengenai Aurea Frigida. Hati nuraniku berkata ia terlalu plastik. Hati nuraniku membutuhkan suatu hal yang lebih natural, lebih nyata dan lebih wajar.Not a living barbie doll. Ponselku bergetar. Sedikit tersentak dari lamunanku, kemudian aku menoleh.
0817708790 lagi, kuangkat, "Hallo?"
Tidak ada jawaban di seberang sana.
"Hallo??? cari siapa ya?"

Masih tidak ada jawaban.
Nomor sialan ini berkali-kali menelpoku pada jam-jam segini. Ulah siapa ya kira-kira?Mana ada orang iseng yang selalu terjaga jam segini tiap harinya? Apa dia tidak memiliki rutinitas harian sehingga siangnya menjadi malam, dan ia terjaga total ketika malam?
Kalaupun memang ada, tentunya pengangguran. Atau wanita tipe teman-teman Aurea yang lebih banyak tidur di kala matahari terbit, karena ketika malam sibuk bercengkrama dengan margarita.Ah, siapa peduli, lama-lama orang ini juga akan bosan sendiri.
Aku harus berkonsentrasi untuk tidur. Tidak bisa tidak. besok aku menjalani aktivitas yang sangat padat seperti biasa. Tugas-tugas dari dokter seniorku yang benar-benar menekan waktu bersantaiku akhir-akhir ini.Tugas penelitian tentang si anak ajaib; Cherry Amalia, si anak kecil yang luar biasa menarik itu. Cherry adalah salah satu keajaiban rekaan tuhan yang benar-benar terkaji nyata kebenaran ilmiahnya.
Ia adalah subjek penelitian yang menarik, sekaligus individu yang juga menarik.
Kemenarikannya selain kecerdasan otaknya adalah kenyataan bahwa jika dari hasil assesmen ia sangatlah nampak manja dan haus perhatian, caranya berperilaku dan berbicara menunjukkan kebalikan yang benar-benar berbeda.
Cara bicaranya mengingatkanku pada sosok Tzu Hsi, kaisar wanita sekaligus penguasa terakhir dari dinasti kerajaan cina di forbidden city yang terkenal lugas yang berharga diri tinggi, di samping sosok yang sangat lucu dan (seharusnya) kekanakkan. Sosoknya sangat tidak menggairahkan, seperti anak kecil sebayanya. Namun ketika berbicara dengannya, kadang aku harus mencubit sebelah lenganku sendiri untuk mengingatkan diri sendiri bahwa Cherry adalah anak SD.
Kadang aku berimajinasi liar, bagaimana jika Cherry berusia sama denganku. Akankah aku tertarik secara seksual terhadapnya, atau justru akan berkawan akrab dengannya. Namun itu hanya imaji, bukan untuk direalisasikan karena aku normal. Aku bukan lolita complex ataupun pengidap phedophilia. Jadi aku buang jauh-jauh pikiran gila itu. Namun satu yang aku tahu pasti, mungkin bilik kecil di hatiku itu akan lebih bisa menerima gadis seperti Cherry versi dewasa dibandingkan dengan Aurea.

Aku sedang memutar kemudi si lexus, ketika kudengar getar suara handphone.
1 message received from Aurea Frigida: ‘Morning honey, jemput aku ya di apartmen.xoxo.’
Aku memang nggak pernah lupa rutinitas tentang ntar mengantar pacar (salah satu hal yang paling dibenci laki-laki dalam peran sebagai pejantan). Jadi sesunguhnya sms Aurea itu percuma saja, toh sekarang aku sudah berada di depan apartmen Aurea. Ini hari Sabtu, sehatusnya aktivitasku lebih ringan, namun tidak karena Aurea lebih suka diantar ke kantor tempatnya magang (redaksi majalah, sehingga Sabtu bukanlah hari off, melainkan hari deadline) olehku daripada mengemudikan swift burgundynya sendiri.
‘Mobil sudah di depan lobby. Aku nggak turun ya.’ Message sent.
Beberapa menit kemudian, Aurea sudah muncul dengan kemeja putih berbelahan dada rendah dan high waisted skirt yang membentuk siluet indahnya. Sangat ‘membangunkan’ laki-laki di pagi hari. Rambutnya yang panjang indah dibentuk chignon sederhana, seperti yang biasa ditampilkan ibuku setiap menghadiri acara semi formal. Kakinya seperti biasa, dihiasi stiletto merah yang menantang. Aku banyak mengetahui istilah fashion, karena ibuku adalah socialite yang tergila-gila pada fashion. Usia kecilku dihabiskan menemani ibu menghadiri tiap fashion show yang menarik hatinya. Heran rasanya, aku tidak keterusan menjadi seorang gay.
Renunganku tadi malam sangat tidak berarti, nyatanya aku sangat tergila-gila pada Aurea. Aku tidak tahan untuk tidak melumat bibirnya sejurus kemudian setelah ia masuk ke dalam mobil. Ia terlalu berharga untuk dilewatkan laki-laki manapun. Setidaknya, secara fisik.
“Mikael..” Aurea membuka bibir seksinya.
Suaranya empuk dan enak sekali didengar. Tuna netra pun bisa meraba kecantikannya melalui suara indahnya.
“Ya?”tanyaku, menahan serangan hasrat ingin menyergapnya sekarang juga. Tidak sekarang karena baju kami sama-sama sudah rapi disetrika dan sekarang kami tengah berada di jalan tol.

“Kamu punya kantung mata. Kamu nggak tidur semalaman?” tanya Aurea, menatap penuh kecemasan ke arahku.
Aku menjawab dengan senyuman simpul dan jawaban klise, “ Tuntutan profesi.”
“Don’t push ur self too hard.”
“I will not.”
Ibuku sering berpesan, kalau mencari wanita haruslah yang pantas. Bibit, bebet dan bobot.
Bibit itu asal muasal, bebet itu keluarga, lingkungan dan siapa teman-temannya sedangkan bobot adalah nilai pribadi/diri yang bersangkutan. Bibit bebet bobot merupakan istilah bahasa Jawa, yang menjadi tolok ukur mencari pasangan.
Aurea Frigida adalah sesosok yang memenuhi semuanya. Mungkin, ia adalah gambaran ibuku sewaktu muda. Jadi jelaslah sudah mengapa ibuku sungguh menyukainya. Aku adalah family boy, kata teman-temanku sedari zaman sekolah dulu. Sewaktu SMA, malam mingguku lebih banyak kuhabiskan dalam acara gathering keluarga dibandingkan dengan kuliner wanita seperti teman-temanku yang lain. Namun herannya, dengan gaya hidup yang bisa dibilang kuper itu, aku selalu mendapat wanita terbaik dari yang terbaik , setidaknya (lagi-lagi) secara fisik. Sudah lumrahlah, laki-laki mendewakan faktor fisik. Tolok ukur kualitas wanita selalu dilihat dari fisiknya dulu. Ada beberapa yang mengaku lebih memilih inner beauty atau kualitas otak, namun ujung-ujungnya jatuh cinta pada pandangan pertama karena ukuran payudara atau pantat.
Sebagai laki-laki sejati, aku mengaku bahwa laki-laki adalah mahluk yang munafik.Memiliki perempuan cerdas sejujurnya malah merepotkan, karena mereka bisa memasuki, bahkan melampaui dilematika intrik laki-laki. Seorang temanku yang terkenal dengan predikat womanizer kelas kakap pernah mengutarakan pendapatnya kepadaku. Ia menjelaskan perbedaan besar antara coba-coba mencium gadis pintar dan coba-coba mencium gadis bodoh.
Mencoba mencium gadis pintar, sama saja bunuh diri, karena ia akan tertawa bersama teman-temannya dan berkata ia telah berhasil mendapatkan ciumanmu dan akan menghina ciumanmu yang sebenarnya ia nikmati sebagai ciuman yang sangat standar sehingga para gadis-gadis tidak akan menganggapmu keren lagi.
Namun mencium mencoba mencium gadis bodoh, akan membuatmu memiliki fans abadi yang terus bercerita kepada teman-temannya betapa ia tidak bisa melupakan kehebatan ciumanmu dan penderitaannya setelah kau tinggal pergi sehingga para gadis-gadis akan mencap dirimu sebagai pria yang luar biasa.
Tentunya pendapat temanku ini hanya kudengarkan, tidak akan kupraktekkan. Aku bukan seorang yang normatif namun aku juga bukan tipe laki-laki yang akan sembarangan melumat bibir semua gadis seperti orang gila.
Meskipun begitu, atas kekerasan prinsip keluargaku, aku terpaksa harus mempertimbangkan faktor-faktor penentu lain dalam pencarian jodoh meskipun aku merasa kurang membutuhkannya. Pernah sekali aku mengencani seorang SPG, kubawa ke rumah, dan ibuku langsung membuatnya menangis dengan mulut pedasnya. Padahal memang kenapa dengan profesi SPG? Apa sebegitu besarnya dosa memakai rok agak terlampau mini dan menebar senyum? Para model catwalk melakukannya dan mereka tidak didiskriminasi. Sungguh tidak adil.
Tapi sudahlah. Buatku keluarga nomor satu. Aku memilih mengindahkan pesan ibunda. Akhirnya wanita-wanita yang kubawa ke rumah setelah itu adalah wanita yang memenuhi tiga criteria menantu utama ibuku; bibit, bebet dan bobot.
(blog: bibit bebet bobot)*
Aurea Frigida sebenarnya bukan socialite. Keluarganya kaya, namun tidak sekarang keluarga Hanggoro atau keluargaku. Kekayaannya bukan kekayaan yang memungkinkan ia duduk di frontrow fashion show di New York. Namun kekayaan keluarganya cukup membuat ibuku melegalisasi hubungan kami.
Aku memarkirkan mobilku di pekarangan mewah keluarga Hanggoro yang bernuansa bebatuan alami. Pagi ini tugasku menjemput dua perempuan. Setelah menjemput objek fantasi para pria, kini aku harus menjemput objek fantasi para ilmuwan. Aku berbicara seperti ini, seakan-akan yang akan kujemput adalah mutan, padahal yang aku jemput adalah gadis kecil yang sangat lucu.
Aku masuk ke ruang tengah, salah seorang pembantu rumah tangga yang akhir-akhir ini kukenal bernama Rani, berujar, “Cari nona, mas? Lagi di kolam renang belakang.”
“Oh, makasih mbak Rani.” ujarku dengan ekspresi seramah mungkin yang bisa dikreasikan dari otot-otot wajah yang sangat lelah.Aku langsung menembus ruang tamu dan ruang keluarga dengan aksen etnik itu, dan memasuki pekarangan belakang, tempat Cherry biasa berenang. Kolam renang itu begitu menarik, dikelilingi oleh pohon kelapa mini dan konblok bebatuan alam. Apabila kita berenang di sana, kesannya seperti berenang di danau mini tengah hutan. Semua desain interior dan eksterior rumah ini adala hasil kreasi sketsa tanteku, Nadiana Hanggoro yang menempuh pendidikan insinyur waktu S1nya. Sesosok mahluk bertubuh kecil bercorak hitam merah mengayunkan lengan dan kakinya menyusuri kolam, seperti ikan.
“Kamu seperti ikan koi.” komentarku, sambil tertawa kecil. Rupanya indra pendengaran si ikan masih peka rangsang, meskipun sedang berada di air, seketika tubuh kecil itu langsung memunculkan tubuhnya ke permukaan,mengakibatkan percikan air menyebar. Wajahnya cemberut.
“Kalau Frigid yang berenang, maka ia akan menjadi mermaid. Sungguh tidak adil.” komentar Cherry, sewot.
Cherry sangat kesal kepada Aurea, bahkan ia menolak memanggilnya Aurea Kalau berdasarkan suatu teori kejiwaan, anak kecil seusia dia memang cenderung iri terhadap gadis dewasa yang dianggap menarik dan mewakili keinginannya akan menjadi seperti apa.
“Hahaha, kalau begitu tidak apa-apa dong. Kalau di dunia nyata, ikan duyung kan bentuknya jelek sekali.” Timpalku, sedikit geli membayangkan Aurea yang jelita berwujud buruk rupa seperti ikan duyung.
“Maksudku, siluman mermaid yang cantiknya luar biasa. Setengah manusia, setengah ikan. Seperti dalam mitologi yunani.”
Wajah anak kecil ini terlihat geram. Nampaknya ia tidak suka ditertawakan, harga dirinya tinggi sekali. Padahal maksudku benar-benar hanya bercanda.
“Koi juga bagus kok, langka. Jenis tertentu harganya mahal sekali.” komentarku asal.
Cherry naik ke atas daratan, menatapku sinis, “ Ha-ha, lucu sekali.”
Aku sering kewalahan meghadapinya sifat anak ini. Kadang aku merasa anak ini membenciku, namun sudahlah. Toh dia masih anak kecil.

Aurea Frigida
Aku memasuki kantor tempatku magang, kantor majalah yang berlokasi di Manhattan Plaza Buliding lt. 8. Tampak Aron Rahandi, commissaris Pt. Gratha Media tempatku bekerja, yang sedang sibuk berbicara dengan front officer.
“Pagi, semuanya.” ujarku, melangkahkan kakiku dengan semampai menuju meja resepsionis, untuk absen kedatangan. Aron menoleh ke arahku, rona wajahnya yang tadinya serius berubah sumringah ketika melihatku. Aku tahu ia tertarik padaku dan ia tidak bisa menyembunyikan itu. Aku calon psikolog.
“ Pagi, Aurea.” sapanya, sambil membetulkan gulungan lengan bajunya. Aron ini bosku, ia selalu tampil santai. Ia tidak pernah menggunakan dasi atau celana kain dan justru memilih menggunakan kemeja yang biasanya tidak dikancing dan menampilkan dadanya yang bidang dan seksi. Ia juga memilih padanan kata gua-elo dibandingkan dengan saya-kamu dalam komunikasinya terhadap seluruh karyawan. Sungguh terlihat unik, mengingat jabatannya sebagai commissaris yang terdengar sangat kaku dan formal.
“Gua barusan saja memberi pengarahan kepada receptionist mengenai apa saja yang harus dipersiapkan, karena nanti siang akan ada kunjungan dari pemilik franchise majalah kita dari Australia. Kita harus mengemas diri kita seapik mungkin, jangan ada cacat.”
“Oh, jadinya hari ini? Saya kira kunjungan itu minggu depan.”
“Harusnya minggu ini giliran Singapore, tapi ternyata commissarisnya sedang berhalangan hadir. Jadi jadwal kunjungan ke kantor kita diajukan. Padahal 2 hari lagi deadline, kita sedang sangat sibuk.”
“Ah, saya yakin anda pasti bisa handle semua itu.”
“Aku tidak yakin. Aku lebih yakin kalau kamu mau temani aku breakfast, banyak yang harus aku pelajari dari si ibu psikolog, tentang bagaimana cara memberikan, mm, apa namanya.. semacam kalimat persuasif.”
Aku tersenyum. Dasar klise. Banyak sekali laki-laki bodoh seperti dia. Bukan, maksudku bukan bodoh yang lamban dalam pemahaman atau nilai inteligensia rendah. Bodoh maksudku di sini adalah tendensi yang terlalu transparan. Banyak laki-laki yang tanpa sadar seringkali melakukan hal tersebut. Inginnya melakukan sebuah pendekatan terselubung, namun geliatnya sangat terbaca.
Itulah yang membedakan Mikael dari laki-laki lain. Mikael tidak pernah sama sekali menunjukkkan kesan ‘menginginkanku’ atau menujukkan aksi yang jelas-jelas bertendensi. Dari awal ia mengenalku, ia justru tampak tidak tertarik kepadaku dan tidak peduli denganku. Aku tahu ketika awal berkenalan matanya terpukau melihat wujud fisikku, namun itu sangat wajar. Ia lelaki normal. Tapi selebihnya, ia tidak tampak berkeinginan untuk mengetahui lebih lanjut mengenaiku, siapa aku, dan bagaimana cara mendekatiku.
The Law of Attraction yang menyatakan bahwa laki-laki akan cenderung terlihat menarik ketika ia terkesan ‘tidak-mau-peduli’ teruji dan terbukti di sini. Aku jatuh ke dalam genggamannya hanya setelah sebulan perkenalan, di mana sederetan lelaki lain bersusah payah dan berlomba hanya untuk dapat menikmati satu kencan denganku. Kini aku dan Mikael telah menjalani 2 tahun hubungan pacaran. Jika ada yang bertanya mengapa aku bisa begitu betah berkomitmen dengan satu pria saja meskipun hampir semua pria yang aku temui tergila-gila denganku? Jawabannya mudah sekali, karena Mikael terus menciptakan lorong lorong baru dalam dirinya, yang membuatku terus penasaran mengejar lorong-lorong itu. Ia seperti tidak bisa termiliki seutuhnya dan terlalu kompleks untuk dimiliki , itulah yang membuatku merasa sangat tertantang olehnya.
Selain itu ia juga memiliki standar-standar tertentu yang kujadikan prinsip utama dalam menjalani hubungan. Tidak munafik sebagai perempuan yang lahir dan dibesarkan dengan standar tertentu (good maintenance), aku menetapkan standar tertentu dalam proses seleksi pasangan. Wajar sekali, manusia hidup kan berdasarkan standar. Sementara itu Mikael jelas-jelas berasal dari keluarga yang berstandar jelas, di samping ia sendiri juga memiliki kualitas tinggi sebagai mahasiswa yang sedang mengambil spesialis psikiatri dalam usia yang masih sangatlah muda.
Tidak hanya standar-standar tertentu itu saja yang menjadi tolok ukurku mencari pasangan, chemistry juga termasuk di dalamnya. Chemistry meliputi senyaman apa aku berada satu ruangan dengannya dan bagaimana kita bersama-sama menjalani life in general. Sampai saat ini aku belum menemukan chemistry itu saat berhubungan dengan siapapun, bahkan tidak dengan Mikael. Namun setidaknya, Mikael memiliki segala hal yang aku butuhkan di samping soal chemistry tadi. Yah, karena keribetan syarat dalam proses seleksi pasangan itulah, aku tidak akan sembarangan melepas Mikael untuk kesenangan baru yang sangat kecil namun berisiko besar.
Lalu apa kabar wahai cinta? Bicara soal cinta sekarang ini terdengar terlalu naif. Jika diharuskan mendefinisikan cinta saja, aku belum pernah menemukan jawaban yang tepat. Jadi kenapa harus repot bicara soal cinta?
Kita tidak akan pernah maju kalau terus-terusan berbicara soal cinta. Cinta itu lahr untuk menjadi musuh utama logika. Jadi tidak, untuk saat ini aku menolak berkompromi dengan urusan cinta . Aku tidak menolak untuk berucap cinta namun tanpa diamini dalam hati.
Dalam dunia yang sok naif ini, menurutku bekal utama kita adalah kemampuan membawa diri. Tanpa disadari, kita dituntut untuk cerdas dalam memiliah-milah kata sekaligus memasang ekspresi wajah yang tepat selama 1x24 jam. Bayangkan saja, kita bisa dihadapkan dengan berbagai situasi yang kompleks dan bisa jadi saling bertolak belakang dalam satu hari. Di sini kita dituntut untuk memainkan drama kehidupan sebaik mungkin. Menghadapi berbagai macam orang dengan metode yang berbeda. Untuk dapat melakukannya dibutuhkan keterampilan penyesuaian yang tinggi.
Jadi menurutku, kehidupan ini adalah panggung sandiwara. Siapa yang berperan paling apik akan mendapat tepukan paling riuh dari penonton. Seleksi sosial akan memenangkan siapa yang bisa terlihat taktis di depan bos, terlihat humble di lingkungan bertetangga, yang mampu terlihat cerdas di depan dosen dan mampu terlihat manis di depan orang tua kekasih. Singkatnya kalau mau hidup enak, kita harus bisa faking .

Cherry
“Manusia itu nggak pernah puas.” Mikael berkata, singkat. Saat ini kami duduk bersama di pinggiran kolam renang. Aku agak terhibur, karena Mikael rela menggulung celana jins panjangnya agar kakinya bisa bermain-main dengan air, seperti aku. Aku tahu hal itu tidak penting, tapi tetap saja aku terhibur. Sangat manusiawi apabila kita menyukai seseorang, pasti sedikit saja perlakuan baru dari orang itu mampu membuat kita tersenyum.Aku juga suka sekali, karena Mikael saat ini berada dan berbincang mersamaku dalam porsi manusia dan manusia. Bukan peneliti dan objeknya.
“Iya, manusia selalu menginginkan apa yang tidak ia miliki. Dan merasa apa yang dimilikinya selalu kurang dan salah.” timpalku.
“Namun apabila segalanya berubah, manusia juga akan memberontak, berkata bahwa ia menginginkan semuanya seperti dulu lagi. We never know what we got until it’s gone.” Mikael menambahi lagi.
“Manusia itu mahluk klise, Mike.”
Mikael tampak sedikit kaget, dengan ucapanku. Ia menatap wajahku dan tersenyum simpul,” Benar sekali.”
Kemudian ia mengelus kepalaku. Jantungku terasa mau copot. Mungkin Mikael tidak tahu, dan tidak akan pernah tahu. Kadang hanya sebuah tatapan, seucap kata ataupun sedikit sentuhannya bisa membuatku mati kaku. Mungkin perasaannya ketika mengelus pipiku, serupa dengan perasaannya ketika mengelus anjing tetangga, antara rasa tertarik, sedikit rasa sayang campur kasihan.Tapi perasaanku berbeda dengan si anjing. Si anjing mungkin merasa biasa saja, atau mungkin terganggu. Sedangkan aku, rasanya ingin menarik tangannya dan membiarkannya tetap berada di situ. Setidaknya untuk beberapa menit saja.
Sebuah suara muncul dari kejauhan, “Honey..”
Aku tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang. Aroma parfum Thierry mugler yang sama, mulai menusuk indra pembauanku dan membuatku ingin menangis.
Seorang jalang dengan postur tinggi langsing datang menghampiri.
“ Mike, aku diantar teman kantorku ke sini. Aku mau ambil credit card aku tadi kayaknya jatuh di mobil kamu.Ini teman kantor aku sekalian mau pulang ganti baju, rumahnya satu komplek sama Cherry makanya aku nebeng paling 20 menit lagi aku dijemput..”
“Oh iya, yang platinum kan? Tadi ketinggalan di jok mobil.” Mikael menjawab dengan lembut. Siapa lagi wanita jalang itu, kalau bukan Frigid.
“Mm, aku mau suruh pembantu ambil minum.” ujarku sembari bangkit dan melangkah masuk ke bangunan rumah. Jauh-jauh dari bakteri bernama Frigid.
“Makasih sayang.” Frigid tersenyum manis dan terlihat tulus. Hal itu tidak membuatku merasa bersalah karena membencinya. Aku terlalu cemburu untuk bersikap rasional.
Ketika aku hampir mendekati pintu, aku tidak bisa menahan diriku untuk menoleh ke belakang. Dan aku lihat, Frigid mencium bibir Mikael.
“Cherry, kamu kenapa?” tanya Mikael, dengan nada lembut. Tangannya menyentuh bahuku yang pastinya terasa sangat kecil dalam genggamannya. Aku menangis di pojokan lorong. Ini kulakukan bukan karena minta dikasihani. Ini adalah luapan perasaan yang egois. Aku tidak tahu apa yang bisa aku perbuat dan aku tidak mengerti bagaimana ini bisa terjadi.
Untung saja Frigid sudah pulang, ketika Mikael yang kebingungan akhirnya berhasil menemukan sosokku di sini dalam kondisi terpuruk. Air mata ini hanya mendesak untuk keluar, tanpa permisi terlebih dahulu. Kalau ditanya alasannya, aku tidak bisa memfrasekan alasannya dengan baik. Aku hanya memiliki rasa. Apakah hanya karena berperasaan , kita diwajibkan lihai merangkai kata? Akupun juga sangat kaget, melihat apa yang terjadi. Aku kaget bahwa melihat kecepatan proses reaksi manusia terhadap perlakuan menyamai kecepatan cahaya. Kenapa aku harus menangis? Aku tahu menangis bukanlah solusi. Sama sekali bukan. Menangis sama saja menggantungkan kata “I’M FRAGILE” di leher, sehingga membuat orang berhati-hati dalam berperilaku terhadap kita. Berhati-hati bisa jadi dibuat-buat, atau kasarnya, palsu. Jadi secara otomatis, kita tahu bahwa menangis akan membuat orang lain bersikap palsu terhadap kita.
Aku tahu betul, Mikael tidak pernah memasukkan namaku dalam daftar perempuan yang dijadikan target bercinta. Jadi tidak terbesit sedikitpun di pikirannya untuk menganggap aku ini riil secara emosional. Ia dengan bodohnya hanya bisa menyakitiku dan terus menyakitiku kemudian setalah aku tersakiti ia bertanya kenapa aku sakit.
Mahluk keji. Ia terus menyiksaku dengan segala keindahan yang ia punya. Menawarkanku esensi kebahagiaan yang serba palsu dan tidak nyata.
Ia terus memamerkan betapa sempurnanya dirinya tanpa memberikan kesempatan untuk aku menggapainya. Mikael mungkin tidak menyadarinya karena aku tampak biasa saja, walapun hatiku sedang hancur berkeping-keping. Aku hancur, namun aku berusaha tetap utuh. Aku harus selalu menjalin relasi non intim dengannya, meskipun apa yang kurasakan jelas sangat intim, yakni keinginan untuk memiliki. Di balik peran sandiwara yang sangat sulit aku mainkan itu, aku masih harus terperih oleh sakit yang luar biasa. Tiap kali Aurea tersebut dalam ucapannya, atau bahkan apabila tanpa kusadari bayang Aurea terlintas di pikirannya sesungguhnya ia sama saja membunuhku perlahan-lahan.
Namun tidak ada yang bisa aku lakukan. Aku cuma salah satu unsur kecil kehidupannya yang luput dari radar afeksi Mikael. Jadi bukannya aku ingin berbohong, atau bersikap defensif dengan memilih untuk tidak menjawab semua pertanyaan Mikael. Aku memilih tidak berucap apa-apa karena aku yakin itu semua bakal percuma. Dia tidak akan pernah memahami bagaimana perasaanku, aku tahu benar hal itu. Mungkin karena kapasitas otakku, ia mengira aku adalah robot, yang tidak memiliki hasrat. Kalaupun aku akan berhasrat, tentu ia tidak akan mengira aku akan berhasrat terhadapnya. Kita berada dalam dua ruang berbeda, yang tidak mungkin dipersatukan kecuali oleh jembatan magis.
Dari kecil orang tuaku mengajarkan aku untuk sempurna, menjadi orang yang sempurna, berada di lingkungan yang sempurna dan menjalani segala sesuatu secara sempurna.
Itu adalah sebuah alasan kongkrit mengapa aku menjadi Aurea Frigida, ikonik wanita sempurna di era modernitas.
Kadang aku tidak mengerti apa yang kukejar dari segala hasrat kesempurnaan itu. Terus kenapa memangnya kalau sudah sempurna? Tapi aku suka menjadi sosok yang seperti ini, dan aku tidak bisa membayangkan kalau aku harus tampil lebih buruk daripada ini.
Kalau bisa menjadi terbaik, kenapa harus merendah? Itu prinsipku.
Akhirnya biasanya berujung pada penciptaan goals baru yang mengundang hasrat berambisi. Pokoknya, jangan sampai langkahku ini terhenti cuma karena target-target yang sudah komplit. Harus selalu ada target yang lebih baru.
Kadang aku memang lelah, karena memiliki tuntutan terlalu tinggi terhadap diri sendiri yang kadang tidak nalar. Tapi aku haus pengakuan. Aku harus terus menumpuk prestasi diri agar nilaiku tidak akan jatuh di mata orang lain, kalau perlu justru bagaimana supaya terus meningkat.
Buatku prestige adalah segala-galanya. Aku harus selalu mendapat treatment kelas satu di manapun, dari siapapun. Seperti itulah aku dibesarkan dan dengan cara itulah aku menjalani hidup.
Namun hal tiu tidak semata kuinginkan tanpa pengorbanan. Aku selalu berusaha keras untuk menjadi yang terbaik dari yang terbaik. Dalam hal apapun.
That’s it. Ini mengapa sampai hampir larut aku masih di ruangan kantor. Mengerjakan kerjaan yang sebenarnya tidak harus selesai hari ini. Tapi bagiku, akan lebih baik jika aku mampu menyelesaikannya sekarang. Efisiensi waktu merupakan unsur penentu kredibilitas.
Aron mengacungkan sebuah CD di depan mukaku ketika aku sedang sibuk analisis data di minibook berwarna pink milikku.
“Apa itu?”tanyaku, menatap Aron penuh tanda tanya.
“Celtic Thunder Art Two CD . Audiophile Jazz, kamu harus denger nanti di mobil. Pasti suka.”
Aku mengambil CD itu dari tangan Aron. Kuperiksa, masih disegel. “Kamu belum denger, kenapa aku udah dipinjemin?”
“Siapa bilang aku mau pinjemin kamu?” Aron tersenyum nakal, menarik CD itu dari tanganku.
“Oh, toh aku juga tidak tertarik dengan CD itu. Aku suka audiophile jazz, tapi aku bukan eksentrik sampai-sampai merasa harus mendengar semua CD nya.” Ujarku tak peduli, sambil terus melanjutkan kerjaan di layar monitor.
“ Aku beli buat kamu.” ralat Aron, meletakkan CD itu begitu saja di mejaku, dan meninggalkan bilikku.
Dasar Aron ini sangat aneh. Untuk apa ia tiba-tiba membeli barang seperti ini hanya untuk diberikan kepadaku. Mungkin dia tidak sengaja beli dua, atau mungkin ada kemungkinan-kemungkinan lain. Aku tidak terlalu peduli. Yang terpenting adalah semua garapanku selesai secepatnya agar aku bisa pulang.
Perutku keroncongan, tapi itu sama sekali bukan excuse untuk mengganjal isi perut dengan camilan karena ini hari Senin. Hari Senin untukku adalah hari Salad, dimana aku berkomitmen hanya mengkonsumsi salad. Dengan vinegar oil tentunya, bukan thousand island .
Sejujurnya aku juga tidak terlalu peduli terhadap hasrat perut macam ini. Saat ini yang paling kuiinginkan adalah berendam di bath tub dengan aromatherapy sandalwood, my favourite scent. Untuk itu target jangka pendek saat ini bukan makan, melainkan kerja cepat.
Akhirnya pekerjaan membosankan itu selesai dalam waktu setengah jam. Thank god , semuanya selesai.
Aku mulai berkemas, memasukkan semua barang ke dalam tas termasuk menggulung kabel minibook. Aku mengecek tas dua kali memastikan tidak meninggalkan satupun peralatan make-up Bobby Brown ku.

Kemudian aku teringat CD dari Aron. Ia akan sangat tersinggung apabila aku tidak membawa CD itu pulang. Aku melirik CD itu. Kemudian aku tersadar akan sesuatu lalu tertawa geli.
Aku ingat sebuah percakapan aku dan Aron ketika berada di mobilnya kapan hari.
“Kamu suka classic?”tanyaku, menyadari CD yang diputar Aron di audionya adalah karya gubahan Beethoven:The creatures of Pometheus, “Ini kan karya Beethoven sebelum dia merampungkan The Second Symphony.”
Aron menoleh ke arahku dengan tatapan riangnya ,”U know classic!”
Aku menahan nafas, sebuah mobil menyalip mobil Aron dengan cepat, hampir-hampir menyerempet mobil Aron dan Aron tidak bereaksi apa-apa. Entah ia memang cuek dan tidka bermaksud menghindar atau ia tidak sadar karena sedang menoleh ke arahku. Caranya menyetir sungguh berbeda dengan Mikael yang sangat kalkulatif.
“A bit, actually I heart jazz.”
Aron tersenyum lebar, “ Sexy. Swing, soul,bossanova, latin or all?”
“All. Aku suka koleksi rare CDs, biasanya nyari yang import . Ada kepuasaan tersendiri kalau punya koleksi yang langka.”
“Hmmm, I see .”
“And, u’re damnly rite. Menurutku jazz itu romantis. Anyone who loves jazz, mostly calm and romantic.”
“And u’re interested on that kind of guy?”tanya Aron.
“Yes ,it sounds corny but, u know what? I’ll love to kiss a guy who gives me a jazz CD than someone who gives me a diamond ring. They must be kind-hearted and sweet. It’s not about the price, it’s about the taste.”
Pria ini punya taste.Aku memutar CD yang diberikan Aron sambil mengemudikan mobil. Hh,Aron. Mungkin aku akan memberinya kesempatan.
Kalau pria serius sekali mendekatiku, mungkin aku akan memberikan green light untuknya. Kalau dia hanya serius biasa, kuberi yellow light.. Sedangkan jika ia tidak benar-benar serius dalam artian dia mendekatiku bersamaan dengan beberapa perempuan lain, jelas langsung kuhadapkan dengan red light .

Puluhan pria berdatangan mencoba memberikan treatment terbaik yang bisa mereka berikan. Ada yang berupa materiil, ada yang berupa kata-kata. But like I said before, I’ll never harm my settled relationship just for unimportant pleasure.
Meskipun begitu, jika ada pria yang mencoba serius, aku tidak pernah angkuh dalam memberi kesempatan. Karena jika dia serius, berarti itu bukan hanya bentuk unimportant pleasure dan layak diperhitungkan. Lagian, aku bukan orang yang moralis. Setia bukanlah salah satu nilai prinsipku.
Memang aku memiliki Mikael di sampingku, dalam artian aku tidak single. I'm taken. Siapa berani menawarkan cintanya terhadapku, berarti dia siap untuk berkubang dengan cinta segitiga diantara aku dan Mikael. Tapi jangan salah, aku tetap tidak sudi ‘disambi’.Maksudnya, terserahlah apabila orang yang mendekatiku rela untuk berbagi dengan Mikael. Toh aku tidak pernah meminta mereka untuk datang kepadaku kok. Mendekati taken woman udah keputusan harakiri yang mereka ambil di awal.
Tapi jika orang yang mendekatiku sendiri sudah taken atau misalnya dia mendekatiku bersamaan dengan mendekati beberapa wanita lain, silahkan mundur teratur. Aku bukan pilihan. Egois memang, tapi ini adalah rule yang kubentuk. aku begini? Ketidaksetiaan menurutku juga merupakan bentuk sacrifice. Jangan dikira selingkuh itu enak dan gampang. Tidak setia berarti mengorbankan pasangan dan hubungan yang dibina lama. Belum lagi urusan harus pandai bersilat lidah yang harus menggunakan otak. Harus berbohong terhadap pasangan, harus mengorbankan waktu yang ada dan juga harus siaga.
Jadi, sudah beruntung bagi pria yang datang jika aku mau membagi perasaanku padanya. Tapi jangan harap aku mau merelakan perasaan mereka kepadaku dibagi-bagi.
Aurea Frigida is way too priceless. Hahaha.

Cherry

Suasana kelas riuh, beberapa anak bodoh tampak rela mengambil risiko dihukum hanya demi lempar-lemparan kertas. Memangnya mereka tidak punya handphone, tidak bisa sms? Atau memangnya, waktu mereka untuk berbincang hanya saat guru menerangkan? Apakah setelah pelajaran ini usai mereka akan mati sehingga tidak bisa akan ada waktu untuk berbagi cerita?
Banyak hal dalam kepala anak usiaku yang tidak bisa aku pahami seluk beluknya.
Mama selalu berkata padaku bahwa bersosialisasi itu sangatlah mudah dan menyenangkan. Bersosialisasi dengan baik akan membuat perjalanan menit terasa lebih mengasyikkan sehingga mampu mengatasi kebosanan rutinitas yang memeras tenaga dan otak seperti misal belajar di sekolah atau bekerja.
Sebaliknya, aku memilih seharian mengerjakan soal-soal polynomial identity atau integral dibandingkan harus terpaksa bermanis-manis satu jam saja di ulang tahun teman.
“Anak-anak, kita akan mengadakan pementasan drama.” Bu maria memberikan arahan. Anak-anak berseru riang dan mulai heboh memperbincangkan drama aja yang sekiranya menarik.Membosankan.
“Pementasan drama ini akan dilombakan antar kelas. Kelas dengan aksi drama terbaik akan mendapatkan piala, dan tentunya peningkatan nilai bahasa Indonesia di raport.”
Tanpa drama tersebut pun, nilaiku sudah jelas A.
“Kalian harus adaptasi drama berdasarkan dongeng-dongeng Hans Christian Andersen. Ada 168 total dongeng Hans Christian Andersen yang bisa kalian pilih, dari yang pertama The tinder-box sampai dongeng terakhir, urbanus. Satu anak di kelas ini akan menjadi sutradara sekaligus menjadi penulis skenario. Tugasnya menyadur dongeng menjadi dialog. Tugas ini tidak mudah, jadi diharapkan yang akan menjadi sutradara harus yang benar-benar jago dalam mata pelajaran ini.”
Seorang anak tiba-tiba menyela, “ Kalai begitu jelas Cherry. Kalau dia yang membuat scenario, pasti kelas kita menang.”
Bu Maria tersenyum simpul ke arahku, tentunya ia setuju. Dia selalu memuji luasnya perbendaharaan kataku yang katanya meyamai seorang filsuf. Bahkan, ia memanggilku dengan sebutan ‘anak brilian’ dan sejujurnya, aku tidak menyukai panggilan itu. Panggilan itu tetap mengesankan aku anak-anak, tidak peduli bahwa ada embel-embel apapun di belakang namaku.

Mungkin Bu Maria tidak menyadari bahwa pola pikirku sebenarnya tidak jauh beda dengan orang seumurannya. Ia tidak tahu bahwa di balik wajah berpipi ranum ini, aku menyimpan hasrat gila-gilaan ingin mencumbu mahasiswa kedokteran bernama Mikael. Kalau saja ia tahu, ia akan enggan dengan panggilan ‘anak’ lagi.
“Ada usul Cherry, mau pilih cerita yang mana?”tanya Paramitha, sambil menyikut lenganku.
“Ada. Aku mau The Little Mermaid.”jawabku cepat.
Paramitha tampak kaget akan pilihanku, aku tahu dia pasti mengira aku akan memilih cerita yang tidak se-umum itu dan memberikan cerita membuat seisi kelas takjub darimana aku pernah membaca karya Andersen yang tidak terlalu populer sehingga tidak pernah diterbitkan di took buku namun bisa menceritakannya dengan sempurna.
Mungkin Paramitha mengira aku akan memberikan pilihan kepada Anne Lisbeth, karya Andersen yang unik, atau The Moon yang lebih moralis. Tapi kini aku memilih The Little Mermaid, yang bahkan sudah diolah ulang Walt Disney menjadi film kartun bertokoh Ariel yang memiliki akhir kisah happy ending: she lives hapilly ever after yang sangat khas si Disney dan menjadi produk komersil Disney Coorporation.
Tapi tentunya aku punya alasan tersendiri kenapa aku memilih cerita The Little Mermaid.
Mermaid yang berharap cinta kepada pangeran hingga rela menukar suara emasnya menjadi sepasang kaki hanya untuk bisa berkenalan dengan sang pangeran, yang pada akhirnya hanya mati bersama buih di lautan sedangkan di pangeran menikah dengan putri dari negri tetangga.
Mermaid yang mendambakan ‘jembatan magis’ untuk bisa menyebrang ke dunia Mikael, karena mereka berada di dua dunia berbeda.
Sama seperti Mermaid, jembatan magis diantara aku dan Mikael tidak akan pernah ada. Jembatan itu sudah runtuh, bahkan sejak awal pilar-pilarnya dibentuk.


Mikael

Kamarku adalah satu-satunya bagian rumah yang tidak bergaya Victorian ,karena aku memang menyukai perabot dan gaya minimalis. Sangat berbeda dengan bagian lain rumahku seperti ruang keluarga di mana sekarang aku sedang bersantai bersama Mami dan Chaca, sangat Victorian lengkap dengan lampu kristal emas menjuntai ala generasi Rose of Versailles . Terasa terlampau kaku buatku. Gaya rumah seperti ini terlalu seperti negri dongeng, kesannya rumah pun bertopeng.
Namun keinginanku selalu menjadi pendapat minoritas.Penyumbang suaranya biasanya hanya satu orang, yakni aku sendiri. Jadi jadilah rumah ini tetap bertahan dengan gaya Victorian-nya meskipun kamarku diizinkan tidak menyesuaikan. Sama seperti keinginanku menjadi dokter, dilegalisasi asalkan aku tetap mau menjadi penerus perusahaan Algero Corporation milik ayahku yang bergerak di bidang mebel kelas ekspor.
“Sayang, mama mau beliin ini buat Aurea, dia kira-kira suka nggak ya?” Mami memamerkan sebuah tube top floral dress John Galliano.
“Bagus.Beli di Singapore kemarin ma?” tanyaku dengan sikap tak acuh, mengalihkan pandanganku dari Koran dan menatap sekilas ke arah dress itu. Kenapa aku harus menilai sebongkah kain seharga 20 juta. Bukan mau skeptis, tapi aku memang sama sekali tidak bisa apresiasi urusan fashion wanita.
“Bukan, mama titip ke mbak Agni, dia habis belanja di Europe. Ini kembaran sama punya adik kamu.”
Kadang aku nggak habis pikir. Buat apa sih mau belanja baju saja sampai harus jauh-jauh ke Eropa. Memangnya di Plasa Senayan nggak ada baju?
Harganya juga menurutku nggak wajar, kenapa mereka nggak mematok budget nalar untuk selembar kain yang dijahit? Nggak kasihan memang kalau ingat banyak orang yang makan aja susah.
Mama, Aurea, atau Chaca adikku selalu punya argumen mengenai pemborosan seperti itu.
Kata Mama, kualitas dari barang branded dan barang biasa jelas berbeda. Kata mama pembelian barang mahal bisa berarti investasi, karena pemakaiannya bisa dalam jangka waktu yang lama.
Pembelaan Aurea, setiap orang memiliki standar hidup yang berbeda-beda dan kapasitas yang berbeda-beda. Kata Aurea, kebutuhan hidup nggak bisa digeneralisasi. Makin tinggi strata eknonomi, makin besar pula kebutuhannya. Jadi memang orang sebaiknya menjadi konsumen pada levelnya.
Chaca lain lagi, ia bilang bahwa jika memaka pakaian branded akan menaikkan ‘nilai jual’ ia di mata calon pacar. Jadi fungsinya kayak status symbol, yang kata Chacha menyampaikan pesan tersirat lirik lagunya J.Lo ‘Love Don’t cost a Thing ’ yang : Think I wanna drive your benz I don’t , If I wanna floss I got my own .
Apapun penjelasan mereka, menurutku tetap kurang reasonable.
Tiba-tiba Chaha menghambur masuk ke ruangan “ Mam, ternyata galliano dress yang Chaca beli kembar sama untuk Kak Aurea masuk di Vogue!”
Aku lama-lama merasa jengah dengan segala omongan tidak bermutu ini, kutinggalkan koranku di ruang tamu. Aku bergegas melangkah masuk ke kamarku. Aku masih butuh melahap banyak buku psikiatri lagi, dibandingkan menyerap ilmu mengenai fashion bersama dua wanita ‘plastic’ di keluargaku ini. Cukup sudah fashionista chit-chat yang terpaksa kudengarkan dari bibir Aurea di luar rumah, aku tidak ingin ditambah-tambah lagi di rumah. Kalau lebih lama lagi, aku bisa -bisa ganti orientasi seksual.


Cherry

“Mbak Cherry, disuruh ibu makan.” ujar Rani, pembantu rumah tangga yang paling lama bekerja di tempatku. Aku baru sadar bahwa nampaknya sedari tadi ia sudah berdiri di ambang pintu kamarku.
“Tolong bilang saya akan makan nanti, belum lapar. Tolong ditutup pintunya ya mbak. Makasih.” ujarku dengan maksud mengusir secara halus dan tampaknya Mbak Rani menyadari maksud ucapanku karena ia langsung melangkah pergi.
Sudah seminggu ini aku tidak bertemu dengan Mikael. Katanya, dia sibuk sebagai resident. Benar atau tidak, aku bukanlah seseorang yang berhak menuntut penjelasan mengapa dia tidak menemuiku begitu lama. Lagipula, dia memang tidak memiliki kewajiban harus terus-terusan absen wajah di hadapanku. Siapakah aku? Hanya sebuah objek. Bisa juga disebut subjek, dalam peranku di penelitian Mikael. Namun tidak pernah bisa lebih dari itu.
Sebagai manusia pasti kita pernah merasakan yang namanya rindu. Rindu itu bentuknya bermacam-macam. Bisa jadi luapan nafsu, luapan haus kasih sayang, atau bisa juga justru menjadi luapan kemarahan.
Namun aku tidak bisa membaca, bentuk kerinduan mana yang aku rasakan sekarang. Lebih tepat dibilang, aku mati rasa. Aku tidak bisa meraba perasaan ini perasaan apa, aku bahkan tidak mampu menjejak di permukaan tanah. Aku tidak bisa merasakan aliran udara yang bergerumul mendesak memasuki rongga hidungku, aku juga tidak bisa merasakan sentuhan kasar serat kayu yang menggesek permukaan kulitku.
Aku tidak bisa menatap ke wajahku sendiri, meskipun aku berada di hadapan cermin besar. Aku tidak tahu siapa yang kulihat. Aku tidak tahu mengapa aku duduk di sini. Aku bahkan tidak menginginkan melihat mukaku. Aku asing dengan pemilik wajah itu.
Dimana aku sekarang. Bumi tidak kupijak, udara pun tidak kuhirup.
Suara-suara di dalam pikiranku berebut saling menyalahkan. Tapi fisikku kaku, tidak bergerak. Dilema ini tidak mungkin diakhiri hanya dengan menjentikkan jari, atau menggeserkan tubuh.
Lambungku tidak berteriak meminta makan, seperti halnya bibirku tidak minta disentuhkan air.
Perasaan ini tidak memintaku untuk menyebutkan namanya, perasaan ini hanya memintaku merasakan. Meski hanya dengan bisikan letih di dalam hati, yang bila diucapkan mensayat-sayat logika.
Satu yang aku tahu, segalanya harus kubuang jauh-jauh sesegera mungkin. Aku tidak mungkin terus-terusan mengiba pada diri sendiri untuk minta dikasihani.
Tidak mungkin aku membangun jembatan untuk menyeberangi dua planet. Jaraknya terlalu jauh. Bahkan tidak akan bisa tertempuh meskipun menggunakan daya hitung aritmatika.
Tidak mungkin aku mendaki gunung yang tidak berpuncak. Itu sia-sia, membuat letih , dan menghabiskan waktu.Atau lebih baik, aku berlari ke tebing, kemudian terjun? Kelihatannya mengasyikkan.
Too much? Terlalu melankolis? Lebay?
Sebut saja semua kata yang terlintas untuk mendeskripsikan perasaan rinduku ini. Memang, aku akui perasaan ini berlebih. Entah apa semua mahluk bernama manusia memang selalu menjadi antilogis seperti ini ketika jatuh cinta, atau hanya aku sendiri yang terlalu gila dalam bereksplorasi tentang perasaan ini.
Kupikir harusnya, jatuh cinta itu dimasukkan dalam daftar penyakit kronis.

Mikael
Aku muak sebenarnya hidup dalam kehidupan yang serba plastik. Aku heran mengapa orang-orang disibukkan berbagai dogma ingin menimbulkan kesan A, B dan C kepada orang lain. Kenapa hidup tidak dibuat lebih mudah: azas kepentingan pribadi.
Blackberry ku berbunyi. Aku meletakkan Koran yang tadi asik kubaca sambil berjalan di tempat tidur kemudian merogoh si ponsel di saku.
Checking, one email received.
Mukaku langsung malas begitu melihat pengirimnya.
Om Pramanto, hell. Ada apa lagi? Lama-lama aku jadi merasa menjadi pesuruh keluarga Hanggoro.
‘Tiket ke Jepang sudah disiapkan. Keterangan ada di attachment.’
Mereka seenaknya menentukan tiket bahkan tanpa mendiskusikan waktunya terlerbih dahulu denganku. Aku langsung mengacak-acak rambut gusar, enggan membuka attachment e-mail tersebut.
Aku jadi ingat mengapa Cherry dirujuk berada dalam pegawasanku.

Saat itu aku sedang berada di ruangan Prof. Dr. Hendro Brawoto, dokter senior yang juga merupakan dosen ku dalam mengambil psikatri.
“Mikael, kamu saya kasih pasien ya. Kasus dia cukup menarik, dan tidak rumit. Kamu bisa belajar banyak dari ini.”
Saat itu banyak perkiraan muncul di pikiranku, aku sempat menyangka akan mendapat kasus sederhana masalah keluarga. Tak dinyanya, kasusnya justru jauh lebih sederhana: menangani anak kecil.
Pikiranku salah besar. Cherry sama sekali bukan kasus sederhana, walau memang tidak terlalu rumit. Saat itu aku sama sekali tidak menyangka bahwa bisa terjadi banyak komplektisitas dari anak kecil semacam Cherry. I thought geniust is not that matters. Ternyata IQ kelewat tinggi pun bisa berujung problematika. Segala sesuatu yg berlebih itu memang kurang baik.
Ditambah satu hal lagi.
“Mikael, kamu harus tau suatu hal. Ayah Cherry, Pramanto Hanggoro memiliki saham di rumah sakit swasta tempat saya bekerja. Jadi sebisa mungkin jangan sampai kamu kecewakan dia, kamu membawa nama baik saya.”
Pesan dari Prof. Dr. Hendro Brawoto menambah bebanku dalam menangani kasus Cherry ini. Aku harus memperlakukan ia sebaik- dan sepantas mungkin. Sementara, Cherry ini sendiri sangat sulit diakrabi, tidak mudah seperti anak-anak seumurannya yang akan diam jika disogok cupcake.
Aku tidak bisa mengejar lorong pikirannya meskipun aku berjalan cepat.
Setelah aku mengenal Cherry , aku baru sadar bahwa kegeniusan itu does matter.
Aku ingat pertama kali aku berkenalan dengan Cherry.
Saat itu tidak terlintas sedikitpun di benakku, bahwa dia adalah anak yang ‘susah’. Kulitnya putih dan pipinya bersemu merah ranum seperti buah apel. Mengingatkan kita pada tokoh kartun hello kitty.
Saat itu dia menggunakan dress tanpa lengan berenda berwarna putih dengan aksen pita pink di bagian dadanya yang masih rata.
Saat itu aku membayangkan ia adalah tipikal anak kecil yang selalu excited jika diajak berkenalan. Kupikir ia akan bersemangat menceritakan tentang dirinya dengan gaya sok pintar khas anak cerdas.
Tapi ia lebih dari sekedar anak cerdas. Dia luar biasa, dia brilian, sekaligus menyebalkan.
Ketika itu dia duduk sendirian di sofa marun ruang tamunya yang cozy, ketika orangtuanya sibuk berbincang dengan Dokter Hendro. Berhadapan langsung denganku.
Inisiatifku langsung berjalan untuk membuka kalimat perkenalan meskipun pada dasarnya aku bukan pecinta anak kecil.
Aku tidak melupakan menyertai senyuman ramahku meskipun saat itu aku sangat lelah habis melakukan tugas diagnosa yang sangat banyak dari Dokter Hendro, “Hai adik manis, nama kamu Cherry ya?”
Aku ingat sekali saat itu Cherry menaikkan sebelah alisnya, menatapku dengan tatapan kaku yang membuatku seperti melihat perempuan 15 tahun lebih tua disbanding yang berada di hadapanku ini, dan berkata, “Ya, saya Cherry. Anda siapa?”

Aurea
Espumosa Gathering , kediaman Menteri Luar Negri Abrian Maulana,
“Lu tahu nggak sih, Anaknya Farid Algero, yang punya Algero. Corp?” bisik Nadya Maulana, si tuan rumah, kepada teman di sampingnya, Alena Hafid.
“Kalo nggak salah kakaknya Fredericha ya? Mikael kan namanya? Dokter muda. Gua pernah satu tempat les bahasa prancis bareng sama Fredericha. High maintenance juga tuh adiknya. Udah kebaca lah levelnya kakaknya. Damnly hot.”tanya Alena, dengan volume yang direndahkan, tapi tetap saja terdengar olehku, yang berjarak hanya 3 meter di dekat mereka.
“Itu pacarnya.” Nadya berbisik, sambil pointing her manicured finger ke arahku.
Alena menendang kaki Nadya sambil mendesis, “She’s looking at us, ass.”
Dasar wanita-wanita cerewet. Kalau bukan demi prestige aku nggak akan sudi berkumpul dengan mereka. Baru kenal saja sudah ada kecenderungan backstabbing, berani ngomongin di belakang. Suka banget sih ngurusin urusan orang. Sebenernya latar belakang ekonomi mereka dan aku cukup senjang, harga tas mereka sama dengan harga mobilku. Di samping mereka semua adalah tong kosong berbunyi kerompyangan, otaknya isinya cuma party. Jadi sebenarnya tidak ada yang membuatku merasa benar-benar nyaman di tengah mereka.
Aku baru 3 kali datang ke gathering kecil ini (atau bisa dibilang arisan, karena diadakan rutin). Nampaknya Alena dari 3 kali pertemuan kemarin belum terlihat, baru balik dari tour de Europe. Hal itulah yang menyebabkan dia nampak penasaran sekali denganku, dan menatapku seperti melihat hantu.
Aku tahu dia Alena karena dia benar-benar seorang social butterfly. Hidupnya hanya mengikuti kemana arah arus party. Fotonya selalu nampang di setiap kolom party pix di majalah-majalah.
Aku mengikuti arisan bernama Espumosa club ini hanya untuk mengangkat gengsiku. Berasal dari kata espumoso dalam bahasa spanyol yang artinya ‘gemerlap’.
Aku butuh komunitas yang mendukungku secara social untuk memperluas jaringan. Di samping itu, ibu Mikael pasti akan tambah senang apabila aku mengikuti espumosa club ini, karena, dia sendiri mengikuti arisan ‘ibu-ibu’ nya Espumosa yakni Elegante . Fredericha, adik Mikael sebenarnya juga merupakan anggota espumosa tapi dia jarang datang karena ia memilih shop til’ drop daripada harus berbasa-basi di sini. Maklum jiwanya masih jiwa anak kecil , anak SMA. Alhought she loves glamorous stuffs, she isn’t comfortable enough with the society crowd.
Berbeda denganku, aku menyukai berada di tengah keramaian, menjadi center of attention walaupun kadang jengah juga kalau mendengar sendiri ketika sedang dibicarakan seperti sekarang, dan karena aku Aurea Frigida, aku nggak akan diam saja.
Aku berdiri dari sofa tempatku duduk, dan melangkah penuh percaya diri di atas lime green channel stilettoku , mendekati mereka yang langsung tersenyum aneh, canggung karena terpergok sekaligus berusaha ramah.
“ Sorry, accidentally hear that. Perkenalkan, saya Aurea Frigida.” ujarku sambil mengulurkan tangan.
Ekpresi wajah Alena langsung berubah angkuh lagi, namun tetap ramah, “ Saya Alena Hafid. Kamu pacarnya Mikael Hasya Algero ya? Saya sempat kenal dia dari Fredericha.”
Aku hanya menjawabnya dengan senyuman. Jelas sekali rasa iri tenpancar di sorot matanya, meskipun ia berusaha keras menyembunyikannya. Sudah rahasia umum bahwa Alena pernah flirting habis-habisan sama Mikael di Dragonfly waktu ulang tahun Fredericha. Mikael saat itu justru merasa risih setengah mati kemudian menyuruh Fredericha menyingkirkan Alena. Alena yang setengah mabuk menolak mati_matian dibawa jauh dari table Mikael. Paling memalukan adalah karena Alena terlalu hiperaktif, ketika ia akhirnya berhasil dibujuk meninggalkan meja Mikael, ia justru jatuh tersungkur dan memecahkan sebotol balleys.
Sayang sekali, girl. Kita berada dalam level yang berbeda. I never hunt boys, they hunt me.
“Nice ferragamo bag anyway.” tambah Alena, mengulaskan sedikit senyum , sinis.
Aurea menjawab hanya dengan senyuman lagi. Harus bilang apa aku? Mengoceh panjang-lebar tentang di mana ia membelinya dan berapa harganya? Oh, that’s so not me. Lagian aku bukan orang yang gila akan ‘kelas’, aku hanya berusaha tetap berpijak pada dimana aku berada seharusnya. Lagian aku tidak cukup bodoh terpancing berbicara mengenai tas, yang pasti akan di cut oleh Alena. Hermès birkin di tangannya tidak terlepas dari sorot mataku. Meyandingkan feragammo dengan hermes birkin sama saja bunuh diri.

Cherry
Aku memainkan jariku di atas keyboard laptop , menciptakan kalimat-kalimat melankolis untuk skenario drama The Little Mermaid nanti. Sejak tadi pagi aku tidak keluar kamar, aku sengaja membolos untuk berasyik masyuk mengerjakan tulisan ini. Aku suka menulis, dan ini merupakan kesempatanku untuk sedikit menikmati tugas sekolahan. Orang tuaku tidak pernah melarangku membolos sewaktu-waktu, karena mereka tampaknya tahu benar bahwa sebanyak apapun aku membolos tidak akan mempengaruhi performa prestasiku.
Terdengar suara pintu kamar dibuka.
Aku menoleh untuk melihat siapa yang datang. Jantungku berdegup keras, rasanya seperti diremas. Mi principe. Aku cepat-cepat menoleh lagi ke layar laptop. Untuk saat ini aku enggan melihat wajahnya. Aku takut sontak perasaan ini menggelembung cepat dan meledak sehingga aku dengan cerobohnya menelanjangi isi hatiku seperti beberapa hari lalu kala aku menangis dengan buruk sekali di hadapan Mikael.
Parahnya, Mikael justru mendekatiku, kemudian dengan jahatnya meletakkan tangannya di bahuku, yang membuat sekujur tubuhku merasa seperti tersetrum elektron 3000 volt. Kejutannya menrayap ke seluruh permukaan kulitku dan organ tubuhku, dengan pusat sontakkan hebat di jantungku.
“What are u doing, young lady?” tanya Mikael.
Aku hendak menjawab, tapi tidak ada satupun kata yang berhasil keluar dari bibirku. Akhir-akhir ini penyakit hati yang kuderita semakin parah, makin sulit disembunyikan.
Aku takut sekali jika luka ini tampak.
Aku akhirnya tidak menjawab, takut-takut jika suara yang keluar terlihat seperti tercekik sehingga mempermalukan diri sendiri. Aku hanya menunjuk layar laptop, membiarkan Mikael membacanya sendiri.
“The Little Mermaid? Ternyata kamu tertarik juga dengan sesuatu yang biasa.” komentar Mikael, bersamaan dengan suara tawa renyah yang membuatku ingin memiliki tawa itu selama-lamanya.
“Aku baru diberi tahu oleh ibumu, kamu tidak masuk sekolah lagi. Nampaknya kamu terlihat sehat, jadi mungkin ini masalah kebosanan. Hehehe. Wajar sekali kok, dulu waktu aku masih sekolah serin begitu. Oh ya, kamu sudah tahu, tiket kita bersama untuk liburan ke Jepang sudah diurus? Siap-siap saja kamu bosan, menghabiskan waktu bersamaku.”
Aku sempat tenganga beberapa saat, tidak mempercayai apa yang barusan kudengar
Apa? Bosan? Bahkan aku bisa mati kegirangan.
“Susah kepikiran apa yang mau kamu lakukan di sana? mm, let me guess mungkin kamu ingin melihat cosplay di jalanan harajuku? Atau shopping?” Mikae nampak mencoba memancingku berbicara, aku paling tidak suka dianggap bodoh. Menurutku, ke Jepang hanya untuk melihat langsung kehidupan para ganguro* atau real-life fashion exhibition di harajuku merupakan kegiatan perempuan perempuan tipikal dumb-blonde macam Aurea Frigida.
“Musashi .”bisikku. Akhirnya, aku bisa mengeluarkan sepatah kata tanpa terbata.
“Ya?” tanya Mikael, sambil meletakkan tangannya di belakang kuping, mengisyaratkanku untuk berbicara lebih keras. Menurutku, perlakuannya seperti ini jelas-jelas menganggapku seperti anak kecil.
“Aku ingin melihat makam Miyamoto Musashi di Ichijoji, Kyoto. Aku ingin membeli buku tentang Go Rin No Sho, catatan perjalanan Musashi. Aku lebih tertarik pada historikal Jepang, bukan fashion nya.”
“Who’s Musashi?” tanya Mikael, penuh rasa ingin tahu.
Aku suka ketika Mikael bertanya sesuatu kepadaku. Aku jadi merasa disetarakan, naik derajad dari sekedar objek penelitian.
“Samurai dan ronin yang sangat terkenal di Jepang pada abad pertengahan. Nama lengkapnya Shinmen Musashi No Kami Fujiwara No Genshin.”
“Wow, interesting.” ,sesaat wajah Mikael tampak takjub, menyadari betapa luasnya pengetahuanku. Jelas saja, ia biasa menghabiskan waktunya dengan perempuan macam Aurea.
*ganguro : (ガングロ; "Black Face Girls") is an alternative fashion trend of blonde or orange hair and tanned skin among young Japanese women that peaked in popularity around the year 2000, but remains evident today. The Shibuya and Ikebukuro districts of Tokyo are the center of ganguro fashion.


Mikael
Aku terheran-heran. Miyamoto Musashi? ronin? What the hell is that? I never heard about that before. Umurku sudah kepala dua puluh dan tidak pernah sekalipun terlintas dalam benakku untuk mempelajari seluk beluk historikal jepang. Sungguh heran sekali anak kecil di depanku ini menguasai semua hal itu. Kapan ia mempelajarinya?
Cherry masih tidak mau menoleh ke arahku. Aku berkesimpulan, nampaknya ia sangat membenciku. Sungguh tidak mudah menangani anak seperti Cherry , susah menembus pikirannya. Lama-lama aku jadi jengah bermanis-manis. Mungkin aku harus berhenti memperlakukan dia seperti anak kecil, toh ia terlalu dingin sebagai anak kecil.
“Kenapa kamu tertarik tentang Mushashi?” aku bertanya dengan nada datar, yang sekiranya tidak menimbulkan kesan membujuk atau berusaha ramah. Mungkin anak ini tidak suka dibujuk.
“Musuh pertama musashi ditemuinya ketika ia baru berusia 13 tahun. Ia adalah Arima Kihei, samurai perguruan shinto ryu bidang seni militer yang terampil bermain pedang dan tombak. musashi mengalahkannya dengan cara melemparnya ke tanah dan memukulnya dengan tongkat, sehingga musuhnya tersebut mati berlumuran darah. Menurut legenda dia mengalami 60 pertarungan tanpa mengalami kekalahan sekalipun.
Pertarungan terakhirnya melawan Sasaki Kojiro, seorang lawan yang jauh lebih muda darinya dan sangat berbakat. Tetapi Kojiro kalah karena Musashi membuatnya egonya terusik dengan sengaja datang terlambat ke arena pertarungan.pada akhir pertarungan. Namun Musashi tidak mengakhiri nyawa Kojiro, bahkan memberi hormat kepada lawannya. Menurutku Musashi adalah seorang ksatria yang memiliki sangat berkarakter.”terang Cherry, tidak mengalihkan sedikitpun pandangannya dari layer depan laptop.
Sekali lagi aku dibuat heran karenanya, seorang anak kecil memiliki ketertarikan besar terhadap karakter historikal. Meskipun Musashi memiliki poin heroik, namun akan lebih wajar ketika anak seumurannya memilih mengidolakan Wonder woman atau spiderman yang juga sama-sama memiliki sisi heroik namun lebih general dan menarik. Bahkan aku pun memilih mengidolakan Ironman dibandingkan dengan mengidolakan pahlawan historikal. Kisah historis menurutku terlalu filosofis dan bertele-tele. Mengikuti sejarah sama tidak menariknya dengan membaca sastra. Pelukisannya selalu mempersulit hal yang mudah, sehingga membutuhkan imajiner tinggi untuk belajar menyukainya. Ketidaksukaanku terhadap ilmu sosial lah yang membuatku memilih preferensi jurusan eksakta.
“Cherry, kamu mau es krim?”tanyaku, mencoba mencairkan suasana yang tadinya sangatlah kaku. Sungguh tidak wajar, mengingat yang berada di hadapanku ini adalah anak kecil.
Cherry menatapku sejenak, kemudian menutup laptopnya dengan satu gerakan halus, “Cuma mau kalau greentea ice cream cheese cake factory.”
Well, why not?
“Okay, ayo.” ajakku, sambil menggandeng tangan Cherry. Cherry ternyata membalas gandengan tanganku, merengkuhnya pelan-pelan.
Aku dan Cherry membeli es krim dan memakannya di mobil.
Selama di mobil, kita jarang berbincang. Cherry makin waktu makin terlihat pendiam, makin sulit berkomunikasi dengannya.
Ia sekali-kali berdendang pelan, mengikuti suara musik yang diputar di audio mobilku. Tapi pandangannya terlihat menerawang ke suatu tempat yang jauh. Tidak berada di sini.
Terkadang aku bingung mengklasifikasikan anak seperti Cherry. Entah jenius, entah indigo. Terkadang pula aku menklasifikasikannya sebagai prodigy child yang berarti anak yang memiliki bakat setaraf dengan orang dewasa dalam umur yang masih kecil, seperti missal Wolgang Amadeus Mozart, yang memiliki skill musik seperti maestro dalam usia dini.

Aurea

Sambil menunggu pedicure treatment di kakiku selesai dikerjakan, aku menatap wedding dress vera wang di majalah vogue , tersenyum simpul. Andai saja besok kalau menikah bisa pakai gaun ini, meskipun membayangkan harganya saja bikin pusing kepala.
Siapa ya yang nanti akan jadi mepelaiku? Membayangkannya bikin pengen senyum-senyum sendiri.
Terpikir olehku dari kecil untuk memakai long gown daripada kebaya untuk nikahan nanti.
Dari dulu aku memang lebih meyukai hal-hal yang praktis, daripada tradisional. Aku merasa hal-hal tradisionil terlalu ribet dan merepotkan. Hidup ini hanya satu kali. Kalai bisa hidup dengan lebih mudah, kenapa harus cari jalan yang susah?
Aku meluruskan kakiku, relax
“Mbak, masih lama nggak?” tanyaku kepada si juru pedicure , dari penangkapan yang kulihat dari name tag nya , aku mengetahui kemudian bahwa namanya Winda.
Winda nampak sedikit takut, mengira aku terkejar waktu sehingga membuatnya harus terburu-buru. Ekspresinya terlihat bingung , sejurus kemudian ia melayangkan padangan ke jam dinding di tembok.
“Mm, mungkin satu jam lagi mbak.” ujarnya, tanpa melihat ke wajahku.
“Santai aja, saya nggak buru-buru. Saya cuma mau mastiin kalau yang jemput saya bakalan datang on time .” ujarku, agak merasa ternganggu dengan gelagat takut-takutnya. Memangnya aku macan? Biasa aja deh.
Aku membuka layanan blackberry messenger , kemudian mengetik text untuk Mikael,
‘ di mana? Bales cepet’
Beberapa puluh detik kemudian langsung dibalas.
‘bersama Cherry, sampai kira-kira 3 jam ke depan’
Hhh, aku menahan nafas jengkel. Pekerjaan Mikael ini mulai mengganggu intensitas pacaran kami. Kalau begini, lama-lama perasaan sayang yang ada pun surut cuma gara-gara tugas nggak penting dari seniornya
Please deh , apa pentingnya coba menjaga stabilitas emosi seorang anak kecil yang (hanya) memiliki kelebihan otak dibanding anak seusianya. Apakah memang harus butuh jasa psikiater yang harus take over tugas baby sitter? Oh, pekerjaan Mikael kali ini benar-benar kurang bermutu.


Aku menimbang-nimbang, siapa kira-kira yang akan kuberikan privilege menjemputku di sini. Aku menyebutkannya sebagai ’privilege’ karena aku tahu menjemputku adalah achievement bagi para pria itu, bukan punishment . Jika mereka menjemputku dari salon, maka ketika teman-teman mereka bertanya “Di mana lo?” mereka bisa menjawab dengan sukacita , “Menjemput Aurea Frigida.”
Kalimat ‘menjemput Aurea Frigida’ terdengar seperti ‘ada-apa-apa-dengan-Aurea-Frigida’. Jelas sekali, bahwa ‘ada-apa-apa-dengan-Aurea-Frigida’ akan meningkatkan posisi tawar mereka. Siapa Aurea Frigida? Salah satu jajaran perfect girlfriend material nya Jakarta. Menggandeng Aurea Frigida, kamu dapat nama. Belum lagi,status Aurea sebagai pacarnya Mikael Hasya Algero owner Algero. Corp . Peluang yang benar-benar merupakan social ladder.
Kumasuki folder contact di dalam handphone , dan membuka group bernama ‘boys’. Sambil memejamkan mata, aku scrolling daftar nama itu, kemudian randomly , berhenti. Kemudian, ketika aku membuka mata, aku tersenyum melihat di mana jariku menghentikan nama.
Aron Rahandi.
Kalau pilihan jatuh padanya, namanya bukan hanya memberikan sumbangsih advantage kepadanya, melainkan simbiosis mutualisme.
Sebuah pesan masuk, pengirimnya tante Hervina Sahesya Algero.
Aku mendengus, menebak apa yang kira-kira dikirimkan Tante Hervin. Pasti tentang social life and stuffs, aku diajak menemaninya ke fashion show perancang ini lah, diajak menemani ke pesta amal yang diadakan socialite itulah. Segala hal tentang Tante Hervin selalu membosankan, beliau ini tipikal istri orang kaya yang banci tampil di majalah lifestyle, tapi kalau diajak bicara tentang current issue tidak pernah nyambung.
Dan benar, isi pesan tersebut berbunyi demikian;
‘Dear Aurea, nanti jam 4 temani tante ke launching house of designer nya temen tante di Grand Indonesia ya. Kamu pasti suka, model baju-bajunya Europe banget.’
Kalau situasi seperti ini, mendingan pura-pura tidur saja. Jam 5, aku akan menelpon si Tante Hervin kemudian minta maaf dan beralasan baru bangun. Lebih baik susah-susah merangkai kata untuk merayu agar dimaafkan daripada harus berbincang berjam-jam bersama para ibu-ibu super glamorous yang selalu saling berusaha cari tau berapa banyak botox yang sudah masing-masing suntikkan ke wajah karena kebanyakan dari mereka tidak punya otak.

Cherry
“..kemudian Mermaid berkatata, ‘biarkanlah aku hilang bersama buih buih di lautan, karena nilai eksistensiku bukan berwujud raga, melainkan rasa.”aku menyelesaikan kalimat terakhir dari skenario drama mengenai si ikan duyung.
‘Plok, plok, plok!’ sambutan tepuk tangan dari Bu Maria, disusul riuh tepuk tangan dari seluruh siswa sekelas, semuanya menatap takjub kearahku, beberapa diantara mereka sampai melongo. Aku bahkan tidak yakin mereka memahami isi teksku, kenapa mereka harus tampak kagum? Apa mereka ingin berpura-pura memahami skenario itu agar di-cap pintar? Menjemukan.
“Brilliant!” puji Bu Maria. Aku bosan dengan kalimat pujian itu.
“Ini bakal jadi drama yang keren banget!” ujar Paramitha semangat, sambil menepuk-nepuk punggungku. Aku bahkan tidak peduli akan drama itu, yang aku tahu hanya aku suka menulis, aku menikmatinya dan telah aku menjalankan tugasku.
“Thanks.” ujarku singkat, sambil tersenyum simpul ke rah sahabatku itu.
“Keren sekali! Keren!” ujar anak sok pintar bernama Ahmad, si botak keturunan arab yang berhidung besar. Ketika ia bersemangat, maka hidungnya yang besar akan bereaksi, lubang hidungnya akan mengembang dengan cara yang menjemukan. Aku tidak memperdulikan pujiannya, kuabaikan begitu saja. Menatap mukanya saja sudah malas. mukanya mirip unta. Si Ahmad ini sebenarnya cukup tampan, sayangnya dia seperti memiliki sexuality disorder . Dia sering memonyongkan bibir tebalnya yang sekali lagi menurutku mirip unta, kemudian berusaha mencium teman-teman perempuan. Beberapa anak perempuan sampai menangis karena jijik. Aku termasuk salah satunya yang jijik, namun tidak cukup bodoh untuk menangis. Jika sesekali ditegur guru, Ahmad hanya tersenyum lebar sambil berkata, “ Ahlan wa sahlan ”. Sungguh tidak bermutu, karena aku tahu kalimat ‘ahlan wa sahlan’ artinya serupa dengan ‘selamat datang’.
“Baik, kita sepakat menggunakan skenario bikinan Cherry untuk dipakai dalam drama nanti!” ujar Bu Maria, semangat.
“Aku tidak setuju!” seru seorang anak, semua mata langsung menoleh ke sumber suara itu. Sesaat kemudian aku melengos. Another dumb child , Hutama. Rata-rata anak laki-laki memiliki perkembangan otak yang jauh lebih lamban dibandingkan dengan anak perempuan. Rata-rata murid yang kuanggap imbisil di kelasku adalah laki-laki. Pantas saja yang bisa kucintai adalah laki-laki dengan tingkat pendidikan sekelas Mikael.
Hutama si anak laki-laki bodoh yang nafasnya seringkali berbau susu dengan kacamata yang hampir memenuhi seluruh mukanya itu berbicara dengan nafas tersengal-sengal seakan ia akan mati besok pagi. Fyi, ia mengidap asma akut, “Tidak suka! kalimatnya terlalu susah, tidak cocok untuk anak SD seperti kita. Kita akan susah menghafal teksnya, dan lagipula untuk mencerna isi percakapannya saja masih susah untuk kita!”
Aku menatap ke arahnya tajam, kemudian berkata dengan suara tenang, hampir berbisik “ Seperti ‘kita’, atau seperti ‘kamu’?”
Hutama terdiam.


Aku kelelahan sekali seusai pembagian peran dan pengarahan skenario. Sungguh sulit memberi pengertian kepada orang-orang dengan kualitas intelligentia jauh di bawah kita.
Rasanya ingin segera pulang ke rumah, dan tertidur di kamarku yang penuh dengan fluffy stuffs (yang dibelikan orang tuaku padahal aku tidak mengharapkannya, aku tidak suka lucu- lucuan, bahkan aku tidak mengerti hal seperti apa yang didefinisikan sebagai ‘cute’ ). Mamaku membelikanku banyak boneka yang kurasa untuk mengingatkan dirinya sendiri pada umur sejatiku. Tanpa boneka-boneka itu, kamarku seperti kamar gadis mahasiswi, lengkap dengan jejeran ensiklopedi asing tertata rapi dan novel-novel sastra kelas berat.
Aku menyukai hal-hal yang calm , berlawanan sekali dengan Frigid. Aku pernah melihat kamar Frigid melalui foto facebook nya. Kamarnya didominasi ruffles dan cat temboknya warna pink . Kalau ada yang berjejer rapi di kamarnya adalah koleksi parfum dan make up. Buatku, semua itu sangat norak dan sangat dumb blonde . Berbeda dengannya, kamarku tenang dan didominasi warna beige , harnya satu warna cerah yang terdapat di kamarku yakni aksentuasi rajut kuning pada korden kamarku yan berwarna kopi.
Ah, aku jadinya tidak habis pikir, kenapa Mikael bisa menyukai perempuan seperti Frigid. Apakah faktor fisik begitu kuatnya melekat pada radar ketertarikan laki-laki, sehingga faktor-faktor lainnya seperti kualitas otak dan karakter hanya menempati posisi pertimbangan paling bontot? Kalau hal itu benar, berarti benar pendapatku daridulu bahwa otak laki-laki berada di penisnya.

Aurea
Aku menatap risih ke sosok laki-laki di sampingku. Mukanya terlihat terlalu excited padahal hanya mengantarkanku pulang saja. Okay memang aku yang memutuskan untuk memintanya mengantarkanku pulang tapi aku tetap saja sulit merasa nyaman dengan kondisi seperti ini.
Cuma apa mau dikata? Aku butuh rasa aman. Saat ini aku merasa tidak aman berada di dekat Mikael. Mikael terlalu sibuk dengan dunianya, terlalu cinta dengan pekerjaannya sehingga rasa cinta yang tersisa di hatinya tampaknya tinggal sedikit untuk wanita, meskipun untuk aku sendiri, pacarnya.
Sudah 2 minggu ini Mikael selalu menolak pergi denganku, hingga aku terpaksa mencari pengganti sementara. Posisi itu jatuh pada Aron, yang memiliki posisi tawar paling tinggi. Ada satu lagi yang aku suka yakni Hervan Aliandro, namun ia sedang berada di luar negri.
Meskipun begitu, tetap saja hal itu tidak mengibah kenyataan bahwa aku merasa kurang nyaman berduaan dengan laki-laki yang jelas-jelas menyukaiku. Aku benci melihat wajah mereka yang penuh pengharapan dan pasrah. Aku benci mereka terlihat menginginkanku. Mikael tidak akan pernah memandangku dengan tatapan mupeng seperti mau menerkamku. Dia melihatku dengan tatapan yang biasa, sangat biasa. Sangking biasanya sikapnya terhadapku sampai-sampai kadang aku butuh pengakuan bahwa aku ini memang menarik dengan melayani sedikit para pengagumku. Mikael jarang sekali memberikan opini gamblang bahwa aku ini attractive sampai kadang aku meragukan bahwa ia attracted olehku. Apabila aku melayani sedikit (dengan membalasi e-mail/ menerima ajakan makan siang bersama) para pengagumku, reaksi mereka akan berlebih dan itu membuatku merasa menarik. Egois dan bodoh memang. Tak diayal manusia butuh pengakuan diri dan pengakuan diri itu kudapatkan dengan jalan seperti ini.
Aku merasa telah mengambil keputusan terbodoh sepanjang hidupku. Keputusan terbodoh ini adalah meminta Aron mengantarkanku pulang. Aku benar-benar tidak menyukai kondisi ini. Aku benci dengan gelagatnya yang sok perhatian, dan aku harus berpura-pura tertarik padanya. Aku benci dengan bahasa tubuhnya yang nampak curi-curi kesempatan ingin bersentuhan kulit denganku dan merasa terpuaskan hanya dengan itu. Misalkan dengan cara sengaja menyentuh tanganku ketika memberikan barang atau sok membersihkan sedikit noda di wajahku. Bilang saja kalau memang ingin menyentuhku, dasar laki-laki terlalu mudah ditebak.
“Sudah makan?” tanya Aron, dengan wajah sok penuh perhatian yang sangat mengganggu. Euwwwww….disgusting!!!
“Ah, itu urusan gampang.” jawabku malas. Kalau aku menjawab sudah makan, sebenarnya aku belum makan. Tapi kalau aku menjawab belum makan, ia pasti akan mengajakku makan padahal aku malas berlama-lama bersama dia. Belum lagi, kalau aku menolak untuk makan bersama pasti dia akan menimpali dengan kalimat-kalimat memalaskan lain seperti misal, “ Kamu kalau nggak makan nanti sakit loh.”
Oh, oh, who cares?
Satu hal yang membuatku nyaman seratus persen dengan Mikael karena ia tidak perlu merasa repot-repot sok perhatian padaku, namun aku sudah mengerti bahwa ia peduli denganku, melalui bagaimana ia menyayangiku. Tidak perlu bermanis-manis dengan kalimat yang sangat high school love story-alike.
Aku menyesal, aku menyesal, aku menyesal , aku ingin keluar dari kondisi ini. Jauh lebih mending apabila aku pulang naik taksi daripada harus korban perasaan faking berlama-lama. Aku memang terbiasa faking , tapi ketahanan untuk ber faking ria itupun tergantung mood , dan aku tidak menyukai harus berkorban perasaan seperti ini.
Kalau lagi begini aku benar-benar ingin Mikael, sekarang juga.

Mikael
Aku sedang malas dengan dunia. Malas dengan segala kepalsuannya dan malas dengan segala intriknya. Kalau mau lebih spesifik lagi, aku sedang malas dengan Aurea.
Malas kenapa? Jawabannya tidak tahu. Hanya malas saja. Tapi sebenarnya ada banyak sekali kemungkinan kenapa aku bisa malas dengannya. Bisa jadi karena aku muak pada kuku-kuku panjangnya yang sering tanpa sengaja menggores lenganku ketika kita bersentuhan, bisa jadi karena aku muak pada lipstick mark merah menyala yang tertinggal di jas dokter putihku atau bisa juga karena aku muak dengan suara tertawanya. Bukan, tertawanya tidak menggangguku karena bersuara nyaring dan tidak behave , suara tertawanya mengganggu kepalaku karena suara tawanya terlalu halus, terlalu plain dan seperti tidak beremosi.
Hubungan kita ini tidak bermasalah, tidak heboh dan tidak penuh keributan. Hubungan ini hanya terlalu hambar. Tidak ada gelombang yang mampu menciptakan frekuensi fluktuatif. Kasarnya, boring
Kenyataan bahwa aku sedang malas dengannya sama sekali tidak berarti aku ingin putus dengannya . Aku hanya butuh waktu untuk lupa. Lupa dengan kenyataan bahwa sekarang aku memiliki pacar, yang menuntut responsibilitas tinggi dariku.
Aku sedang ingin menikmati kenyamanan menjadi seorang pribadi tunggal, Mikael Sahesya. Aku sedang tidak ingin menjadi Mikael nya Aurea. Aku ingin melepas embel-embel yang terlalu ‘duniawi’ itu (menurutku, Aurea adalah symbol nyata dari kata ‘duniawi’ ).
Alasan tersebutlah yang membuatku memilih menghabiskan waktuku sendiri dibandingkan dengan menjemput dan mengantar Aurea. Rutinitas yang sama dan sama lagi. Hanya sepeti meniti seutas tali tambang panjang. Kita tahu bahwa dari awal ke ujung bentuk simpulnya akan sama saja.
Terbesit untukku mencoba nakal; affair ,tapi ternyata aku terlalu malas untuk melakukan hal itu. Apa lagi yang mau kucari dari seorang perempuan ketika aku sudah memiliki Aurea Frigida? Laki-laki manapun pasti akan menertawakanku dan menghina bahwa aku tidak bisa menikmati kenikmatan kesempurnaan ciptaan tuhan.
Jadi hal terbaik yang bisa kulakukan adalah menjaga jarak dengan Aurea, untuk menghindari keluar satu katapun dari bibirku yang menunjukkan symptom ilfeelku terhadapnya.
Ah, aku jadi berpikir, apa esensi dari kesempurnaan itu sendiri?
Ketika suatu hal itu masih sempurna saja, maka belum bisa dikatakan sempurna karena hanya ‘saja’. Suatu hal ketika sudah terlalu sempurna, akan menjadi tidak sempurna. Mengapa? Begini, terlalu sempurna berarti ‘terlalu’. Segala sesuatu yang ‘terlalu’ berarti jelas-jelas tidak sempurna, karena over-dosis.
Aku lelah dengan bahasa tubuhnya yang selalu tampak humble terhadap siapa saja, entah humble sungguhan atau humble karena flirting. Satu yang kutahu bahasa tubuhnya saja sudah cukup untuk membuatku lelah. Bagaimana tidak? Semua pria, dari para pria generasi senior keluarga macam Omku dan ayahku, bahkan sampai tukang pengisi pom bensin saja tampak tertarik padanya, dan semuanya ia tanggapi dengan ramah. Dia seperti magnet bagi para laki-laki. Jumlah penggemar prianya yang tak wajar itu terkadang mnembuatku merasa aku hanya satu diantara sekian banyak pria yang bersedia stand by untuknya, sehingga eksistensiku kurang berarti. Jadi, ketika aku bukan satu-satunya, kenapa aku harus menganggapnya spesial? Toh, meskipun aku tidak menganggapnya spesial, masih berderet pria yang sudi menganggapnya spesial.
Aku berjalan ke ujung ruangan untuk menuang segelas martini. Cukup segelas saja.
Ketika menuang martini dari botol ke gelasnya, aku menyadari aku meletakkan sesuatu di dekat situ. Tiket ke Jepang untuk dua orang. Berangkat dua malam lagi, pada malam hari.
Jika dipikir-pikir rasanya lucu, dalam kondisi jenuh kepada pacarku, yang aku lakukan malah berlibur ke luar negri bersama perempuan. Untung saja perempuannya masih berusia 10 tahun.

Aurea
“Dua hari lagi aku akan ke Jepang menemani Cherry berlibur. Orang tuanya merasa ia perlu bersenang-senang dalam pengawasan therapist.”
“Kenapa kamu nggak bilang dulu sih!” omelku, menatap kesal kepada Mikael. Dia selalu saja seenaknya memutuskan segala sesuatu tanpa meminta pertimbanganku dulu. Pekerjaannya lama-lama over demanding. Memangnya profesi dokter itu sama dengan baby sitter? Kalau orang tua bocah cilik itu tidak bisa meluangkan waktunya untuk Cherry, kenapa harus pacarku yang repot?
Sesungguhnya gelas tinggi berisi Stolichnaya vanilla itu sangat tempting, namun jadi tidak kelihatan menggoda lagi karena mendengar ucapan Mikael barusan.
2 Minggu dia akan pergi ke Jepang, cuma untuk menemani Cherry berlibur. Aku tidak tahu selama ini jadi mahasiswa kedokteran itu ternyata bisa berprofesi sebagai nanny juga.
Lagian untuk apa sih psikiater? Kurasa psikolog juga cukup kalau hanya sebagai therapist untuk Cherry. Bocah itu tidak gila, dia hanya luar biasa sinis dan menyebalkan. Dia cuma butuh lebih digalaki, biar tahu manner.
“Tapi kamu seharusnya menemaniku ke acara ‘Bring Your Butch” nya Espumosa Gathering!” protesku. “Bring Your Butch” adalah sebuah event di Espumosa gathering yang mewajibkan para membernya membawa pasangan masing-masing. Kasarnya sih, sebenarnya “Bring Your Butch” itu ajang pamer, siapa yang memiliki laki-laki paling eligible. Aku ingin sekali membawa Mikael, yang jelas-jelas menjadi hot topic bisik-bisik para backstabber. Kalau memang mereka begitu iri, sekalian saja aku pamerkan.
Mikael menghela nafas panjang, “Aura my dear, I guess the event is not that important.”
“Memang apa yang penting buat kamu dan aku beda, kepentingan setiap orang beda. Itu hukum individual differences. Tapi apa gunanya pacaran? Supaya perbedaan itu bisa blend jadi satu!”
Masa dia nggak ngerti sih? Aku butuh event itu! Aku butuh pengakuan dalam komunitasku. Sudah cukup aku jadi bulan-bulanan gossip Alena sama Nadya gara-gara statusku sebagai pacar Mikael Sahesya, sekarang dia nggak mau tanggung jawab lagi.
Mikael menenggak gelas drygin di depannya, “Honey, actually I don’t want it too. Tapi kamu tau kan sekarang nasib kelulusanku ada di tangan Dokter Hendro Brawoto? Dokter Brawoto punya relasi kuat dengan ayah Cherry. It’s my responsible…”
Kalau dia sudah bawa-bawa masalah beban moral dan tanggung jawab, aku malas berargumen.Terserah dia lah. Memangnya cuma dia yang bisa kubawa ke Espumosa gathering? Aku masih punya banyak cadangan laki-laki. Dasar laki-laki nggak bisa diandalkan.
“Kamu cuma berdua sama anak kecil itu?” tanyaku, nada kalimatku kuusahakan tidak terlalu dingin.
“Iya, cuma berdua.”
Untung si Cherry ini masih anak kecil. Coba bukan, sudah kutusuk dari belakang.

Airport
“Sayang, buku passport kamu harus selalu kamu kalungin. Jangan sampai ilang. Nomor kamu harusnya masih aktif di sana, Cuma kena roaming. Kalau mau hubungin mama, kamu langsung ke seven eleven, Lawson atau family mart terdekat, kamu cari nomor. Kalau mama biasa pakai nomor Japan sim Card from Softbank, free incoming calls .” Diana berpesan panjang lebar, sambil memegangi kedua bahu Cherry seakan-akan enggan melepas kepergiannya. Kalau memang begitu sayang, kenapa dia tidak meluangkan waktunya sejenak menemani anak semata wayangnya ini?
“Okay.” Cherry menjawab singkat dengan ekspresi datar yang mengisyaratkan ‘yes, yes I know that so please stop talking’. Anak ini selalu berbeda dari anak-anak lain. Anak seumurnya lain akan menangis dan merengek meminta mamanya ikut, bukannya ingin segera skip waktu melankolis pisah-pisahan sama mamanya seperti ini.
Pramanto Hanggoro sendiri sedang berada di luar negri, jadi tidak bisa mengantarkan kepergian anaknya.
Susah juga punya orang tua sama-sama produktif seperti ini, uang saku boleh lancar tapi intensitas bertemu jadi langka.
“Kamu nggak apa-apa kan pergi tanpa mama? Bener kan?”
“Mom, I’m fine, as always. Kalau aku nggak suka aku protes.” jawab Cherry, ia tampak mulai kesal dengan segala basa-basi ‘aku cemas denganmu tapi aku tidak punya waktu untukmu’ ala Diana Hanggoro.
“Mama sebenernya sedih nggak bisa nemenin kamu. Mama pengen kita puynya quality time berdua, belanja bareng, liburan bareng, tapi kamu ngerti kan keadaan mama?”
Ini kenapa kalimat Diana mulai terkesan menyudutkan Cherry sih. Jadi bingung mana yang lebih dewasa diantara mereka. Kalimat Diana seperti meletakkan tanggung jawab moral pada Cherry, dan melepaskan miliknya sendiri. Kalimat itu lebih terdengar seperti “Saya tidak mau menyesuaikan diri dengan kamu. Kamulah yang harus ngerti saya, kamulah yang harus beradaptasi dengan keadaan saya.”
Aku menatap Mikael, yang sibuk dengan blackberrynya. Dia bahkan tidak tampak sedih harus meninggalkanku dalam waktu yang cukup lama.
“Honey.” Panggilku.
Mikael masih tidak menoleh. Rasanya ingin sekali kuambil blackberry di tangannya kemudian aku buang ke tong sampah.Aku jadi heran untuk apa sih aku mengantarkannya ke airport kalau cuma untuk didiamkan saja?
“Honey!” panggilku lagi, dengan nada tinggi. Tentunya, Mikael langsung menoleh dengan muka tersentak.
“Ya?”tanyanya dengan nada halus, seperti biasa. Aku jadi sedikit menyesal habis membentaknya.
“Take care kamu di sana. Jangan cari geisha.” aku berujar dengan aksen manja.
“Enggak lah, kurang kerjaan banget. Aku kan disana kerja.”
Oh my god, jawaban macam apa itu? Aku sungguh berharap jawaban yang lebih manis, macam:
‘Enggak lah, I have the most wonderful geisha here’
Atau,
‘Pacarku lebih tempting dari geisha manapun.”
Yes, kalimat-kalimat itu memang corny. Women love bullshits. Walaupun perempuan selalu cemberut ketika diberi kata-kata gombal dan berkata ‘dasar bullshitter.’ Ketika diberi pujian manis from her beloved one, sebenarnya hati kecilnya kegirangan banget.
Sayangnya, Mikael nggak pernah menyuguhkan euphoria di ‘bullshit’-i itu.
Jangan salahkan aku kalau sepulang mengantarkan Mikael ini, aku sudah ada janji dengan laki-laki lain.

Cherry
Aku duduk bersebelahan dengan Mikael. Orang kira-kira mengira apa ya bentuk relasi diantara kita?
Kedua orang yang saling tidak kenal dan baru berkenalan di pesawat? Seorang dokter muda dan pasiennya yang sakit jiwa? Atau Kakak adik?
Jelas sekali tidak ada yang mengira kalau kita sepasang kekasih, karena kita memang bukan sepasang kekasih. Kalau kita sepasang kekasih, maka akan ada label baru untuk Mikael, yakni phedophil.
Kenapa jika Mikael menyukai aku, maka ia harus dicap dengan label phedophil? Kenapa jika menyukaiku, Mikael berarti berisiko dicap memiliki kelainan seksual? Sementara, jika ia menyukai Frigid, tidak ada resiko labeling seperti itu? At least, mengencani dumb blonde tidak termasuk kelainan seksual. Jadi ini benar-benar tidak adil. Bahkan jika kualitas diri kita sama, kesempatan menjadi pacar Mikael jelas lebih besar dimiliki oleh Frigid.
“Excuse me, sir, what would you like to drink? Red wine? White wine? Coffee?”tanya seorang pramugari oriental yang bertubuh semampai, membuyarkan lamunanku.
“Red wine, please.” jawab Mikael.
“And, you? Do you want apple juice, orange juice or milk?”tanya si pramugari, tersenyum ramah kepadaku.
“No, thanks.” jawabku , ketus. Bahkan pramugari pesawat saja ikut andil dalam memperjelas jembatan di antara kita, lewat jenis minuman.


Kami mendarat di narita, memesan sebuah taksi yang mengantarkan kami ke hotel Four Seasons Hotel di distrik Manurouchi. Papa yang telah booking hotel itu untuk aku. Sebenarnya aku lebih tertarik dengan penginapan bergaya tradisional di Kyoto macam Ryokan Yachiyo atau penginapan sekaligus onsen*. Tapi seperti biasa, papa selalu memutuskan tanpa meminta pendapatku terlebih dahulu. Kata papa, makin mewah tentu pelayanannya makin baik.
“Bener kamu nggak mau ke Shibuya?”tanya Mikael, menatapku dengan tatapan heran.
“Nggak. Di sana aku nggak bisa ngapa-ngapain.”
“Tapi Shibuya itu Orchard nya jepang. Anak muda semua suka ke sana, apalagi perempuan. Waktu aku ke sana sama Aurea, dia samapi nggak mau pulang. Tempat belanjanya mantap banget. Serius kamu nggak tertarik?”tanya Mikael lagi.
“Nggak, aku nggak tertarik belanja.” Aku menggeleng cepat. Sampai kapan sih Mikael sadar kalau perempuan yang ia hadapi bukan tipe Aurea Frigida yang panik melihat diskon prada. Aku benci digeneralisasikan dalam satu klasifikasi yang sama dengan Aurea.
“ Kalau gitu gimana kalau taman? Shijuku Gyoen? Sekarang kan lagi cherry blossom season? Di sana banyak…”
“Ya, aku tahu tempat itu. Tapi aku jauh lebih tertarik ke Sangakuji Temple. Mau lihat makam ronin.”
Mikael mengerutkan kening, “Ronin? Kalau nggak salah itu film nya Robert De Niro?”
“Ronin itu samurai tanpa master atau guru. Jadi kayak samurai tapi freelancer.”
Mikael tertawa lepas, “Istilahmu lucu. Apaan coba samurai freelancer.”
Deg, jantungku tersentak hanya melihat Mikael tertawa seperti itu. Rasanya sekujur tubuhku lemas dan otot sendiku tidak berfungsi.
Kalau boleh GR, aku tidak pernah melihat Mikael tertawa seperti itu mendengar gurauan Aurea. Tapi meskipun aku mampu membuatnya tertawa setiap detik pun tidak akan mengubah kenyataan bahwa Aurea memiliki kans yang jauh lebih besar untuk menjadi istri Mikael. Jadi sebenarnya percuma.

Aurea
“Kenapa kamu tiba-tiba ngajak makan malam? U’re so unpredictable. Padahal sms aku tidak pernah kamu balas.” Hervan Aliandro bertanya, dengan tatapan womanizer khasnya- menatap lurus ke mataku.
“Udah deh, yang penting kamu suka nggak dinner sama aku? Kalau suka , makan aja. Kalau enggak, pulang aja.” jawabku santai.
“Jawaban kamu juga selalu selfish, seperti biasa.”
“It’s ur risk. Kenapa kamu mau dating sama bitch.” jawabku lagi.
“Man marry bitches.”
“Barusan kamu mengutip judul buku, harusnya menyertakan pengarang.”
“Wo-ow, lagi PMS?”tanya Hervan. Ia tersenyum lebar, namun ekspresinya terlihat shock. Mungkin dia merasa kaget karena sebagai anak duta besar untuk Amerika pasti jarang ada perempuan yang bicara sinis padanya.
“Biasa aja deh. Gue biasa aja kok.”
“Jadi sekarang pake gue elo nih?”
“Memangnya kenapa?” aku melotot, jengkel.
“Hey hey, calm down. What’s yer problem, gorgeous?”
“Mikael.”
“Wow, si dokter. Magnificent man, socialite pinter.”
“Kalimatmu kayak confesion kalo para socialite itu kebanyakan nggak pinter.”
“Sarkasme sekali, mademoiselle.”
“Aku nggak bilang kamu termasuk socialite yang nggak pinter loh.”
Hervan tertawa, “That’s why I like u, Aurea. U’re a real bitch.”
“Thanks, I take that as a praise.”
“Memang ada apa dengan Mikael?’
“He doesn’t know what he got. Dia nggak pernah nganggep gue ada.”
“Kalau begitu mungkin lo butuh replacement yang lebih qualified,like me. Gue tipe laki-laki yang sangat paham dengan apa yang kumiliki and I won’t waste it away”
“Maybe I’m interested.”jawabku, tersenyum mendengar selorohan percaya diri Hervan.
Hervan Aliandro ini pembalap. Wanita selalu ada di sekelilingnya. Hal itulah yang membuatku malas menjalin komitmen dengannya meskipun dia berprospek baik untuk masa depan. Di samping itu, dia kurang educated. Kuliah di universitas swasta ‘yang-penting-berduit’ yang tidak bergengsi, itupun sering membolos. Jelas kebanting jauh apabila dibandingkan dengan Mikael.
Hervan terkenal cassanova, brand-minded dan manja. Dia sering menjelajah jalan tol jam 3 pagi dalam keadaan ‘up’ alias DUI. Tiga kali mengalami kecelakaan parah yag membahayakan nyawa korbannya, tetapi selalu saja dibereskan dengan uang ayahnya.
Satu hal lagi bad fact tentangnya, dia adalah mantan pacar dari Alena Hafid.
Semua hal tentang Alena Hafid itu pasti nggak bagus, kecuali tasnya.
Kalau ada pertanyaaan : sudah tau Hervan seperti itu, kenapa masih mau date sama dia? jawabannya mudah: iseng. Iseng yang kira-kira bisa membalas pressure yang aku alami sebagai pacar Mikael. Mikael terus-terusan menyakitiku dengan mengabaikanku. Kalau aku balas mengabaikannya, tidak akan berpengaruh apa-apa buat dia. Lain halnya apabila aku mengencani pria lain, tentunya akan ‘apa-apa’ buat dia. Tapi tetap saja, masalah aku mengencani pria lain akan tetap menjadi dirty little secret. Dia tidak perlu tahu untuk merasa sakit. Memposisikan dirinya sebagai pihak yang tidak tahu apa-apa, pasti jauh lebih menyakitkan.
Jika ada pertanyaan lagi : kenapa aku sejahat itu?
Mikael Sahesya Algero adalah mahluk dengan kepekaan dan sensitivitas paling rendah sedunia. Dia kelewat cuek dan self-oriented. Dia nggak pernah memikirkan perasaanku, at all.
Aku memang butuh pria yang simple, tapi bukan yang tidak peduli sama sekali. Dia selalu jam karet, selalu tidak peduli dan selalu menganggap remeh semua hal tentangku. Aku merasa disepelekan dan aku benci sekali disepelekan.
Dia hanya peduli pada kerjaaannya dan dunianya sendiri. Aku tidak masuk dalam skala prioritasnya.
Dia tidak pernah terlihat benar-benar menikmati waktu bersama denganku. Ketika bersamaku, ia selalu sibuk melirik jam tangan dan tidak berhenti berkutat dengan blackberry nya. Aku tahu ia bukan asyik twiting atau ym-an dengan para wanita. Aku tahu dia sibuk berkutat dengan urusan kerjaan. Baik urursan kerjaan dia sebagai dokter, atau merampungkan tugas hasil konsekuensinya sebagai salah satu komisaris Algero corp (dia dipaksa ayahnya ikut mengelola saham). Apapun yang ia lakukan dengan blackberry nya, itu cukup membuatku merasa terabaikan.
Aku selalu mencoba untuk memberi ruang tak terbatas untuknya, membiarkannya asik dengan dunianya. Semua aku lakukan karena dia stau-satunya laki-laki yang berhasil membuatku tertarik. Tapi sekarang tidak lagi. Enough is enough, more than enough is too much. Aurea frigida terlalu priceless untuk dinomor sekiankan. Aku butuh dinomor satukan. Suatu hari nanti kalau aku sudah lelah ber-faking-ria mungkin aku harus bilang ‘byebye Mikael’.

Mikael
“Jadi kita tidur sekamar?” Cherry bertanya, dari ekspresi wajahnya ia tampak tidak suka. Mau gimana lagi? Tidak mungkin aku membiarkan anak sekecil dia tidur di kamar sendirian. Apalagi anak kecil dengan emosi labil sepertinya, sampai begitu ia kabur aku bisa-bisa batal jadi psikiater.
“Yep.” jawabku.
“Double bed kan?”tanya Cherry lagi.
“ You decide.”
“Terserah.”jawab Cherry.
“Okay, a room with double bed please.” aku berkata pada seorang resepsionis yang luar biasa cantik. Wajahnya mengingatkanku pada Asia Carrera, pemain film biru dengan popular dengan gaya agresif pada era sebelum Miyabi yang bergaya polos berjaya. Aku membaca name tag nya, her name is Ayako.
Cherry tiba-tiba memotong pembicaraan “Daburu wa dame desu. Shinguru o kudasai.”
Aku tersentak, aku tidak tahu anak ini bisa bicara bahasa jepang juga. Aku makin heran dengan anak ini. Nampaknya ia mengetahui tentang segala hal. Dia benar-benar genius. Bagaimana membagai waktu mempelajari semua hal itu sementara umur dia masih di bawah 10 tahun?
Si Ayako menjawab “Hai. Wakarimashita!”
Aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan sama sekali. Aku hanya tersenyum seperti orang bodoh. Sudahlah, apapun yang mereka bicarakan aku tidak terlalu peduli.
Kami diantarkan ke sebuah kamar seluas102 m² di lantai 5. Sepertinya ketika Cherry berbicara dengan bahasa Jepang tadi dia meminta suite room karena seingatku aku memilih deluxe-premier room. Tapi terserahlah, toh semua biaya perjalanan ini menggunakan credit card Pramanto Hanggoro.
Kamarnya luas, namun hanya memiliki satu bedroom dan tatanannya artistik, lengkap dengan lacquered doors ala jepang. Pemandangan kamar langsung menghadap ke Tokyo Station dan Marunouchi Business Distric.
Aku melongok ke kamar tidur, tempat tidurnya hanya satu. Ini bisa merusak mood Cherry. Sebelum hal itu terjadi, aku segera menelpon reception, yang segera diangkat suara wanita dalam dering kedua.
“Four Season Hotel reception , May I help you?”
“Can I talk to Ayako please? I’m Mikael , the one who was just checked in a half hour before”
“Ayako is speaking here, sir.”
“Oh, okay. Here’s the problem; I asked you to give me a double bed room but now what I have is a single bed room. So can you give me another room?”
“But, your little sister asked me a single bed room , sir.”
“My.. sis..? Oh, u’re talking about a child that comes with me , rite? The one who talks with you in Japanese?”
“Yes, sir.”
Kulirik ke arah Cherry, dia berada di depan TV, sedang memutar acara national geographic . Tampaknya ia tidak mendengar pembicaraanku di telepon.
“Oh, okay. Sorry and thank you.” ,kututup telepon.
Ternyata meskipun ia jenius, ia tetap memiliki jiwa anak kecil yang manja. Mungkin ia takut tidur di ranjang sendiri. Anak ini benar-benar kompleks, mungkin ia malu membicarakannya langsung denganku karena gengsi.
“Mikael, mau makan siang?” tanya Cherry tiba-tiba, tanpa menoleh dari televisi.
“Boleh, aku juga lapar. Kamu mau makan apa?”tanyaku, “Ramen? Unagi bento? Sashimi? Sushi? Jangan lupa, Jepang surga makanan.”
“Kaiseki ryori, di Jakarta jarang.”
Apa itu Kaiseki Ryori? Kalau bersama Cherry, justru aku yang tampak lack of information. Harusnya ketika kita sedang bersama anak kecil, kita jadi merasa pintar kan?
“Okay, ayo.” persetan lah apapun Kaiseki Ryori itu. Satu yang kutahu, perutku juga mulai keroncongan.


Aurea Frigida
Berbeda dengan Aron Rahandi yang seperti rasa gatal permanen yang sulit disingkirkan, Hervan Aliandro membuatku mulai kecanduan.
Dia menawarkan rasa yang berbeda dari Mikael.
Pertemuan terakhirku dengannya cukup membuatku sedikit hilang akal logika. Biasanya aku tidak seperti ini. Aku jarang memiliki ketertarikan yang kuat pada laki-laki.
Parahnya, Hervan Aliandro adalah tipe laki-laki yang paling kuhindari. Tiap detik yang kuhabiskan bersamanya adalah detik-detik beresiko. Ia adalah pemain cinta. Hatinya tidak bisa dipasung. Bahkan, hingga kini aku tidak bisa menebak isi hatinya.
Aku tahu semua isi ucapannya adalah murni bullshit, namun aku tidak berhasil mencegah hatiku untuk terus mencandu tiap sampah yang keluar dari mulutnya.
Hervan merasukiku dengan hati-hati, tidak dengan huge announcement seperti yang dilakukan Aron, atau para pria lain. Hampir-hampir mirip dengan cara Mikael merasukiku.
Tapi ada perasaan aneh yang kurasakan dengan Hervan, yang tidak bisa kurasakan dengan Mikael: passion.
Ia membuatku memiliki hasrat dan nafsu yang besar, bukan hanya secara seksual, tapi juga secara perasaan. Ia membuatku ingin mengumbar dan meneriakkan pada dunia kalau aku menyukainya.
Ia begitu fun, menarik dan jelas, ia meniupkan nafas baru dalam ruang hidupku yang pengap. Ia berbeda dengan Mikael yang begitu strict, keras dan kaku.
He’s full of surprises, datang ke rumahku jam 1 malam saat aku insomnia dan membawakan opera cake kesukaanku, ia meninggalkan beberapa naughty greeting card di emailku.
Bersama Hervan, aku berjalan lebih cepat, aku berteriak lebih keras dan aku tertawa lebih lepas. Aku takut sekali jika pada akhirnya aku benar-benar cinta sama Hervan. Aku anti jatuh cinta.
“Rea!”
Aku menoleh. Oh ya, saat ini aku sedang bersama Hervan di sofa apartemenku. Dia habis datang membawakanku satu set DVD film lawas, Scarlett O’hara. Dia bilang karakter tokoh Scarlett mirip sekali denganku.
“I call ur name thrice but u don’t respond. I’m really curious about what’s on your mind. It might be something special.”
Oh it’s you, moron. Tapi aku nggak akan bilang. Harga diri dong, malu banget kalau harus confess aku memikirkan dia.
“U know what? I have something for you .”
“What is it?” tanyaku, mengerutkan kening.
Hervan menyeringai, “Aku tahu kamu nggak bisa dibuat penasaran. It’s something you really like. I know o u’ll love it.”
“So tell me or show me.”
“Nggak ah. Kamu tebak dulu. Aku suka liat kamu penasaran.” Hervan mengerling nakal.
“Udah dong ah tebak-tebakannya. Jengkel tau nggak sih penasaran gini.” protesku sambil memberengut. Aku benci dibuat penasaran. Kalau orang mau menyampaikan sesuatu padaku, aku suka mendengar yang straight to the point.
“Nggak jadi ah. Habis kamu lucu sih.” goda Hervan sambil terseyum.
“Hey don’t play me around. Remember what you’ve told me? I’m a bitch.”
“Yes and I’m a bitch lover.” Hervan tersenyum makin lebar, “Yaudah makan yuk.”
“Aku masih punya tortelloni alla zucca tinggal dimasukin oven kalau kamu mau, Van. Wait, kamu mengalihkan pembicaraan. Tell me what is that ?!”
Hervan tertawa lepas. Aku jadi makin gemas.
“Don’t laugh at me, dasar impolite!” omelku, mencubit lengannya. Aku merasa sangat ekspresif jika ada di sampingnya. Aku tidak perlu fake good. Bahkan di depan Mikael aku harus fake good. Tetapi tidak di depan Hervan, aku bisa menjadi Aurea yang galak dan sedikit manja, just the way I am. I can show him a side of me that I never show to anyone, yang selama ini kusembunyikan demi menjaga citra diri.
“Okay, okay. I’ll tell you tapi ada syaratnya.”
“What?”
“Kiss me.”
Tanpa basa-basi aku langsung memegang erat kedua lengan Hervan yang berotot dan mendekati bibirnya.
Dagdigdug dagdigdug. Jantung ini tidak bisa diajak bersepakat. Bunyi dentumannya sangat mengganggu sehingga membuatku susah untuk memusatkan titik konsentrasi. Atau mungkin aku tidak perlu berkosentrasi? Lebih baik merencanakan akan melakukan gerakan seperti apa, atau mengikuti naluri saja? Ah sudahlah, jangan banyak berpikir, lebih baik bergerak.
Kemudian, kedua belah bibirku menemui sebuah bentuk serupa. Saling bertemu di kedua sela. Setruman luar biasa menjalar dari ujung permukaan bibir, mengalir bagaikan pijar listrik ke seluruh anggota tubuh. Rasanya terkejut juga tersentak.
Kemudian, bibirku dan partner lamanya saling memagut dengan irama yang bersahut-sahutan. Aku dulu. Kemudian kamu. Aku lagi. Kamu. Kadang bersamaan. Lalu kamu lagi.
Herannya, meskipun nafas pun harus mencuri-curi, tidak ada diantara kamu atau kamu yang sesak kekurangan oksigen. Apa dengan berciuman, kita menjadi sepasang manusia super?
Dia menicum ritme yang sangat perlahan, sperti menikmati setiap rasa yang tercurah pada setiap pergerakkan. Seakan ingin memberi tahu sebuah rahasia kecil 'aku mencintaimu dengan cara yang berhati-hati'
Dia mengusap belakang leherku, yang kemudian berhasil membuka pori-pori kulitku dengan paksa. Tersetrum, merinding, cemas; rasanya bercampur menjadi satu. Rasa rasanya aku ingin menghabisinya saat ini juga karena takut tidak dapat merasakan seperti ini lagi.
Ahhh, dia memang pencium paling hebat! Ia mampu menceritakan seluruh perasaannya melalui gerakan demi gerakan. Gerakannya yang pelan, halus dan ringan berarti 'aku mencintaimu dengan menjagamu' yang melahirkan respon romantik melankolis kemudian tempo gerakan itu suatu waktu digantikan dengan gerakan lebih kuat dan cepat namun tidak kasar, yang mengungkapkan 'aku mencintai bentuk fisikmu. Indah.' yang membuatku makin merasa menarik dan diinginkan sehingga makin menggebu.
. Mungkin aku menciumnya bukan murni karena penasaran soal ‘a-mistery-gift’ dari dia. Mungkin aku menciumnya karena aku benar-benar ingin menciumnya.
“That’s enough.” Aku melepaskan diri, takut terjadi sesuatu yang diinginkan kami berdua.
Hervan Aliandro tersenyum nakal, “ You’re a good kisser.”
Seketika wajahku langsung blushing , “Nggak usah dibahas. So what’s the mistery gift?”
Hervan Aliandro tersenyum makin lebar, “U got it.”
“Hah? Maksudnya?”
“You got it. The mistery gift is a passionate kiss for you.”
“Fuck you. Really fuck you, Van.” Aku mengambil handbag chanelku. Aku bersiap akan pergi, sampai Hervan menahan lenganku, memandangku tanpa berkata apa-apa. Tampaknya ia tahu betul apa yang ada dalam pikiranku. Ia tahu betul aku tidak pernah benar-benar berniat pergi. Ia tahu betul bahwa ciumannya adalah candu.
Aku mendekatkan bibirku ke bibirnya, mengulangi sekali lagi ciuman yang mengalirkan getaran yang sudah lama statis vibrasinya sehingga kini bergolak kencang.
Langsung aku menyadari sesuatu, aku butuh dia.

Cherry

“Mikael, menurutmu aku gimana sih?” tanya Cherry.
Mikael menatapku, tersenyum lebar, “ Kamu smart, kamu jenius, kamu unik.”
“Itu aku sebagai subyek penelitianmu. Yang aku tanyakan adalah aku sebagai manusia. Sebagai Cherry.”
“Hah? Memangnya tadi aku tidak melukiskan seorang manusia? Mmm, sepertinya sama saja. Satu-satunya kata-kata yang tepat melukiskanmu cuma ‘jenius’.”
Aku tidak yakin cuma itu. Tidak mungkin dia bisa terlalu naïf dan tidak menangkap satupun symptom ketertarikan yang aku tunjukkan. Aku menatap mata Mikael, tajam. Mencoba membuka satu lapisan di dalam pikirannya, atau hatinya dengan power of mind meskipun aku tahu hal ini tidak akan berefek apa-apa.
“Kenapa Chery? Kenapa kamu melihatku seperti itu?” tanya Mikael, ia mengelus-elus kepalaku.
“Selain soal anak jenius, apa kamu tidak pernah berpikir kalau aku memiliki emosi?”tanyaku.
Mikael tampak semakin bingung, “Jelas, aku tahu kamu memiliki emosi. Kita berkali-kali melakukan tes EQ, bukan? Apanya yang diukur kalau kamu tidak memiliki emosi?”
Sekarang aku mulai berpikir, Mikael terlalu bodoh.
“Aku sudah bilang ini bukan mengenai kapasitasku sebagai subjek penelitianmu!” nada suaraku mulai meninggi.
“Okay, okay.. maksudmu aku disuruh menggambarkan karaktermu? kamu yang dewasa, introvert, dan cepat kesal?”tanya Mikael, dengan nada mengayomi, yang membuatku sangat muak. Dia benar-benar memperlakukanku seperti bayi. Tau gitu tadi mending tidak bertanya saja daripada jengkel sendiri,
“Kurang lebih.” jawabku, dengan nada malas-malasan. Sebenarnya moodku untuk mengetahuinya sudah makin pudar karena perlakuan Mikael terhdapku yang membuat kesal.
“Mmmmm…” Mikael menggumam, tangannya diletakkan di dagunya dan menerawang sok berpikir.
“Kalau repot nggak usah saja.”
“Kamu berjiwa bebas.”
“Hah?” aku tidak bisa berpura-pura tidak tertarik meskipun gengsi. Akhirnya aku mendengar sebuah kata lain yang dapat melukiskanku dari bibir Mikael selain ‘brilian’.
“Iya, kamu berjiwa bebas. Kamu melakukan apa yang kamu suka, kamu tidak melakukan A agar dinilai A. Kamu melakukan A karena ya karena kamu benar-benar ingin melakukannya, tanpa tendensi tertentu di baliknya.”
Aku tidak bisa menutupi wajah senangku, “Misalnya?”
Sebuah kelopak sakura jatuh persis di pipiku, dan menempel. Mikael tanpa ba-bi-bu langsung mengambilnya di wajahku. Jantungku berdegup sangat kencang. Nafasku terhenti ketika jemarinya bersentuhan langsung dengan kulit pipiku.
“Misalnya, ketika kamu tidak suka, kamu tidak akan berbasa-basi berpura-pura suka. Kamu tersenyum jika kamu senang, bukan karena ingin terlihat ramah.”
“Bukannya manusia memang seharusnya begitu? Wajar kan?”
“Manusia sekarang sudah lupa memuaskan hati nuraninya. Manusia sekarang bertindak demi kesan.”
“Kamu membicarakan perempuan seperti Frigid?”
“Rea salah satunya, tapi aku tidak sedang menyindirnya.”
“Berarti cewek tipemu adalah cewek yang tidak free-spirited, karena kamu mengklasifikasikan rea sebagai non free-spirited.”
“Memangnya Rea cewek tipeku?” Mikael bertanya, sambil tertawa. Tertawa yang benar-benar lepas.
“Memangnya bukan?” aku balik bertanya, meskipun aku tahu pertanyaanku adalah pertanyaan retorikal. Jelas sekali Frigid adalah perempuan tipenya, kalau bukan tipenya maka Frigid tidak akan mungkin menjadi pacarnya.
“Bukan.” jawaban Mikael mengagetkanku, namun hanya sampai beberapa detik kemudian karena lalu aku yakin dia pasti berbohong.
Namun seandainya ia benar-benar berbohong, aku mengizinkan diriku untuk berpura-pura percaya demi menyenangkan diri sendiri sekali-kali, “ Terus kenapa kamu pacaran sama dia?”
“Karena dia gambaran wanita ideal menurut mamaku.”
Berkaitan dengan jawaban Mikael barusan, aku merasakan suatu perasaan yang aneh. Perasaan yang baru. Aku sulit menjelaskan signifikansi dari perasaan ini, tapi perasaan ini terasa seperti wujud kepuasan. Nampaknya perasaan ini timbul karena Mikael mulai memperlakukan aku dengan cara yang berbeda. Dia mulai melepaskan atribut subjek penelitian yang selama ini lekat erat denganku.
Aku merasa dimanusiakan oleh orang yang aku cintai. Perasaan ini lebih memuaskan dibandingkan seluruh achievement yang pernah kudapatkan seumur hidup
“Anak mama?”tanyaku, dengan nada menghamiki yang menyebalkan. Aku sengaja berkata begini untuk mengorek lebih dalam lagi emosi Mikael. Aku ingin mengintip ke dalamnya.
“Bukan begitu, tapi- rrr, ya mungkin bisa dibilang begitu. Aku sangat menaati nilai-nilai yang ditanamkan keluargaku. Seluruh hal yang diucapkan orangtuaku kuanggap amanat. Their wish is my command.”
“Seperti menjadi dokter?” tanyaku lagi, makin tertarik untuk mengelupas lapisan demi lapisan kulit Mikael yang selama ini belum pernah kujamah.
Mikael tersenyum simpul, “Bukan, menjadi dokter memang cita-citaku. Tapi tidak menyambi sebagai penerus Algero Corp. Keduanya terlalu berat dipikul bersamaan, kan?”
“Jadi sebenarnya kamu tidak berminat meneruskan pekerjaan di Algero Corp?” tanyaku, mencoba menarik konklusi dari keluhan Mikael.
“Aku merasa kapabilitasku tidak akan tereksekusi secara total kalau aku mengerjakan keduanya. Bukan berarti aku tidak mau berbisnis, atau tidak bisa berbisnis. Namun aku memilih menekuni satu saja dari keduanya, karena aku menyukai totalitas.”
Aku terdiam, mencoba menemukan kalimat respon yang tepat akan pernyataan Mikael, sampai tiba-tiba kudengar Mikael kembali melanjutkan kalimatnya
“Kalau tanpa mempertimbangkan preferensi orangtuaku, aku mungkin cenderung nyaman dengan gadis biasa saja. Karena aku bukan tipe laki-laki luar biasa. Aku cuma mahasiswa kedokteran, family man yang cenderung konservatif, sederhana dan.. nerd. Sama sekali bukan calon seimbang bagi Aurea Frigida, yang…… glamourous.”
“Lalu kamu mencari perempuan yang seperti apa, Mikael?” tanyaku lagi, menatap matanya dalam-dalam. Sesaat aku berpikir bodoh bahwa dengan melakukan hal itu aku jadi bisa menelanjangi pikiranya, menyeruak masuk ke dalam syaraf otaknya kemudian membacanya seperti membaca tulisan di layar.
Mikael menggeleng, “ Aku tidak punya tipe tertentu. Orang tuaku yang menentukan tipe mereka, dan itulah yang kujadikan standar patokan pencarian pasangan sendiri. Naif ya?”
“Bagaimana kalau yang seperti aku?”tanyaku, mendekatkan tanganku ke tangan Mikael, memberanikan diri merengkuhnya pelan.
Mikael menatapku heran, namun tidak menarik tangannya, “ Cherry, kamu kebanyakan minum champagne. Harusnya kucegah kamu tadi.”
“Kamu yang terlalu banyak minum champagne, Mikael. Itu bukan kalimat untuk anak umur 10 tahun, Mikael. Separuh dari pikiranmu sadar, Cherry bukan cuma objek penelitian. Bukan cuma gifted child. Separuh dirimu tau bahwa aku perempuan, bukan anak perempuan.” Aku tidak tahu keberanian mengungkapkan kalimat-kalimat frontal ini datang dari mana. Mungkin benar karena aku terlalu banyak menenggak champagne untuk ukuran fisik seusiaku sehingga mengacaukan sistem otak, atau karena aku sudah pasarah pada kelanjutan cerita ini.
Tapi yang aku tahu, Mikael kondisinya lebih gila daripada aku, karena ia mendekatkan bibirnya, kemudian mennyentuhkan bibirnya ke bibirku. Sekilas saja. Namun rasa senang yang terasa, serasa akan berlangsung selama-lamanya.
Aku tidak ingat potongan jadian setelah perisrtiwa kami melakukan menyatunya dua otot orbicularisoris dalam keadaan kontraksi atau bahasa sederhananya; berciuman. Tiba-tiba pagi harinya, aku sudah tertidur pulas di ranjang kamar. Sendirian.
Kepalaku terasa pening, untuk mengangkatnya dari kasur saja butuh usaha yang berlebih bila dibandingkan dengan biasanya. Ditambah lagi, rasanya seluruh isi perutku mau mendesak ke luar. Akhirnya aku bisa merasakan my hangover first experience. Selama ini aku cuma tahu teorinya saja . It’s the result of heavy drinking of which results in an alcohol blood content that still exists long after drinking because your liver is still trying to cope with the detox. Ternyata sakitnya jauh lebih parah dibandingkan dengan gastritis.
Aku tidak terlalu peduli dengan hungover-thingy ini. Sekarang yang aku pikirkan, kemana Mikael? Sebuah pemikiran terparah terbesit di otakku, mungkinkah ia meninggalkanku balik ke Indonesia dan memutuskan mengoabati diri sendiri karena mendapati dirinya menderita phedophilia?
Dengan sisa energi akomodasi yang ada aku memutar mata ke sekeliling ruangan, tanpa jelas maksud dan tujuan apa yang kucari. Setidaknya aku harus menemukan clue di mana Mikael sekarang. Kemudian aku menemukannya, secarik kertas di meja sebelah ranjang, bertuliskan: ‘Maaf, aku sarapan duluan, ada yang harus aku lakukan. Nanti aku kembali ke hotel siang. Mikael.’
Entahlah, ini sebuah pertanda buruk atau pertanda bagus.

Mikael

Aku memasuki subway. Aku memutuskan pergi ke Shinjuku, mencari pelacur Jepang, atau setidaknya gadis Jepang yang buisa kutiduri. Gadis, bukan anak kecil. Kudengar di Shinjuku banyak pub menarik. Untuk ke Shinjuku, aku perlu tiga kali pindah kereta. Pertama, dari Marunouchi ke Nagoya, 3 menit. Kemudian dari Nagoya ke Shinagawa, yang memakan wkatu cukup lama (setidaknya aku bisa merenung di kereta) selama 1 jam 30 menit. Terakhir dari Shinagawa ke Shinjuku hanya menghabiskan 19 menit, menggunakan Yamanote Line.
Mencari pelacur di Jepang jelaslah bukan tujuanku datang ke sini. Tujuanku adalah menemani proses terapi pasienku, seorang anak kecil yang kucium tadi malam dalam keadaan mabuk champagne.
Sumpah, aku melakukan hal itu tanpa menyadari bahwa dia adalah Cherry, pasienku yang masih kecil. Entah kenapa tadi malam aku merasa ia layak dipandang sebagai significant other. Jelas sekali, aku kejadian semalam adalah efek alcohol, bukan efek kelainan seksual yang kuderita. Sekarang, aku membutuhkan pembuktian terhadap diriku sendiri, kalau aku tidak mengalami kelainan seksual. Aku harus membuktikan bahwa aku masih nafsu dengan payudara yang sintal dan bokong yang padat, bukan dada dan pantat rata milih anak bawah umur.
Semalaman aku tida bisa tidur, cemas akan diriku sendiri. Cemas akan ketakutan bahwa aku mengalami kelainan seksual, di samping fakta bahwa bahkan aku sendiri enggan dan malas pikiran itu terlintas di otakku. Rasa-rasanya terlalu menjijikan dan tidak pantas. Tapi tidak mungkin aku pura-pura tidak terjadi apa-apa. Aku seorang dokter, seorang calon ahli psikiatri. Aku harus mengobati penyakitku sendiri (kalau aku memang sakit), bukannya lari dari fakta.
Aku duduk di kereta, mengamati sekelilingku. Banyak sekali gadis muda Jepang berwajah seksi dan berpenampilan menarik. Aku masih tertarik melihat mereka. Lega satu. Seorang gadis Jepang bermata bulat tersenyum padaku, ia menggunakan plaid mini skirt, sepertinya pelajar SMA. Roknya sangat-sangat mini hinga mempertontonkan pahanya yang putih mulus, aku mencoba menatap pahanya terus-terusan. Jelas sekali, pikiranku langsung kemana-mana, hormone testoteronku menunjukkan kredibilitasnya. Aku tetap memusatkan konsentrasi pada paha itu, sehingga aku makin menyadari eksistensi hawa nafsuku terhadap gadis dewasa, yang meyakinkan diriku sendiri bahwa aku bukan seorang fedofil. Anyway, kenapa lama-lama paha putih mulus itu terasa makin mendekat, sejak kapan jadi sedekat ini?
Tiba-tiba seorang gadis berteriak, “NANTE HIDOI HITO!” disusul sebuah tamparan keras di pipiku. Ternyata gadis bermata bulat tadi yang menamparku. Nampaknya ia tersinggung gara-gara aku terus-terusan memandangi pahanya. Gadis itu kemudian pergi menjauh dariku. Seorang pemuda jepang muda, dengan gaya ala j-pop dan berambut biru yang duduk di sebelahku mencolekku, “ Nante hidoi hito means u’re a jerk.” ujarnya dengan logat Jepang kental, kemudian terkekeh. Aku tersenyum sinis, sambil mengelus pipiku yang masih terasa sakit. Tidak kusangka, gadis jepang selangsing itu punya daya tampar sekuat ini.
Perjalanan tidak terasa lama karena gerak kereta sangat cepat. Setelah tiga kali ganti kereta dan sempat tertidur di kereta kedua, akhirnya aku sampai juga di daerah Shibuya.
Aku berjalan terus saja mengikuti kemana arus kebanyakan manusia bergerak, tanpa tahu ke mana tujuanku. Aku melihat banyak sekali gadis muda, cantik, seksi, berkulit putih dan berambut panjang, seperti Aurea.
Ah, Aurea. Kalimat sinis apa yang akan ia ucapkan kalau sampai ia tahu apa yang kuperbuat dengan Cherry. Bahkan mungkin tidak sempat ada kalimat sinis, karena ia langsung merasa jijik denganku dan meninggalkanku pergi jauh.
Aku kelainan. Selingkuh mungkin masih bisa diterima. Tapi tidak dengan kelainan seksual. Aku menempatkan apabila aku yang berada dalam posisi Aurea, bagaimana seandainya Aurea yang kuketahui sebagai gadis sempurna, tiba-tiba ternyata lesbian? Atau lebih parah lagi, fetisme? Jelas aku tidak akan pernah mau meranjang dengannya lagi. Aku tidak bersikap diskriminatif, aku mau saja berteman dengan para manusia berkelainan seksual seperti homoseksual atau incest, tidak ada masalah sama sekali. Cuma aku tidak akan pernah mau mengencani mereka, apalagi jadi salah satu dari mereka. Tidak akan.
Aku tidak bisa membayangkan bagaimana menjadi Lolita complex., yang sibuk browsing foto-foto perempuan tanpa payudara dan berseragam SD.
Aku normal, aku normal, aku normal.
Sepanjang hari kuhabiskan dengan keliling-keliling seperti orang gila. Agak timbul perasaan bersalah karena meninggalkan Cherry sendirian di dalam hotel, namun masih dikalahkan rasa ketidakinginanku menemuinya. Sekarang aku masih keliling Shibuya menggunakan kaki. Tidak terasa langit sudah mulai gelap. Aku tidak perduli ini jam berapa, karena memang aku tidak mau tahu. Blackberryku kumatikan dan jam tanganku kutinggal di kamar. Sejenak saja, aku ingin menjadi orang yang tidak perduli waktu. Agak timbul perasaan bersalah karena meninggalkan Cherry sendirian di dalam hotel, namun masih dikalahkan rasa ketidakinginanku menemuinya. Toh, ia bisa memesan makan di dalam hotel. Lamunanku tanpa sadar membawaku ke depan sebuah bar dengan sorotan lampu gemerlap di sepanjang atapnya. Kudorong saja pintunya dan kumasuki bar itu. Bau asap rokok dan minuman keras langsung menyengat hidungku. Aku memutar mataku mengelilingi ruangan, sambil bertanya pada diriku sendiri apa yang aku cari. Mungkin hanya tempat duduk-duduk, tapi mungkin juga seorang pelacur.
“Wanna ride?” tanya seorang gadis muda, sambil menyentuh lembut pundakku. Aku menatap sosok itu, tubuhnya bagus dan cukup mengundang hasrat. Cara ia mengucapkan ‘wanna ride’ agak membuatku tertawa karena justru hampir terdengar seperti ‘wona rida?’. Lidah Jepang memang kurang fasih berbahasa Inggris sehingga membuat hampir semua kata terdengar lucu. Sudahlah, ini bukan waktunya memikirkan masalah English pronounce orang Jepang. Ini waktunya memikirkan abnormalitas fungsi seksualku.
Gadis itu melingkarkan lengannya yang ramping di leherku, menatapku langsung ke mata dan tersenyum, “Im free, for a cool guy like you.”
Aku masih tidak berucap satu katapun. Meskipun dia gadis Jepang, ini pertama kalinya aku berurusan dengan hooker dan mau tidak mau aku merasakan nervous dan risih yang membuat linu. Mau tidak mau Gonore, Siphilis dan Herpes genital tetap terbayang meskipun yang kupandang sekarang adalah tubuh luar biasa indah dengan kulit putih susu.

Aurea

Nadya Maulana berlari tergopoh-gopoh, sampai Gianfranco Ferre long gown baru miliknya terseret-seret oleh sepatunya sendiri.
“Nadya, behave. What u’re doing is so middle class.” Alena Hafid memprotes, menatap sinis ke sahabat kentalnya itu, sambil menyesap gelas champagne di tangannya dengan anggun.
“Alena! Listen, kalau enggak karena kamu aku nggak akan rela juga lari-lari memakai this thick Gianfranco Ferre dress!” Alena tampak kesal. Maksudnya lari-lari demi sahabat tersayangnya, namun malah ditegur dengan sarkasme.
“What?”tanya Alena, dengan ekspresi acuh.
“Tebak Aurea Frigida datang sama siapa?” tanya Nadya, dengan nada spooky seakan dia akan bercerita tentang vampir jahat.
“No doubt, Mikael Sahesya Algero. Who’s else?”Alena menjawab dengan ekspresi malas.
“Bukan! Evan! Your beloved pumpkin!”
“Evan? Hervan Aliandro, my ex? Jangan bercanda!” Alena panik, mengguncangkan tangan Nadya dengan tangan kirinya hingga champagne di tangan kanannya tumpah sesikit.
Aku tertawa geli melihat mereka berdua. Mereka pikir suara mereka tidak terdengar olehku. Kalau nggak bisa bisik-bisik nggak usah ngomongin orang deh. Mungkin mereka tidak sadar jarakku sudah sedekat ini hingga bisa mendengar percakapan mereka dengan jelas.
“Enjoy this silly crowd, baby?”tanya Hervan sambil mengerling, dengan satu tangan merangkul pinggangku dengan intim dan satu tangannya menyambar segelas champagne di meja.
“Sure. Apalagi melihat mantan kamu heboh.”
Mira Juetta, gadis blasteran Venezuela yang merupakan teman cliche mereka langsung ikut bergabung sekedar untuk memberikan informasi, “*Mi querida… se puede oír”
“Kamu ngomong apa sih?! English or Indonesian please!” omel Alena.
“Ehm, kayaknya dia bisa denger kalian ngomong.”
Alena dan Nadya serempak menoleh ke arahku, kali ini muka mereka tidak canggung lagi melainkan ekspresi kesal yang tidak bisa ditutup-tutupi.
“Kenapa kamu nggak ngomong daritadi!” bisik Alena kepada Mira, yang lagi-lagi terdengar olehku.
“Hey, Alena!” Hervan menyapa, lantang.
Alena tersenyum dipaksakan, “Udah balik dari Canada?”
“Kalau belum balik gue nggak akan ada di sini. Ternyata kalian kenal ya?”tanya Hervan, melirik ke arah Alena, kemudian ke arahku.
“Baru pernah bertemu beberapa kali. Aurea kan orang baru di lingkungan kita.”
“Lingkungan ‘kita’, atau lingkungan Alena?” goda Hervan, merangkul pinggangku makin erat. Wajah Alena memerah, tangannya mengepal kencang menahan emosi. Aku tahu ia mencoba merendahkanku di depan Hervan, di depan umum.
“Ya lingkunganku termasuk kamu di dalamnya kan, Van? Kita hidup di lingkungan yang sama.” Alena menatap Hervan dengan tatapan manisnya, kemudian menoleh ke arahku dan membuka mulutnya lagi,
“Yah aku mengerti sih, Rea. Tuntutan ‘profesi’ menjadi pacar Mikael Sahesya Algero penerusnya Algero corp.salah satunya harus punya lingkungan sosial yang ‘jelas’. That’s why, kita pengertian banget sama kondisi kamu, dan dukung kamu melalui Espumosa gathering.”
Aku tidak menyangka mulut Alena bisa setajam itu, se bitch itu, dan dia berani berbicara seperti itu di depan Hervan. Ekspresi kagetku tidak bisa terhindarkan mendengar kalimat sinis itu. Tampaknya Hervan juga menangkap perubahan raut mukaku. Anehnya ia justru langsung tertawa terbahak-bahak.
“Kalau memang dihadapkan pilihan, gue lebih memilih keluar dari ‘lingkungan kita’, Lena. Pilihan perempuan ‘kita’ sedikit, dan rata-rata membosankan karena mereka cenderung self-centered. Bahkan kalau disuruh memilih aku lebih tertarik sama penyanyi pendatang baru dari daerah, mereka cantik-cantik dan cenderung ceria. Perempuan ‘kita’ ekpresinya cenderung datar. Belum lagi karakter arogannya, saingan sama nyokap gue dong ujungnya.”
Aku tersenyum, tidak terang-terangan, tapi simpul. Aku merasa puas sekali akan sindiran Hervan yang langsung membuat muka Alena merah padam.
“Selera yang ,- umh, aneh.” Komentar Alena, dengan senyum kesal sekaligus canggung, sembari membalikkan badan dan meninggalkan aku dan Hervan yang saling berpandangan sambil tersenyum geli.

Cherry

Mikael pulang larut malam. Lebih tepatnya, sudah pagi. Ia pulang dalam keadaan setengah sadar, kuanggap ia habis menenggak beberapa sloki minuman keras dari bau kuat alkohol yang bercampur nakal dengan bau parfum farenheitnya.
Ia cuma mengatakan satu kalimat sebelum tewas di tempat tidur ,
“Besok kita pulang pesawat jam 12 siang” sambil mengacungkan dua tiket pesawat yang tanggalnya telah dimajukan.
Aku ingin sekali merengkuhnya, meraihnya. Tapi begitu aku baru hendak memulai menyentuhnya, ada bunyi bel kamar. Kubuka pintunya, mendapati seorang gadis cantik yang masih kukenali wajahnya sebagai Ayako, si resepsionis berwajah Asia Carrera datang bersama 2 roomboys.
Ayako menjelaskan bahwa sebelum masuk kamar, Mikael sempat meminta kamar tambahan dan meminta bantuan roomboys untuk memapahnya ke kamar baru. Ayako mengikuti ke atas karena khawatir akan kondisi Mikael yang tampak sudah mabuk parah, katanya. Menurutku, lebih karena Mikael adalah salah satu customer asing paling tampan yang pernah menginap di salah satu cabang four season ini.
Ayako berkata padaku, Mikael sempat menyampaikan lewat Ayako bahwa alasan ia pindah kamar adalah karena ia tepar parah dan tidak ingin merepotkanku. Tapi aku tahu alasan sesungguhnya adalah karena ia tidak ingin dekat-dekat denganku. Menurutku, sekarang ia menganggap aku sejenis penyakit yang harus dihindari.
Aku tidak pernah berharap semuanya berdampak seperti ini. Aku senang karena akhirnya ia mengakui eksistensiku sebagai his significant other, tapi tidak dengan buntut permasalahan seperti ini.
Aku tidak tahu hal apa yang harus kulakukan atau kukatakan pada Mikael untuk meyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja dan bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan atas apa yang terjadi semalam. Dia melakukannya karena ia menginginkanku, kan? Kita saling tertarik. Apa yang harus ditakutkan? Nothing to lose, right?



Namun aku yakin hasilnya akan percuma. Ia tidak akan mempercayainya. Karena kalau bicara soal kejiwaan dan kesehatan mental, jelas dialah masternya. Dia tidak akan pernah benar-benar mendengar pendapat seorang……
…. subjek penelitian.

Mikael Sahesya Algero
Aku terus mendengarkan iPod ku, menekan tombol shuffle sehingga playlist ku memutarkan lagu-lagu dengan urutan acak, sementara padanganku tidak beralih dari majalah Jakarta Globe di tanganku meskipun sejak setengah jam yang lalu mataku terpaku statis di halaman 38. Aku tidak benar-benar membaca majalah ini, hanya saja ketakutan bertemu mata dengan Cherry atau diajak bicara olehnya membuatku terpaksa berpura-pura konsentrasi dengan majalah ini semenjak awal pesawat mulai boarding sampai dengan sekarang.
Entah bentuk tindakan yang kulakukan ini tindakan yang sangatlah pengecut karena berusaha lari dari keadaan, atau memang karena ini satu-satunya jalan keluar paling bijak yang bisa diambil.
Aku takut akan ketakutan yang aku rasakan. Aku takut ketakutan menghadapi Cherry ini adalah pertanda bahwa aku cinta padanya. Tidak, itu tidak boleh terjadi. Itu tidak mungkin terjadi.
Satu yang perlu digaris bawahi, apabila seseorang bertanya padamu ‘cinta atau nafsu’? jangan pernah menjawab cinta kalau kamu tidak mau mencanangkan diri sebagai bullshitter. Cinta dan nafsu itu satu paket. Tidak mungkin kamu mencintai seseorang jika kamu tidak akan terangsang olehnya. Jelas sekali hal itu tidak bisa dipungkiri.
Tapi beda ketika kamu mencintai anak kecil. Anak berusia 10 tahun yang payudaranya belum tumbuh, bahkan belum mengalami menstruasi. Apa ada rangsangan seksual yang bisa kamu harapkan? Beda lagi bagi para pengidap kelainan seksual phedofilia, yang mana jelas sekali aku bukan salah satunya. Meskipun aku memiliki ketertarikan terhadap Cherry, bukan berarti aku doyan berhubungan seks dengannya. Tubuhnya benar-benar tidak menarik secara seksual bagiku, at all. Imajinasi terliar yang bisa aku lakukan terhadapnya hanyalah mencium bibirnya, itupun terasa menjijikkan jika diingat-ingat. Bayangan perasaan yang kurasakan jika aku mencium Cherry juga tidak akan menimbulkan proses ejakulasi, namun hanya memberikan perasaan warm , perasaan nyaman. Logikaku yang kuat membentuk pemikiran di dalam otakku bahwa perilaku seksual yang seperti itu tidak pada tempatnya dan aneh.
Perasaan ini sungguh aneh dan blur. Aku mungkin mencintainya. Aku memikirkannya lebih sering daripada porsi aku memikirkan siapapun, aku senang berada di dekatnya dan aku menikmati waktuku dengannya. Tapi aku tidak menginginkan menjamah tubuhnya seperti aku menginginkan tubuh Aurea. Baru kali ini dalam hidupku, konsep cinta dan nafsu terpecah menjadi dua.
Nalarku mulai sombong, tidak mau bekerjasama dengan hatiku. Rasanya sulit sekali mengintrepretasikan bentuk perasaan yang aku rasakan ini, meskipun ilmu kejiwaanku tidak kurang-kurang. Sulit pula menerima kenyataan kamu tahu kamu ‘sakit’, dan kamu tahu bagaimana menyembuhkan ‘sakit’ itu, namun kamu tidak memilih untuk mengobati dirimu. Atau lebih tepatnya, belum memilih sembuh.
Kalaupun ini adalah euphoria sesaat, kenapa obyek euphoria ini harus anak kecil? Kenapa aku harus membiarkan aku ada dalam peran yang berkesan sebagai penjahat yang akan menerkam? Mencintai anak kecil terkesan begitu jahat. Kenapa obyek euphoria ini bukan seorang pelacur dengan kerlingan nakal dan fishnet stocking? Kalau kondisinya seperti itu, aku tidak mungkin terkesan sebagai penjahat. Perasaan ini pun bisa aku eksplorasi lebih jauh, bahkan aku berhentikan melalui sebuah one night stand yang liar.

Aurea Frigida
“Sayang, te qiero.” ucapku, sambil membelai mesra lengan Mikael.
Mikael tersenyum, namun wajahnya tidak menoleh dari TV. Channel yang sedang kusetel adalah fashion TV, dan bukan acara yang menampilkan model-model sexy, melainkan menampilkan seorang perancang yang sedang mempresentasikan karya terbarunya. Jelas sekali walau mata Mikael tertuju pada layer TV, otaknya sedang berada jauh dari sini. Tidak mungkin dia menikmati penjelasan mengenai rancangan hasil inovasi dari classic blazer ala Coco Channel.
Aku mencoba approach lagi, dengan mengelus rambut Mikael.
Mikael tersenyum lagi, dengan ekspresi yang lebih canggung.
“Kamu kenapa sih, gelagatmu jadi aneh gitu.” omelku kesal.Kalau Mikael cuek, itu biasa. Tapi kalau dia tampak canggung, itu luar biasa.
“Aku cuma lagi banyak kerjaan. .”
“Gimana mungkin I don’t mind it? You’re here with me now.”
“Okay, aku akan berusaha sekeras mungkin untuk act normal,I’ll prented like I have nothing in mind for you, supaya kamu merasa nyaman..”
“Kok kata-katamu terkesan menyalahkan aku sih?” protesku. Makin merasa nggak comfort , bahasa tubuh kita masing-masing nampaknya menyesuaikan emosi kita. Kaki Mikael mulai bergoyang-goyang, symptom ketidaknyamanan. Aku pun mulai menyilangkan tanganku, symptom selfish.
“Aku nggak menyalahkan kamu.” jawab Mikael singkat, tanpa menoleh ke wajahku.
“Kamu menyalahkan! Kamu berucap seakan aku pacar yang nggak toleran. Kamu berucap seakan-akan aku memaksa kamu untuk berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Mikael, aku nggak nyuruh kamu berpura-pura tenang, while u’re in trouble. Aku cuma ingin tahu apa yang ada di pikiran kamu dan aku berharap bisa membantu! ”
“Dan aku nggak menyalahkan kamu, Aurea. Aku cuma nggak mau membuat kamu merasa nggak nyaman. Lagian, nggak usah pakai emosi lah. Santai aja bicaranya.”
“Bilang aja kamu nggak mau share masalahmu. Bilang aja kamu rela pretend that u’re okay supaya aku diam dan nggak mengganggu kamu lagi! Bilang aja kamu menganggap aku inkompeten bahkan sebagai tempat curhat!”
“Aurea, tenang.”
“KAMU SELFISH BANGET!” teriakku, bangkit dari sofa, menuju keluar apartmenku. Persetan Mikael masih di dalam sana, aku tahu dia nggak bakal mengejarku.
Aku memasuki swift pinkku, kemudian memutar starter mobil. Mp3 player otomatis menyala, tepat pada lirik:
‘U can’t play a broken string. U can’t feel anything. If your heart don’t want to feel, I can’t tell you something that ain’t real.”
Kadang lagu yang kita dengar secara tidak sengaja mampu mengintepretasikan perasaan kita lebih pintar daripada kita sendiri.

Mikael
“Cha, kamu ngapain mau gabung di Espumosa?” tanyaku, kepada si adik yang daritadi sibuk membolak-balik sebuah majalah high-end versi Indonesia.
“Pengen.” jawab Chaca asal, tidak mengalihkan pandanganya dari majalah itu.
“Apaan sih bacaan kamu. Kalau mau membaca itu yang ber-‘isi’, jangan baca majalah terus. Apalagi majalah tentang euh- gathering party?”
“Nggak cuma itu kali isinya!” omel Chaca, kali ini menghadap ke arahku dnegan muka kesal, “ Business, cultural, social and sporting life, lengkap!”
“Bilang aja mau nyari muka kamu.” godaku, sambil menawarkan sekaleng A&W padanya. Sudah kubukakan kalengnya, karena aku tahu ia pasti ingin langsung meminumnya. Chaca pecinta rootbeer.
“Terus kenapa juga kalau aku nyari muka aku? Nggak boleh?” tanya Chaca, sambil melotot.
“Wartawannya males motret yang masih kecil. Biasanya wartawan lebih suka motret ibu-ibu, biar dikasih tips.” aku memberi komentar sinis.
“Berarti kak Aurea ibu-ibu dong. Fotonya banyak muncul.” balas Chaca, menjulurkan lidah.
“Hah? Memang banyak fotonya Aurea?”tanyaku sedikit kaget. Aku tidak menyangka secepat ini dia malang melintang di dunia socialite, padahal baru sebentar dia bergabung dengan Espumosa. Jujur aku kurang suka hal-hal yang berhubungan dengan flossy things, meskipun mama dan adikku bersikap sebaliknya. Aku langsung merebut majalah itu dari tangan Chaca.
“Tuh kan penasaran pengen liat.”
Aku melihat sebuah halaman Aurea berdiri berjejer dengan ponakan orang yang disebut-sebut sebagai orang terkaya di Indonesia. Mungkin dia dipotret karena sedang di samping the top of the top girl itu. Melihat satu halaman saja sudah membuatku malas karena yang kutangkap adalah wajah orang-orang haus pengakuan walau dunia sudah tahu bahwa mereka wealthy. Tapi aku tetap penasaran, aku ingin melihat mana saja foto Aurea yang disebut ‘banyak’ oleh Chaca.
Aku membuka halaman lain, kemudian tersentak. Aku melihat foto Aurea dirangkul pinggangnya oleh Hervan Aliandro, the badest Cassanova in town pada event ‘Bring Your Butch’.
Aku jadi bingung, kalau aku tidak benar-benar mencintai Aurea, kenapa hatiku terasa seperti tertusuk dan sakitnya bukan main saat melihat foto ini? Padahal sekedar foto.

Aurea
“Memangnya kenapa? Aku mengajak dia datang ke espumosa Gathering karena kamu nggak bisa menemaniku kan? Apa salahnya sih kalau aku cuma butuh patner datang ke acara ‘bring Your Butch’ ?”
“Kamu tahu kan siapa Hervan Aliandro?”
“Please, Mikael. Jangan terlalu konservatif deh. Apa salahnya sih pergi bersama ke sebuah acara? Kenapa kamu jadi kolot gini sih?”
“Aku ulangi pertanyaanku: kamu tahu kan siapa Hervan Aliandro. Jangan mengalihkan permbicaraan.”
Aku terdiam, aku baru kali ini melihat wajah Mikael sekeras ini dan nada bicaranya setegas ini. Aku jadi heran, apa yang busa begitu berbahaya dari laki-laki se charming dan dengan cara mencium sebaik Hervan Aliandro?
“Siapa sih yang nggak tau Hervan Aliandro?” balasku, sinis.
“The true cassanova, penjahat kelamin, sampah banget lah.”
“Mikael, kamu nggak biasanya jelek-jelekin orang kayak gini? Kenapa mulut kamu jadi kasar gitu sih?” aku berseru kaget, melihat luapan emosi yang gamblang sekali dipamerkan oleh pacarku selama 2 tahun ini.
Mikael menggeleng, “Aku nggak jelek-jelekin. Dia memang jelek.”
“Stop it, Mikael. U don’t know him.”
“Belain dia?” nada suara Mikael makin meninggi.
“Aku kira selama ini kamu nggak punya emosi. Baru hari ini aku nyadar kamu punya emosi.”
“Nggak ada manusia tanpa emosi.”
“Kamu manusia tanpa emosi. Kamu cuma peduli dengan diri kamu, kamu nggak pernah memujiku cantik meskipun aku berdandan berjam-jam just to serve you my best appereance.”
“Kamu setiap hari setiap saat selalu terlihat cantik jadi aku bingung kapan harus memuji, jika itu yang kamu maksud dan jangan mengalihkan pembicaraan. Fokus ke permasalahan. Aku mau tanya, kamu ada apa dengan Hervan?”
Aku memalingkan wajah, tidak mau melihat ke wajah Mikael. Takut ia menangkap perubahan ekspresiku yang cukup kentara. I used to be the queen of faking, tapi kenapa kali ini aku tidak sanggup menutupi luapan perasaanku? Ditanyai seperti itu saja sudah cukup membuat jantungku berdegup sangat kencang.
“Nggak ada apa-apalah.” jawabku. Aku berusaha nada suaraku terdengar wajar dengan menjaga tone suaraku. Jangan sampai terdengar panik atau bingung. Kalau mau berbohong, kita harus menunjukkan bahasa tubuh dan nada suara yang wajar, jangan sampai tone suara kita tiba-tiba meninggi atau rendah.
“Aku nggak cuma bicara soal foto ini. Sebenernya aku dengar dari beberapa teman, kamu berkali-kali ‘masuk’ sama Hervan, padahal kamu sudah lama nggak pernah ‘masuk’ kan?”
“Mereka salah lihat kali.”
“Nggak mungkin, they did not drunk.”
“Ya udah, memang kalau aku ‘masuk’ kenapa? Setahuku hubungan kita hubungan demokratis. Sebelumnya kamu nggak pernah melarang aku untuk melakukan apapun, di samping kamu juga tidak pernah mau dengar omonganku. Jadi aku menganggap bahwa benteng privasi dalam hubungan kita sangat kuat. Satu sama lain dilarang intervensi.”
“Rea, aku tidak bermaksud mengintervensi. Aku cuma bertanya.”
“Pertanyaanmu memojokkan!” protesku. Ya, aku memang harus protes akan cara bicara dia yang makin lama makin terkesan menghakimi. Aku bukan pesakitan, aku bukan penjahat. Aku tidak merasa salah sama sekali menghadiri ‘bring your butch’ bersama Hervan karena Mikael sibuk. Toh, pacarku tetap Mikael.
“Kamu merasa dipojokkan?” tanya Mikael lagi, pengucapannya halus tapi dengan nada bicara yang sangat menyebalkan. Akhir-akhir ini aku merasa makin tidak ada kecocokan diantara kita berdua. Apapun masalahnya bisa mengarah pada pertengkaran. Entah karena keinginan untuk mempertahankan hubungan yang makin menipis atau makin kelihatan watak aslinya. Apapun, aku merasa tidak nyaman dekat dengan Mikael akhir-akhir ini. Hervan jauh lebih fun.


Cherry

Semenjak kejadian itu, aku tidak pernah melihat Mikael lagi. Untuk bertanya pada orangtuaku apakah ia mengundurkan diri atau tidak saja aku tidak berani karena sekarang menyebut namanya saja aku merasa malu.
Semakin aku membayangkannya semakin aku gila, karena aku menginginkan hal itu terulang dan terulang lagi. Tapi ketika tidak dibayangkan, visualisasi otakku haus akan bayangannya.
Masih jelas dalam ingatanku secara persis, bagaimana proses kejadian itu berjalan. Aku ingat apa pakaian yang kukenakan, pakaian yang ia kenakan, di mana persisinya posisi kita, intonasi bicara kita bahkan kondisi emosi yang kurasakan saat itu. Saat dimana dia menciumku. Aku menginginkannya lagi. Aku mau dia. Aku belum pernah merasakan menginginkan Mikael sebesar ini. Ternyata semakin banyak yang kudapat, perasaan ini kian menuntut lebih.
Normalkah apa yang kurasakan sekarang ini? Maksudku- normal secara generaliasi, bukan normal berdasarkan usiaku. Kalau berdasarkan usia aku sudah tahu jawabannya, jelas ini abnormal.
Tapi bayangan ini terngiang setiap saat. Saat aku lagi makan, mandi, melamun dan diperparah ketika hendak tidur. Potongan gambar adegan itu terus berloncatan di kepalaku dengan lincah dan tak mau pergi. Tiap kali potongan gambar itu terlintas, sekujur tubuh ini serasa merinding, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Aku dapat merasakan seluruh pembuluh darahku berdesir, diiringi detak jantung yang makin makin cepat.
Aku makin tidak bisa berkonsentrasi terhadap segala hal. Pikiranku hanya ada di dia, dia dan dia. Aku tidak butuh yang lain, yang aku mau cuma dia dan ciumannya. Tetapi aku tidak tahu bagaimana, aku dapat memanggil namanya, meminta ia menemuiku untuk melakukannya sekali lagi. Aku benci rasa naïf ini. Aku benci ketidakberdayaan ini.
Berkali-kali aku mengetik pesan di layer handphone, untuk dikirim ke Mikael walaupun hanya sekedar, ‘hai, apa kabar?’ tapi ujung-ujungnya aku selalu mengurungkan niat mengirim pesan itu.

Aurea

Ibarat makanan, hubunganku dengan Mikael itu nasi. Hambar, tidak ada rasanya. Semakin aku berusaha untuk menyukainya, semakin aku malas dengannya. Awalnya aku kmenyalahkan diri sendiri karena merasa bahwa semua ini karena adanya Hervan, namun kemudian kusadari ada banyak sekali alasan wajar mengapa aku bisa merasa hal seperti ini.
Mikael tidak pernah mau peduli dengan hal-hal kecil seperti ucapan selamat pagi dan bertanya bagaimana hariku. Ia melewatkan prosesi perhatian seperti itu dan mengabaikan eksistensi romantisme. Apapun yang aku ceritakan kepadanya tidak pernah ditanggapi dengan benar-benar, ia terbiasa tersenyum dan merasa cukup dengan respon “oh..” ketika aku bercerita panjang lebar tentang segala sesuatu.
Mikael tidak pernah melontarkan pujian, sekeras apapun aku berusaha tampil cantik di matanya. Awalnya itu menjadikannya menjadi laki-laki yang menarik karena terkesan cuek dan sulit ditaklukan, lama-lama dapat ditarik sebuah konklusi bahwa dia tidak mengapresiasi kemenarikkan fisikku. Entah tidak mau, atau memang bagi dia aku tidak menarik.
Selain soal fisik, Mikael tidak tertarik dengan kelebihanku, apapun itu. Nampaknya ia tidak pernah menganggap aku cerdas, tidak pernah menganggap aku pekerja keras, dan fakta-fakta positif lain tentangku. Dia tidak pernah terlihat berseri ketika mengucapkan selamat atas keberhasilan yang aku capai. Segala bentuk percakapan diantara kami, lebih cenderung ke basa-basi formal.
Seringkali aku merasa dia tidak pernah menganggapku ada.
Keadaan diperparah karena sekarang aku tidak merasa apapun ketika kami berciuman. Rasanya seperti makan lobak, hambar. Terkadang malah justru mengganggu dan membuatku merasa risih. Kalau begini terus, lama-lama sebuah ciuman itu lebih terasa jadi sebuah tanggung jawab dan rutinitas, seperti PR buat anak SMP. Rasanya menjemukan dan menjadi pilihan terakhir untuk dilakukan.


Cherry

“Kalau kamu sempat berpikir untuk mencintai aku, itu harusnya kamu harus mecintai aku. Mungkin aku bukan dia. Mungkin aku tidak memiliki tubuh yang layak dicintai. Tapi aku adalah aku. Dan aku tahu, kamu menginginkan aku. ”
“Stop sampai di situ.” potong Paramitha, menghentikan latihan akting Safira, murid paling cantik di kelas yang dirujuk memerankan Mermaid dalam pentas sandiwara nanti.
“Kenapa?” tanyaku, menatap Paramitha, otakku sudah berputar keras mempersiapkan argumen sarkatis untuk memulai kontroversi.
“Kenapa di sini Mermaidnya berbeda dengan Little Mermaid yang aku tahu? Dialog-dialog si Mermaid di sini berkesan, rr, egois?” tanya Paramitha, sambil membolak-balik skrip.
“Meskipun si Mermaid akhirnya mati menjadi buih, tidak ada salahnya kan dia menginginkan mencicipi kebahagiaan? Dia punya hati, dia punya ego.” jawabku, dingin.
“Cherry, kita anak-anak yang bermain sandiwara, kita bukan pemain watak yang mau pentas di Broadway. Lagipula, dongeng diciptakan untuk menciptakan imajinasi dunia impian, bukan dunia relita. Tidak perlu ada ego dalam dongeng.”
“Tapi kalau dongeng terus-terusan menawarkan mimpi, anak-anak akan tumbuh secara tidak realistis.” .
Paramitha membaca satu dialog dari skrip bikinanku tersebut, “ ‘Putri Negri seberang memang cantik, ia memang memiliki kaki jenjang karena kebaikan tuhan. Sementara aku tidak. Siapa yang harus dipersalahkan? Aku? Atau tuhan?’ – ini tidak sopan , Cherry. Ini menyalahkan Tuhan, ini bisa merusak generasi.”
“Itu bukan mempersalahkan Tuhan, itu pertanyaan soal adil tidaknya hidup. Manusia berhak memiliki rasa ingin tahu.”
“Terserah kamu lah, nggak ada yang akan menang kalau mau berdebat sama kamu.” Paramitha melemparkan skrip itu ke arah Safira yang berusaha menangkapnya dengan kewalahan. Safira gadis yang anggun tapi tampak rapuh, ia tidak bisa melakukan suatu gerakan cepat karena rentan terjatuh.
“Ini lanjut, atau?” Safira bertanya dengan takut-takut, bergantian menatap aku dan Paramitha.
“Lanjut.” jawabku.
Safira pun kembali membaca dialog yang aku tulis dengan irama yang melankolis dan dramatis. Kalau boleh jujur setiap kata yang diucapkan Safira menimbulkan sayatan di dada, karena mendengar dialog si Mermaid sama saja mendengar isi hatiku tentang Mikael yang dibacakan dengan lantang oleh orang lain.
Paramitha meninggalkan aula tanpa melihat ke arahku sama sekali. Aku tahu ia kesal sekali padaku. Tapi otoritas mengenai skenario sudah diberikan sepenuhnya padaku, aku tidak mau mengubah skenario yang sudah susah kubuat untuk orang lain. Toh, pendapat orang itu sifatnya beranekaragam. Bisa jadi aku menuruti keinginan Paramita untuk menjadikan dialognya lebih sopan, namun bukan berarti aku bisa memuaskan semua pihak. Tidak mungkin aku menyenangkan semua pihak kan?
Akhir-akhir ini aku menjadi lebih tidak peka pada perasaan orang lain. Sebenarnya bukan tidak peka, aku mengerti mereka tapi aku tidak mau mengerti. Aku lelah membiarkan diriku jadi seseorang dalam posisi lemah yang bisa bebas disakiti atau dibuat susah karena orang lain. Selama ini aku menempatkan diriku dalam posisi pasif, karena aku tidak ingin menimbulkan masalah (kecuali dengan frigid, tentunya). Tapi aku sendiri sudahlah sebuah masalah, kenapa takut menghadapi masalah-masalah lain?
Aku tidak butuh menjaga social life, dari dulu aku sudah membiasakan hidup berlawanan dengan sistem. Bahkan, kondisiku sendiri melawan sistem. Kalau kondisiku tidak melawan sistem, aku tidak mungkin kesusahan seperti ini dari semula. Aku tidak pernah berharap lahir dalam kondisi seperti ini. Kalau dalam kasus begini, siapa yang harus dipersalahkan?

Mikael
Aku bangkit dari kasur untuk meninggalkan gadis yang tertidur di sampingku. Ini sudah gadis ketujuh yang kutiduri sejak aku dari jepang. Delapan, kalau Momohime si pelacur berkulit putih susu dihitung. Aku harus meyakini diriku, aku masih mampu terangsang oleh wanita dewasa. Ya, tentunya aku berhasil mendapatkan kepuasan tiap kali meniduri wanita-wanita itu. Aku tidak mengalami kesulitan dalam bereksplorasi keindahan tubuh mereka yang berarti I’m sexually normal.
Tetapi ada satu hal yang selalu merasupi pikiranku setiap kali pikiranku kosong. Adegan aku mencium Cherry, argh, membayangkannya saja aku sudah jijik. Bukan jijik kepada Cherry, tapi jijik kepada diriku sendiri. Rasa-rasanya aku pingin memukulkan botol Bacardi ke kepalaku sendiri keras-keras, sukur-sukur gegar otak hingga lupa semua yang aku alami atau kalau perlu mati sekalian. Potongan kejadian itu terlalu menjijikkan bahkan untuk dicacimaki.
Gadis terakhir yang kutiduri ini namanya Retha, dia model papan atasnya Jakarta. Aku mengenalnya dari sebuah party di Barcode. Satu hal yang membuatku merinding, karena dalam mabuknya ia sempat menyebut nama Alena Hafid. Takutnya mereka teman sepergaulan dan hal ini bisa sampai ke telinga Aurea. Tapi siapa yang bakal percaya? Bukannya besar kepala, tapi hampir semua orang yang mengenalku tahu aku seorang laki-laki setia dan baik-baik. Memang begitu pulalah adanya, setidaknya sampai kejadian di Jepang kemarin yang membuatku merasa seperti psikopat dan pemerkosa.
Aku benar-benar memilih memiliki jati diri baru sebagai seorang womanizer, playgirl atau cassanova, seperti Hervan Aliandro daripada jati diri baru sebagai laki-laki yang suka melakukan perbuatan tidak senonoh terhadap bocah di bawah umur, kedengarannya saja sangat mengerikan.
Aku cepat-cepat mengambil bajuku yang tercecer di lantai. Tadi aku sempat tertidur selama 2 jam dengan hanya boxer setelah menghabiskan energiku dengan bergumul bersama Retha.
“Mike..” sebauh suara mengagetkanku. Aku menoleh, Retha terbangun karena suara berisikku menggunakan baju. Padahal aku kira 8 shots tequila cukup menewaskan dia sampai besok pagi.
“Iya?”tanyaku, dengan gestur awkward karena ke-gap mau kabur meninggalkan dia.
“Kamu mau kemana?”tanya Retha
“Besok pagi aku ada research, harus menyiapkan ini-itu jadi aku harus pulang.” ujarku cepat-cepat, walau jelas sekali aku sama sekali bukan pembohong yang pintar. Nada bicaraku kertika berbohong sangat mudah terbaca karena tebata-bata dan artikulasinya tidak jelas. Aku harap hangover Retha cukup parah untuk membuatnya tidak menyadari symptom kebohonganku.
“Bukan karena takut dicariin Aurea?”tanya Retha.
Seketika, aku menjatuhkan blackberry yang kupegang. Nervous ku mulai terlihat parah dan memalukan. Playboy sejati macam Hervan pasti tidak akan melakukan tindakan sebodoh ini. Aku segera membungkuk untuk mengambil blackberry itu, tidak menjawab pertanyaan Retha.
“Kamu mau melanjutkan ronde kedua sama si miss perfeksionis ya?”tanya Retha lagi.
Aku menghela nafas, menatap Retha , “Aku mau pulang ke rumah, Retha.”
“Terus kenapa harus buru-buru kalau pulangnya ke rumah? Jangan kuatir, aku nggak akan bilang sama Aurea kok.”
“Kamu kenal Aurea?” aku tidak percaya pertanyaan yang semakin memojokkanku itu keluar dari mulutku.
“Siapa sih yang tidak tahu pacarnya Mikael Sahesya Algero? Oh my god, jangan bilang waktu kamu menggodaku semalam kamu kira aku nggak tau kamu udah punya pacar. Mikael, everyone in this town knows who you are and things about you. Kamu famous tapi naïf deh, hahaha…”
“Sorry.” cuma itu jawaban yang bisa kuberikan. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Rasanya tidak akan ada gunanya. Bagus, besok namaku akan disejajarkan dengan Hervan Aliandro brengsek tidak berotak itu.
Ada hikmahnya sih, aku selama ini tidak tahu aku terkenal. Malam ini, aku jadi tahu dan akan lebih berhati-hati dalam bersikap.


Aurea
Aku terkejut melihat buket bunga mawar biru yang luar biasa besar di meja kerjaku. Kulihat Aron berdiri sambil gelisah menggoyang-goyangkan kakinya sambil bersender di depan mejaku.
“Dari kamu?”tanyaku pada Aron, “Thanks.”
“Bukan dari gue. Juga bukan dari your Mr. Algero, kamu sudah putus dengan si dokter? Kapan? Kenapa tiba-tiba udah punya pacar baru?”tanya Aron.
Aku tertawa geli, “Jangan bicara asal. Aku belum putus dengan Mikael dan aku belum punya pacar baru. Aku mengecek nama pengirimnya di kartu ucapan.
‘Have a good day at work, miss. H.A.’
Hervan Aliandro. Mengucapkan namanya dalam hati saja jantungku sudah berdebar keras. This is so not me. Love is absolutely not my thing. Apalagi jatuh cinta kepada playboy. Itu hal paling tidak intelek yang bisa kulakukan.
Seharusnya logikaku berjalan, aku tidak percaya love-thingy. Menurutku, tidak ada yang namanya true love, yang ada adalah jatuh cinta pada perasaan suka itu sendiri sehingga kesannya berlebihan dan melankolis. Aku benci debar jantung ini. Memalukan.
“Kenapa kamu blushing?”tanya Aron, mengrenyit.
“Aku nggak blushing.” elakku, sambil melirik ke cermin kecil di meja kerjaku dan menyadari bahwa aku jelas-jelas blushing. Bukan karena efek blush on, karena pagi ini aku tidak memakai blush on.
“H.A itu siapa?”tanya Aron lagi, dengan ekspresi wajah tidak sabar.
“Majalah kita menulis tentang dia bulan lalu.” jawabku tak acuh, sambil duduk di meja kerjaku dan merapikan beberapa alat tulis yang berserakan di mejaku, “Ini pasti ada yang habis pinjem pulpen, soalnya meja aku berantakan, dan pulpen ijo aku ilang.”
“Siapa?”tanya Aron lagi.
“Buka saja majalahnya, walau sebenernya sebagai dirut harusnya kamu hafal isi majalah kita. Aron, u’re starting to step into my personal life. That’s not professional.” ujarku sambil tersenyum manis.
“Anto, ambilin majalah kita bulan lalu.” Aron mengkomando anak buahnya, kemudian meninggalkan bilikku dengan ekspresi kesal.
Begitu Aron hilang dari pandangan, ku mencari nama Hervan Aliandro di daftar blackberry messenger, untuk mengetik pesam:
‘Mawarnya bagus. Care for lunch?’

Cherry
“Berhenti pak.” Aku mengomando pada supirku, Pak Rakyo yang segera menghentikan Toyota Harrier hitam yang biasa digunakan mengantar jemput aku sehari-hari.
Aku memandang ke rumah besar di depan mataku. Sama besar dengan rumahku, hanya gaya rumahnya yang sangat berbeda. Rumah ini bergaya Victorian dan sangat ‘wah’, berbeda dengan rumahku yang etnis.
“Benar kan pak ini rumah nomor B-23?”tanyaku kepada Pak Rakyo, sebenarnya pertanyaan itu lebih kepada aku sendiri, sehingga aku lebih teliti memastikan ini rumah nomor B-23. Aku belum melihat tulisan B-23, namun karena rumah ini di samping rumah nomor B-21, aku menyimpulkan rumah ini nomor B-23.
“Iya non, itu ada nomornya.” Pak Rakyo menunjuk sebuah ukiran nomor rumah di pagar.
Aku membuka pintu mobil, melangkah mendekati pagar. Aku melihat bel dan intercom, aku memencet bel di intercom itu.
“Kediaman Hanubroto Algero. Dengan siapa??”tanya sebuah suara berat di interkom. Pasti satpam keluarga mereka.
“Saya..” aku hendak menyebutkan namaku, tapi takut kedatanganku ditolak mentah-mentah, jadi aku berubah pikiran,
“Aurea Frigida. Mau bertemu dengan Mikael.” aku berucap dengan suara yang sedewasa mungkin, namun nampaknya hasilnya tetap saja masih suara anak kecil.
“Mbak Aurea? Oh ya, segera saya bukakan.” jawab si penjawab interkom. Tampaknya si satpam tidak curiga.
Secepat mungkin aku masuk ke dalam mobil, jangan sampai si satpam syok melihat Aurea Frigida berubah menjadi cebol.
Tak lama,seorang satpam membukakan gerbang, mobilku pun memasuki pintu gerbang rumah keluarga Algero. Untung kaca film mobil ini lapisannya gelap, sehingga si satpam tidak bisa mengecek siapa yang berada di dalam.
Halaman rumah keluarga Algero sangat indah, di depan rumah ada patung venus berair mancur yang mengingatkanku pada zaman yunani kuno. Mobil berhenti persis di depan pintu utama rumah. Aku segera turun dan mengetuk pintu. Seorang pembantu rumah tangga berperawakan mungil membukakan.
“Siapa ya?” tanyanya, agak terkejut tampaknya gara-gara tamunya anak kecil.
“Mikaelnya ada?” tanyaku balik.
“Mikaelnya sedang keluar, ini siapa?” si pembantu balik bertanya. Jantungku seperti diremas. Serangan rasa melankolis kembali melanda pikiranku. Mengetahui kenyataan bahwa aku tidak bisa bertemu Mikael lagi hari ini saja rasa sakitnya bukan main, bagaimana kalau suatu saat aku harus menghadapi pernyataan langsung darinya bahwa ia tidak sudi bertemu lagi denganku?

“Siapa di luar, ni?”tanya sebuah suara lagi, berasal dari dalam rumah. Aku mengintip ke dalam. Seorang gadis yang sangat-sangat mirip dengan Mikael melongok ke arahku. Ia menggunakan celana pendek dan tank top. Umurnya kira-kira belasan. Ia tampak terkejut juga melihatku.
“Cherry?”tanyanya. Aku agak kaget ia tahu namaku. Aku mengangguk mengiyakan.
“Ya, saya Cherry.”
“Ayo masuk.” ujarnya ramah. Si pembantu rumah tangga yang kemudian kuketahui namanya adalah Nani pun membukakan pintu rumah lebar-lebar agar aku bisa masuk.
“Aku Chacha, adiknya Mikael.” Ia megulurkan tangannya padaku, aku agak grogi menyadari muka gadis di depanku ini sangat mirip dengan Mikael. Aku jadi merasa berhadapan dengan Mikael, “Mikaelnya nggak ada, tapi aku bisa sampaikan kalau ada keperluan penting. Ada apa, Cher?”
“Enggak cuma mau ketemu aja, soalnya biasanya aku konsultasi sama dia tapi dia mengundurkan diri sebagai konselorku tanpa konfirmasi dulu. Maksudku- kan lebih baik dibicarakan dulu kalau memang mau berhenti.”
“Hah? Dia mengundurkan diri jadi konselormu? Kamu kan project penting nya Dokter Hendro Brawoto. Kok dia gila sih. Dia nggak pernah cerita sama aku tuh.” Chacha bereaksi kaget akan informasi yang baru ia dapat dariku.
“Ya sudah , saya pamit saja.” aku berujar, enggan ditanya-tanya lebih lanjut mengenai masalah ini, kemudian berbalik ke pintu.
“Wait!” Chacha menarik tanganku, “Aku masih penasaran sekali deh pingin bicara denganmu. Karena-wow, kamu benar-benar seperti yang diceritakan. Kamu dewasa sekali. Aku tidak merasa berbicara dengan anak SD.”
Aku tersenyum pahit, reaksi ini biasa kudengar dari siapapun. Sudah bosan. Perasaanku selalu plain mendengar komentar seperti itu, sudah tidak lagi merasa bangga ataupun merasa terganggu. Kalimat-kalimat seperti itu ama sekali tidak akan affect emosiku.
“Mama sebenarnya melarang mampir-mampir sepulang sekolah.”
“Pasti akan ada excuse untuk ini. Mmm, gimana kalau kamu menunggu di kamar Mikael saja?” tawar Chacha.
Aku berpikir sejenak, laku menganggguk,“Mm, kamu benar mungkin akan ada excuse.”


Mikael
Aku meneliti sosok di depanku. Jelas sekali ia adalah visualisasi nyata kata ‘sempurna’. Semua perempuan yang kukencani belum ada yang menandingi Aurea Frigida. Ia sangat cantik, bahkan terlalu cantik. Keanggunannya luar biasa, membuat pandangan para pria di ruangan ini tidak bisa teralih darinya.
“Mikael..”
“Rea..”
Kita berucap berbarengan.
“Kamu dulu.” pintaku, menghela nafas panjang.
“Ya, memang seharusnya aku dulu. Lady’s first,” Aurea tertawa kecil, menyesap segelas red wine Ferrari Carano tahun 2003, “Aku merasa hubungan kita tidak bisa diteruskan lagi.”
“Aku juga merasa hal yang sama.” ujarku cepat-cepat, “Aku tidak pantas untukmu, aku…”
Aurea langsung memotong omonganku,“What are you talking about? Aku yang nggak pantas buat kamu. Aku selingkuh.”
“APA?!” sekarang justru aku yang kaget setengah mati. Aku kira ceritanya tidak seperti ini. Aku kira aku adalah pelaku, Aurea lah yang korban. Bukan sbaliknya, sekarang sepertinya akulah yang korban dan Aurea lah yang bajingan. Seharusnya akulah yang mengaku bahwa aku selingkuh, tidak didului seperti ini sehingga aku malah mematung seperti orang bodoh. What the..
“Maafin aku, Mike. I’m a bitch. Real bitch. I don’t deserve you. Aku udah berkali-kali jalan sama dia. We kissed. We.. we had sex…”
“Siapa orangnya, Rea?” suaraku terdengar datar, tapi lidahku bergetar. Seluruh darahku seakan terpompa ke ubun-ubun, sehingga kepalaku terasa berdenyut-denyut.
“Kamu nggak perlu tahu. Itu nggak penting, yang terpenting adalah aku nggak layak bersamamu dan aku minta kita akhiri semuanya.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Flashback semua kejadian berputar di kepalaku, aku meniduri beberapa wanita, Momohime, kalimat Nante hidoi hito diiringi sebuah tamparan, samapi desahan Retha memanggil namaku,
‘Mika…el. Don’t… stop.’
“Mike, are you okay?” Suara Aurea membuyarkan lamunanku, Aurea memandangiku dengan cemas, “Listen, I’m sorry. I’m really sorry.”
Aku masih terpaku, menatap gadis yang selamaini kukira selalu kusakiti, tidak berdaya apa-apa, dan jelas akan menangis begitu kukatakan kalimat putus, justru membuatku merasa ingin menangis sekarang. Tapi harga diri kejantananku tidak akan membiarkan setitik air matapun keluar dari mataku. Aku tidak selemah itu. Hanya saja, perasaan ini terasa terlalu kacau. Mengapa selingkuh jauh lebih mudah daripada diselingkuhi? Ketika selingkuh, melakukannya dengan senang hati tanpa menyangkut pautkan perasaan. Menganggap satu malam bersama perempuan tidak lebih dari terapi pelepas stress, bosan dan penat. Tapi menerima kenyataan diselingkuhi, rasanya seperti mendengar putusan bahwa kepala ini harus dipenggal oleh algojo. Apakah manusia itu memang makluk yang seegois ini? Tidak menimbang perasaan orang lain ketika melakukan suatu dosa, namun mau mati ketika hal yang sama dilakukan orang lain kepada kita. Jadi, apakah manusia yang seegois ini, atau cuma aku yang seegois ini?
“It’s okay, Rea. Makasih sudah mau jujur.” kataku, berusaha menjaga stabilitas suaraku. Aku harus menjaga tone suaraku agar tetap tenang, aku Mikael Sahesya Algero, histeris sama sekali bukan caraku. Aku menenggak habis segelas gin dan tonik di depanku.

Aku menyetir SUV lexus ku dengan kecepatan 120 km/jam di tol, sepulang mengantarkan Aurea ke apartemennya.
Tadi, Aurea masih mengecup bibirku. Cepat, pelan namun berkesan. Oh tuhan, aku bisa gila. Keinginan terbesarku memiliki Aurea, memeluknya dan menyayanginya justru hadir di saat paling tidak tepat, di saat ia habis memutuskanku karena telang having sex sama laki-laki lain. Selama ini ia perempuan yang baik, pacar yang bisa menempatkan diri dan jelas, undoubtfuly attractive. Kemana saja kamu ini, Mikael? Kenapa baru sekarang kamu menyadari kamu memiliki priceless woman seperti Aurea? She isn’t easy to find, one of a kind.Aku selama ini memang gila, benar-benar gila. Kenapa aku baru sadar bahwa dia terlalu berharga untuk dilewatkan dan dibiarkan?
Otakku terus memakiku, bereksplorasi liar mengangkat tiap kesalahanku, dan mengumbarnya ke permukaan. Aku sadar, aku benar-benar sadar. Semua ini salahku. Aku yang tidak pernah mau mendengarkan setiap cerita Aurea, aku yang tidak mau memberinya kejutan kecil, seperti kotak coklat dan bunga, sementara aku tahu ada ribuan lelaki di luar sana yang sudi mengirimkan berbuket-buket bunga di meja kerjanya. Bukannya aku tidak tahu, Aurea selalu komplain mengenai hal itu, aku mendengar hanya saja aku tidak mau mendengarnya. Aku egois. Aku memutuskan memilih Aurea sebagai pasanganku, tetapi aku tidak mengindahkan eksistensinya. Aku membuatnya transparan, padahal dia begitu nyata. Ia perempuan yang lihai dan cerdas, juga pandai menyesuaikan diri. Ia menemani ibuku berbelanja, mengajari Chacha memasak dan sering membawakanku makanan kesukaan.
Tidak akan ada yang sesempurna Aurea, tidak akan ada yang bisa.
Fakta yang menyakitkan tapi nyata, bahwa wanita yang berselingkuh memiliki power of attraction yang lebih besar daripada wanita yang menangis ketika diselingkuhi. Tantangan untuk memilikinya lebih besar, sehingga membuatku ingin berbalik, dan mengejarnya. Membuktikan pada dunia bahwa aku layak menaklukannya, dibandingkan dengan laki-laki bangsat yang telah tid.. brengsek!!!

Cherry
Aku mendengar suara langkah kaki memasuki kamar. Makin lama makin mendekat.
Aku menatap ke arah pintu, bersiap-siap menunggu siapa yang datang. Pintu dibuka, sosok laki-laki bertubuh tinggi masuk ke kamar, tanpa menyadari kehadiranku.
Mikael, dan ia menangis. Aku baru kali ini melihat ia menangis.
“Mikael..” ujarku.
Mikael tersentak kaget, menatapku, “Cherry, ngapain kamu disini?!” nada kalimatnya meninggi, ia melihatku seperti melihat setan.
Aku melangkah mendekati Mikael, “ Aku menunggu kamu daritadi. Kenapa kamu berhenti jadi konselorku?”
“Cherry, keluar.” ujar Mikael. Aku tersentak. Dia tidak pernah berbicara sedingin ini denganku. Selama ini, dia selalu ramah, sabar dan bersikap dewasa. Ia tidak pernah terdengar mengekspresikan emosi tertentu secara terang-terangan. Jelas saja reaksi seperti ini merupakan hal baru baginya, dan sangat mengagetkanku.
“Mikael, aku cuma ingin bicara.” paksaku, aku masih berjalan mendekati Mikael.
“Cherry, pergi!” bentak Mikael, kali ini aku mulai melihat ekspresi ketakutan di wajah Mikael. Ia tampak jelas sangat tidak ingin melihat wajahku. Rasanya sakit sekali meyadari betapa ia tampak membenciku. Perih. Rasanya, hatiku seperti diremas dengan cepat dan kuat.
“Mike, aku cuma ingin bicara..”
“Tidak sekarang, Cher.”
“Kalau begitu kapan?”
“Kapan-kapan. Cherry, tolong. Aku punya batas kesabaran. Pergi.”
“Mikael, kamu kasar.” ujarku, mengrenyitkan dahi, menatap Mikael penuh keheranan.
“Mike, cara bicaramu padaku bukan seperti cara bicara anak kecil lagi. Kenapa Mike? Apa kamu mulai sadar kalau kamu menganggapku wanita, Mike? Kamu selama ini cuma tidak sadar, Mike. Kamu menginginkan aku, Mike. Kamu lebih suka perempuan yang cerdas seperti aku, dibandingkan dengan perempuan manja seperti Aurea. ”
Mikael terlihat tak sabar, dia membuka pintu dengan kasar dan berteriak “NANI! Antar anak kecil ini keluar!”

Anak kecil? Mengapa ia tega sekali berkata begitu. Kenapa dia menyebutku anak kecil? Kenapa nada bicaranya kasar? Kenapa bahkan ia menyuruh orang lain menyeretku keluar dari kamarnya?
Tak lama, Nani menghambur masuk ke kamar, terlihat kebingungan, melihat konidisi tegang diantara kami berdua. Namun terkesiap karena dilirik tajam oleh Mikael. Nani nampak panik dan langsung meraih tanganku, berusaha mengajakku keluar kamar Mikael meskipun dengan cara halus.
Aku mencengkram kuat kayu pintu kamar Mikael, tidak mau ditarik keluar. Aku tidak suka dipaksa. Aku akan keluar, tapi tidak dengan cara dipaksa sperti ini Ini pelecehan harga diri. “Ayo dek, keluar.” ajak Nani yang makin panik karena terus dipelototi oleh Mikael. Mikael memilih untuk tidak menatap wajahku secara langsung. Dia benar-benar jahat.
Nani menarik tanganku, sehingga aku pun sedikit terseret. Cengkraman tanganku yang kuat pada pintu membuat ujung-ujung jariku tergores ujung serat kayu yang tidak rata. Berdarah.
Aku menatap Mikael dengan tatapan menuduh, “Jariku berdarah.”
“Itu karena ulahmu sendiri. Kalau kamu memang merasa dewasa, stop acting childish. Lepaskan tanganmu dari ditu, jangan menyakitu dirimu sendiri.” ujar Mikael dingin, tanpa mau menoleh ke arahku seidkit pun.


Aurea
“Rea.” sapa Alena, mendatangiku ketika aku sedang asyik menyimak timeline twitter di blackberry ku.
Aku tidak menjawab, hanya mendongakkan kepalaku ke atas, menatap ke wajah Alena, yang berias super elegan, she must pays with very a huge effort.
“Siapa pacar kamu sekarang?”tanya Alena Hafid, langsung tepat pada sasaran. Aku tahu cepat atau lambat ia akan melontarkan pertanyaan ini padaku,
“Mikael atau Hervan?”
Aku tertawa kecil, geli mendengar apa yang sudah aku prediksikan sebelumnya akhirnya terjadi juga.
“I’m asking you, Aurea.” Alena menekankan dengan gemas, jengkel melihat jawabanku yang terkesan kurang menghargai pertanyaannya. Wajahnya terbingkai senyuman, tetapi senyumannya berupa senyuman sarkatis.
“Memangnya kenapa?” tanyaku lagi, masih menyertakan ekspresi geliku.
“Karena semua Espumosas ingin tahu mengenai hal ini. Hervan dan Mikael kan satu circle of friends dengan kita. Kita cuma mewanti-wanti jangan sampai ada yang kelewat berani di sini.”
“Kelewat berani? Maksud kamu? Mungkin lebih tepatnya, laku. Well I think u guys should try to mind ur own business.”
Kalimat terakhirku membuat Alena terkesiap. Wajahnya yang semula diatur sedemikian rupa agar selalu jaga image langsung berubah jahat, “Laku? Kamu jualan?”
“Alena, bahasa kamu.. kurang elegan. Kalau orang yang tumbuh di lingkungan elit sejak kecil seharusnya bisa menjaga tata bahasa. ” ujarku dengan volume yang keras sehingga beberapa orang menoleh, sembari berdiri dari couch tempatku sedari tadi duduk, kemudian berjalan anggun kea rah pintu keluar dan Alena yang wajahnya memerah dan berdiri terpaku.
“Jangan pernah datang lagi ke espumosa gathering. Nama kamu dicoret.” Alena berkata keras, disambut banyak bisik-bisik para kupu-kupu espumosas.
Aku menoleh ke belakang, menatap lurus kea rah Alena sembari tersenyum manis,“Tidak perlu repot-repot. Kedatanganku ke sini sebenarnya dengan alasan mau pamit. Tidak butuh hidup diantara wanita high class seperti kalian, bukan level aku. I’m so middle class, like u always said.”

Cherry
Aku mendengar suara langkah kaki memasuki kamar. Makin lama makin mendekat.
Aku menatap ke arah pintu, bersiap-siap menunggu siapa yang datang. Pintu dibuka, sosok laki-laki bertubuh tinggi masuk ke kamar, tanpa menyadari kehadiranku.
Mikael, dan ia menangis. Aku baru kali ini melihat ia menangis.
“Mikael..” ujarku.
Mikael tersentak kaget, menatapku, “Cherry, ngapain kamu disini?!” nada kalimatnya meninggi, ia melihatku seperti melihat setan.
Aku melangkah mendekati Mikael, “ Aku menunggu kamu daritadi. Kenapa kamu berhenti jadi konselorku?”
“Cherry, keluar.” ujar Mikael. Aku tersentak. Dia tidak pernah berbicara sedingin ini denganku. Selama ini, dia selalu ramah, sabar dan bersikap dewasa. Ia tidak pernah terdengar mengekspresikan emosi tertentu secara terang-terangan. Jelas saja reaksi seperti ini merupakan hal baru baginya, dan sangat mengagetkanku.
“Mikael, aku cuma ingin bicara.” paksaku, aku masih berjalan mendekati Mikael.
“Cherry, pergi!” bentak Mikael, kali ini aku mulai melihat ekspresi ketakutan di wajah Mikael. Ia tampak jelas sangat tidak ingin melihat wajahku. Rasanya sakit sekali meyadari betapa ia tampak membenciku. Perih. Rasanya, hatiku seperti diremas dengan cepat dan kuat.
“Mike, aku cuma ingin bicara..”
“Tidak sekarang, Cher.”
“Kalau begitu kapan?”
“Kapan-kapan. Cherry, tolong. Aku punya batas kesabaran. Pergi.”
“Mikael, kamu kasar.” ujarku, mengrenyitkan dahi, menatap Mikael penuh keheranan.
“Mike, cara bicaramu padaku bukan seperti cara bicara anak kecil lagi. Kenapa Mike? Apa kamu mulai sadar kalau kamu menganggapku wanita, Mike? Kamu selama ini cuma tidak sadar, Mike. Kamu menginginkan aku, Mike. Kamu lebih suka perempuan yang cerdas seperti aku, dibandingkan dengan perempuan manja seperti Aurea. ”
Mikael terlihat tak sabar, dia membuka pintu dengan kasar dan berteriak “NANI! Antar anak kecil ini keluar!”

Anak kecil? Mengapa ia tega sekali berkata begitu. Kenapa dia menyebutku anak kecil? Kenapa nada bicaranya kasar? Kenapa bahkan ia menyuruh orang lain menyeretku keluar dari kamarnya?
Tak lama, Nani menghambur masuk ke kamar, terlihat kebingungan, melihat konidisi tegang diantara kami berdua. Namun terkesiap karena dilirik tajam oleh Mikael. Nani nampak panik dan langsung meraih tanganku, berusaha mengajakku keluar kamar Mikael meskipun dengan cara halus.
Aku mencengkram kuat kayu pintu kamar Mikael, tidak mau ditarik keluar. Aku tidak suka dipaksa. Aku akan keluar, tapi tidak dengan cara dipaksa sperti ini Ini pelecehan harga diri. “Ayo dek, keluar.” ajak Nani yang makin panik karena terus dipelototi oleh Mikael. Mikael memilih untuk tidak menatap wajahku secara langsung. Dia benar-benar jahat.
Nani menarik tanganku, sehingga aku pun sedikit terseret. Cengkraman tanganku yang kuat pada pintu membuat ujung-ujung jariku tergores ujung serat kayu yang tidak rata. Berdarah.
Aku menatap Mikael dengan tatapan menuduh, “Jariku berdarah.”
“Itu karena ulahmu sendiri. Kalau kamu memang merasa dewasa, stop acting childish. Lepaskan tanganmu dari ditu, jangan menyakiti dirimu sendiri.” ujar Mikael dingin, tanpa mau menoleh ke arahku seidkit pun.


Aurea
“Rea.” sapa Alena, mendatangiku ketika aku sedang asyik menyimak timeline twitter di blackberry ku.
Aku tidak menjawab, hanya mendongakkan kepalaku ke atas, menatap ke wajah Alena, yang berias super elegan, she must pays with very a huge effort.
“Siapa pacar kamu sekarang?”tanya Alena Hafid, langsung tepat pada sasaran. Aku tahu cepat atau lambat ia akan melontarkan pertanyaan ini padaku,
“Mikael atau Hervan?”
Aku tertawa kecil, geli mendengar apa yang sudah aku prediksikan sebelumnya akhirnya terjadi juga.
“I’m asking you, Aurea.” Alena menekankan dengan gemas, jengkel melihat jawabanku yang terkesan kurang menghargai pertanyaannya. Wajahnya terbingkai senyuman, tetapi senyumannya berupa senyuman sarkatis.
“Memangnya kenapa?” tanyaku lagi, masih menyertakan ekspresi geliku.
“Karena semua Espumosas ingin tahu mengenai hal ini. Hervan dan Mikael kan satu circle of friends dengan kita. Kita cuma mewanti-wanti jangan sampai ada yang kelewat berani di sini.”
“Kelewat berani? Maksud kamu? Mungkin lebih tepatnya, laku. Well I think u guys should try to mind ur own business.”
Kalimat terakhirku membuat Alena terkesiap. Wajahnya yang semula diatur sedemikian rupa agar selalu jaga image langsung berubah jahat, “Laku? Kamu jualan?”
“Alena, bahasa kamu.. kurang elegan. Kalau orang yang tumbuh di lingkungan elit sejak kecil seharusnya bisa menjaga tata bahasa. ” ujarku dengan volume yang keras sehingga beberapa orang menoleh, sembari berdiri dari couch tempatku sedari tadi duduk, kemudian berjalan anggun kea rah pintu keluar dan Alena yang wajahnya memerah dan berdiri terpaku.
“Jangan pernah datang lagi ke espumosa gathering. Nama kamu dicoret.” Alena berkata keras, disambut banyak bisik-bisik para kupu-kupu espumosas.
Aku menoleh ke belakang, menatap lurus ke arah Alena sembari tersenyum manis,“Tidak perlu repot-repot. Kedatanganku ke sini sebenarnya dengan alasan mau pamit. Tidak butuh hidup diantara wanita high class seperti kalian, bukan level aku. I’m so middle class, like u always said.”
Puas sekali rasanya habis berbicara sarkas terang-terangan. Biar cewek-cewek itu semua sadar, manholo bukan segalanya.



Cherry
Aku tidak tahu mengapa aku bisa memiliki kecenderungan skizofernia seperti ini. Seakan ada dogma di kepalaku yang membisikkan, ‘ini semua gara-gara Aurea’.
Aku tidak tahu, aku tidak bisa menyalahkan Mikael untuk semua ini. Di balik semua rasa kebencianku kepadanya, masih tersimpan besar harapan dan sayang. Berbeda dengan Aurea, dari awal aku sudah mengenalnya sebagai setan wanita. Keadaan diperparah ketika Mikael memperlakukanku seperti ini. Jelas, pasti ini gara-gara Aurea.
Aku benci Aurea frigida. Kondisi sadarku menyatakan dengan jelas; aku membencinya.
Aku benci melihat bentuk fisiknya, merasakan kehadirannya, atau bahkan menyadari bahwa dia ada, hidup dan bernafas dalam udara yang sama denganku.
Aku benci segala wujud kesempurnaan yang ia miliki. Aku benci kenyataan bahwa ia bisa memberi segala hal yang tidak bisa kuberikan ke Mikael. Aku benci mengingat tuhan menciptakan kondisi yang memungkinkan ia menikahi Mikael, sedangkan aku tidak. Makin lama pemikiran emosionil ini menjadi overdosis dan terlalu mendominasi otakku, sehingga aku tidak bisa berpikir jernih.
Mikael tidak pernah berbuat sekasar itu terhadapku. Mikael tidak pernah sengaja untuk menyakitiku. Ia tidak pernah sekalipun mengeluarkan kata tidak sopan terhadapku. Jadi bila ia menjadi seperti kemarin, pasti alasannya Aurea.
Aurea mengambil Mikael yang berupa segala-galanya dariku, sementara baginya Mikael mungkin hanya satu aspek pendukung kesempurnaan hidupnya. Kenapa harus Mikael yang dia sukai? Dia bisa memiliki semua laki-laki yang ia mau, tidak mungkin ada yang bakal menolak kemolekan tubuhnya dan kepiawaiannya berkomunikasi. Ia mungkin memilih Mikael karena masa depan Mikael yang terlihat cerah dan faktor keluarganya yang suportif bagi kesejahteraan mereka berdua jika kelak, uh, menikah. Dia tidak memilih Mikael karena dia menyukai cara Mikael tersenyum. Dia tidak memilih Mikael karena ia ingin membuat Mikael terus tertawa, atau karena sedikit tawa Mikael mampu mengubah harinya menjadi menyenangkan. Dia tidak menyukai Mikael karena ia suka mendengar impian kecil Mikael yang diceritakannya dengan mata polos seperti anak kecil.
Untuk alasan-alasan bodoh mengapa ia memilih Mikael, dia bisa menjadi seseorang yang dinikahi Mikael. Sementara bahkan untuk alasan rela mati demi Mikael pun, aku tidak akan bisa bangun di samping Mikael setiap hari.
Karena itulah, aku ingin membunuh Aurea Frigida.


Mikael
Aku tidak ingin melakukan apapun akhir-akhir ini. Aktivitas favoritku cuma tidur, dan menenggak martini sebanyak-banyaknya, kemudian tidur lagi.
Aku menginginkan Aurea Frigida seperti orang gila. Aurea Frigida adalah apa yang aku butuh dan aku inginkan. Jika ada dia, semuanya komplit dan sempurna. Aku tidak menginginkan yang lain selain Aurea.Baru kusadari, tidak ada yang kurang dari seorang Aurea. Dia sempurna, dan selalu mengerjakan segala sesuatu dengan sempurna. Aku yang terlalu naïf, untuk tidak menyadari betapa besar beruntungnya aku memilikinya.
Namun anehnya, tidak ada hal yang mendorongku untuk mengusahakannya. Mungkin itulah kesalahku selama ini, aku terlalu malas memperjuangkan apa yang sebenarnya saat penting bagiku.
Aku tahu saat ini seharusnya aku pergi ke toko bunga, memilih buket paling besar yang bisa dikirimkan ke rumahnya, menyertakan sebuah kartu ucapan hallmark dengan kata-kata romantis. Namun aku tidak melakukannya. Entah mengapa aku tidak melakukannya, aku sendiri tidak tahu alasannya.
Semakin hari aku semakin tidak produktif. Tentunya karena memikirkan Aurea, bukan memikirkan kesalahan gila yang kubuat di Jepang. Aku sudah tidak peduli soal Phedofilia Curiousity, aku tahu bahwa aku bukan pengidap kelainan itu. Cherry adalah anak luar biasa, jiwa dan otaknya bukan jiwa dan otak anak seumurannya. Apa yang terjadi di sana adalah kecelakaan, meskipun aku tidak yakin benar. Tapi alcohol selalu bisa dijadikan excuse. Aku menciumnya dalam keadaan mabuk. Setelah itu, mengingat proses kejadiannya saja aku merasa jijik. Apapun itu, semuanya tidaklah terlalu penting. Aku memilih untuk tidak mengingat-ingatkan karena terlalu menjijikkan untuk diingat.
Paling penting sekarang, adalah bagaimana aku bisa mengembalikan semua kondisi seperti dulu. Aku butuh Aurea, aku ingin Aurea.
Aku mengambil blackberryku, mencari blackberry messenger, aku berniat untuk mengiriminya pesan, entah dibalas atau tidak, aku hanya berharap dia mau membacanya,
Atau… tidak, aku akan meneleponnya, kemudian aku akan mengungkapkan bagaimana aku bisa gila hidup tanpa dia dan bagaimana aku menyesali semuanya,
Atau.. tidak, Mikael. Kamu perlu Efforts. Kamu harus mendatanginya, menyenangkannya dengan segala daya upaya yang bisa kamu lakukan. Time won’t wait, Mikael. Cukup sudah kamu jadi mahluk egois yang cuma mau menunggu, tanpa mau bergerak dari tempatmu dan berusaha.
Aku bangun dari tempat tidurku, serasa berminggu-minggu aku tidak meninggalkan kamar ini (atau memang sudah berminggu-minggu, aku bahkan tidak menyadari pergantian jam dan ahri akhir-akhir ini) , dan niatku di pagi hari ini membuatku serasa terbangun dari tidur panjang.